MerahPutih.com - Peringatan Maulid Nabi Muhammad SAW pada 25 Agustus 2026 menjadi momentum bagi umat Islam di berbagai daerah untuk mengenang kelahiran Nabi Muhammad SAW. Di Nusa Tenggara Timur (NTT), perayaan tersebut turut diwarnai tradisi Sripuan yang telah menjadi bagian dari kehidupan masyarakat Muslim setempat.
Tradisi Sripuan biasanya melibatkan berbagai elemen masyarakat. Ketika waktunya tiba, warga akan bergotong royong menyiapkan rangkaian acara, termasuk membentuk panitia yang bertugas mengatur prosesi perayaan.
Salah satu bagian yang paling menarik adalah arak-arakan. Prosesi tersebut dimulai dari rumah-rumah warga dan kemudian bergerak menuju masjid yang berada di perkampungan masing-masing.
Baca juga:
Kampung Islam Kepaon Bali Rayakan Maulid Nabi dengan Pawai hingga Megibung
Arak-arakan Gunungan dan Lantunan Salawat
Arak-arakan dilakukan secara bersama-sama sebagai bentuk kebersamaan dan rasa syukur dalam perayaan Maulid Nabi.
Warga biasanya tidak membawa perlengkapan khusus dalam perjalanan tersebut, namun mengikuti iring-iringan gunungan atau piramida yang dirangkai dari batang, kuncup bunga, aneka bunga, dan buah-buahan.
Selama perjalanan membawa gunungan, masyarakat melantunkan zikir dan doa-doa pujian salawat kepada Baginda Rasulullah.
Prosesi tersebut menjadi salah satu bagian penting dalam Tradisi Sripuan karena mempertemukan warga dalam suasana kebersamaan sekaligus menjadi bentuk penghormatan terhadap peringatan Maulid Nabi.
Baca juga:
Prosesi Ngarak Perahu Tradisi Memperingati Maulid Nabi Muhammad SAW
Tradisi Roda, Filosofi Kehidupan Manusia
Dalam perjalanan menuju masjid, terdapat rangkaian yang disebut Roda. Tradisi ini dilakukan oleh para remaja yang mengikuti arak-arakan.
Mereka membentuk lingkaran kecil sambil saling berpegangan tangan. Setelah itu, mereka bergerak dan berputar bersama-sama mengikuti perjalanan arak-arakan hingga tiba di masjid.
Roda bukan sekadar tarian atau hiburan. Tradisi tersebut memiliki filosofi mengenai kehidupan manusia yang diibaratkan seperti roda yang terus berputar.
Ada kalanya seseorang berada di atas, tetapi ada pula saat berada di bawah.
Filosofi tersebut menjadi pengingat agar masyarakat tetap bersyukur ketika mendapatkan keberhasilan dan tidak melupakan diri ketika berada dalam keadaan baik.
Baca juga:
Maulid Nabi Muhammad SAW 2026: 26 Prompt Poster AI Beserta Ucapan Siap Pakai
Puncak Tradisi Sripuan dengan Ashrakkal
Setibanya di masjid, rangkaian Tradisi Sripuan memasuki acara puncak, yakni Ashrakkal.
Setelah Ashrakkal, masyarakat kemudian melanjutkan kegiatan dengan doa bersama. Rangkaian tersebut menjadi penutup kegiatan sebelum warga kemudian membagikan buah-buahan kepada masyarakat.
Tradisi Sripuan pun bukan sekadar perayaan Maulid Nabi.
Di dalamnya terdapat nilai kebersamaan, gotong royong, rasa syukur, serta penghormatan terhadap ajaran dan keteladanan Nabi Muhammad SAW. (Tka)