110 Ribu Warga Masih Mengungsi akibat Gempa NTT, Ancaman Penyakit Mulai Mengintai

Soffi AmiraSoffi Amira - Selasa, 25 Agustus 2026
110 Ribu Warga Masih Mengungsi akibat Gempa NTT, Ancaman Penyakit Mulai Mengintai

Korban gempa NTT. Foto: Dok. Polri

Ukuran text:
14
Dengarkan Berita:

MerahPutih.com - Ancaman masalah kesehatan mulai menjadi perhatian serius di tengah lebih dari 110 ribu warga yang masih tinggal di lokasi pengungsian akibat gempa magnitudo 7,7 yang mengguncang Nusa Tenggara Timur (NTT).

Para penyintas tidak hanya menghadapi ancaman gempa susulan dan kerusakan tempat tinggal.

Kondisi pengungsian yang padat, keterbatasan air bersih serta fasilitas sanitasi yang belum memadai juga berpotensi memicu berbagai penyakit.

Baca juga:

Enam Pesawat TNI AU Angkut 31 Ton Logistik dan 500 Pompa Air ke NTT-Kalimantan

Sebanyak 110.785 Warga NTT Masih Berada di Pengungsian

Data BNPB hingga Jumat (21/8) pukul 16.00 WIB mencatat, bahwa 110.785 warga masih berada di pengungsian.

Gempa yang terjadi pada Sabtu (15/8) tersebut menyebabkan 83 orang meninggal dunia, 986 orang mengalami luka-luka, dan 45.006 rumah mengalami kerusakan.

Aktivitas seismik juga masih berlangsung. BNPB mencatat telah terjadi 4.258 gempa susulan, dengan kekuatan terbesar mencapai magnitudo 6,2.

Kementerian Kesehatan mengingatkan bahwa situasi di tempat pengungsian dapat meningkatkan potensi penularan penyakit.

Beberapa gangguan kesehatan yang perlu diantisipasi antara lain infeksi saluran pernapasan akut (ISPA), diare dan infeksi kulit.

Baca juga:

Langkah Pengiriman Logistik ke Daerah Bencana NTT dan Karhutla, Pemerintah Pastikan Warga Terdampak Tidak Berjalan Sendiri

Kondisi tersebut berkaitan dengan banyaknya warga yang tinggal dalam satu kawasan, sanitasi yang terbatas serta lingkungan pengungsian yang belum sepenuhnya ideal.

ISPA menjadi salah satu risiko yang perlu mendapat perhatian. Interaksi yang intensif antarpengungsi dapat mempermudah penyebaran penyakit, terutama di dalam tenda atau ruangan dengan sirkulasi udara yang kurang baik.

Gejala seperti batuk, pilek, demam dan gangguan pernapasan perlu dipantau. Warga yang mengalami gejala semakin berat disarankan segera mendapatkan pemeriksaan medis.

Risiko lain muncul dari keterbatasan air bersih. Kondisi ini dapat menyulitkan warga menjaga kebersihan tangan, makanan maupun peralatan makan sehingga meningkatkan kemungkinan terjadinya diare dan gangguan pencernaan.

BNPB mengatakan, pemenuhan kebutuhan air bersih terus diperkuat di sejumlah wilayah terdampak, termasuk Ende, Nagekeo dan Sikka.

Keamanan makanan juga tidak kalah penting. Makanan yang dibiarkan terlalu lama, tidak tertutup atau terpapar debu dan lalat berisiko menjadi sumber penyakit.

Ancaman Penyakit Intai Pengungsi Gempa di NTT

Sementara itu, warga yang telah berhari-hari tinggal di pengungsian dengan akses mandi dan air bersih terbatas juga rentan mengalami gangguan pada kulit.

Gatal, ruam, kemerahan atau luka yang semakin parah perlu segera diperiksakan, terlebih jika disertai demam.

Perhatian khusus juga diperlukan bagi kelompok rentan seperti bayi, balita, ibu hamil, lansia dan penyandang disabilitas.

Warga yang memiliki penyakit kronis juga harus tetap mendapatkan obat dan perawatan rutin selama berada di pengungsian.

Kondisi pascabencana juga dapat memengaruhi kesehatan mental para penyintas. Kehilangan rumah, anggota keluarga serta rasa aman dapat memicu kecemasan, sulit tidur, ketakutan berlebihan hingga perubahan perilaku, terutama pada anak-anak.

Demi mengantisipasi masalah kesehatan, pos-pos pelayanan kesehatan telah dioperasikan di sejumlah titik pengungsian.

Baca juga:

Kemenkes Dirikan 2 RS Lapangan Tangani Korban Gempa NTT, Stok Obat Cukup Dalam 5 Hari

Salah satunya di Desa Pota, Kecamatan Sambi Rampas, yang dilaporkan melayani sekitar 90 hingga 120 pasien setiap hari.

Dukungan pelayanan medis juga diperkuat melalui KRI Suharso 990 yang memiliki kemampuan operasional dan fasilitas perawatan dengan kapasitas hingga 75 pasien.

Warga diimbau tidak menunda pemeriksaan apabila mengalami demam tinggi, sesak napas, diare berulang, muntah terus-menerus maupun gangguan kulit yang semakin parah.

Melihat jumlah pengungsi yang masih mencapai lebih dari 110 ribu orang, upaya menjaga kebersihan, memastikan ketersediaan air bersih dan memperkuat pelayanan kesehatan menjadi bagian penting dari penanganan pascagempa.

Langkah pencegahan tersebut diperlukan agar kondisi darurat akibat gempa tidak berlanjut menjadi persoalan kesehatan yang lebih besar di tengah masyarakat. (knu)

#Gempa Bumi #NTT #Penyakit #Bencana Alam
Google
Tambahkan Merahputih.com Sebagai Sumber Utama di Google untuk Dapatkan Berita Eksklusif.
Tambahkan Sekarang
Bagikan

Berita Terkait

Indonesia
110 Ribu Warga Masih Mengungsi akibat Gempa NTT, Ancaman Penyakit Mulai Mengintai
Sebanyak 110 ribu pengungsi gempa di NTT kini terancam terkena penyakit. Air bersih dan sanitasi pun terbatas.
Soffi Amira - Selasa, 25 Agustus 2026
110 Ribu Warga Masih Mengungsi akibat Gempa NTT, Ancaman Penyakit Mulai Mengintai
Merah Putih Kasih
Cerita dari Nagekeo: Saat Bantuan JHL Foundation Jadi Pelita di Tengah Bayang-Bayang Trauma
Kisah haru Suster Maria Imakulata di Nagekeo NTT menerima bantuan gempa dari JHL Foundation. Penyaluran logistik ini jadi penguat moral di tengah trauma bencana
Angga Yudha Pratama - Selasa, 25 Agustus 2026
Cerita dari Nagekeo: Saat Bantuan JHL Foundation Jadi Pelita di Tengah Bayang-Bayang Trauma
Merah Putih Kasih
Aksi Nyata JHL Foundation Jadi Berkat Bagi Umat Gereja Katolik Malaikat Agung Gabriel Kamubheka Ende
Umat di wilayah tersebut masih menghadapi berbagai kebutuhan setelah gempa
Angga Yudha Pratama - Selasa, 25 Agustus 2026
Aksi Nyata JHL Foundation Jadi Berkat Bagi Umat Gereja Katolik Malaikat Agung Gabriel Kamubheka Ende
Tradisi
Tradisi Sripuan Warnai Maulid Nabi di NTT, Ada Arak-arakan Gunungan hingga Roda
Tradisi Sripuan menjadi bagian dari perayaan Maulid Nabi di NTT. Warga menggelar arak-arakan gunungan, tradisi Roda, Ashrakkal, hingga doa bersama.
Ananda Dimas Prasetya - Senin, 24 Agustus 2026
Tradisi Sripuan Warnai Maulid Nabi di NTT, Ada Arak-arakan Gunungan hingga Roda
Merah Putih Kasih
Bantuan JHL Foundation Jangkau Warga Desa Terisolasi Anakoli Wolowaeo Nagekeo
Bagi wraga, bantuan ini sangat berarti karena Desa Anakoli merupakan wilayah yang relatif sulit dijangkau
Dwi Astarini - Senin, 24 Agustus 2026
Bantuan JHL Foundation Jangkau Warga Desa Terisolasi Anakoli Wolowaeo Nagekeo
Berita Foto
Momen JHL Foundation Menembus Kampung-Kampung di Ruteng, Manggarai
Tim JHL Foundation menyerahkan bantuan kepada warga di Kecamatan Ruteng, Kabupaten Manggarai, Senin (24/8/2026).
Didik Setiawan - Senin, 24 Agustus 2026
Momen JHL Foundation Menembus Kampung-Kampung di Ruteng, Manggarai
Merah Putih Kasih
Hari Keempat, JHL Foundation Menembus Kampung-Kampung di Manggarai
Bukan sekadar mengantar logistik, tim datang menemui warga, mendengar cerita mereka, dan memastikan bantuan benar-benar sampai kepada yang membutuhkan.
Dwi Astarini - Senin, 24 Agustus 2026
Hari Keempat, JHL Foundation Menembus Kampung-Kampung di Manggarai
Indonesia
Langkah Pengiriman Logistik ke Daerah Bencana NTT dan Karhutla, Pemerintah Pastikan Warga Terdampak Tidak Berjalan Sendiri
Badan Nasional Penanggulangan Bencana mengumumkan hingga Minggu (23/8) total jumlah korban jiwa akibat gempa bumi yang menimpa Nusa Tenggara Timur (NTT) mencapai 91 jiwa.
Alwan Ridha Ramdani - Senin, 24 Agustus 2026
Langkah Pengiriman Logistik ke Daerah Bencana NTT dan Karhutla, Pemerintah Pastikan Warga Terdampak Tidak Berjalan Sendiri
Indonesia
Pariwisata Labuan Bajo Berangsur Pulih Usai Gempa, Taman Nasional Komodo Tetap Buka
Aktivitas pariwisata di Labuan Bajo, Nusa Tenggara Timur (NTT), berangsur kembali normal setelah wilayah tersebut diguncang gempa.
Yusuf Abdillah - Senin, 24 Agustus 2026
Pariwisata Labuan Bajo Berangsur Pulih Usai Gempa, Taman Nasional Komodo Tetap Buka
Indonesia
Kemenkes Dirikan 2 RS Lapangan Tangani Korban Gempa NTT, Stok Obat Cukup Dalam 5 Hari
Total jumlah korban jiwa akibat gempa bumi yang menimpa Nusa Tenggara Timur (NTT) mencapai 91 jiwa.
Alwan Ridha Ramdani - Senin, 24 Agustus 2026
Kemenkes Dirikan 2 RS Lapangan Tangani Korban Gempa NTT, Stok Obat Cukup Dalam 5 Hari
Bagikan