MerahPutih.com - Ancaman masalah kesehatan mulai menjadi perhatian serius di tengah lebih dari 110 ribu warga yang masih tinggal di lokasi pengungsian akibat gempa magnitudo 7,7 yang mengguncang Nusa Tenggara Timur (NTT).
Para penyintas tidak hanya menghadapi ancaman gempa susulan dan kerusakan tempat tinggal.
Kondisi pengungsian yang padat, keterbatasan air bersih serta fasilitas sanitasi yang belum memadai juga berpotensi memicu berbagai penyakit.
Baca juga:
Enam Pesawat TNI AU Angkut 31 Ton Logistik dan 500 Pompa Air ke NTT-Kalimantan
Sebanyak 110.785 Warga NTT Masih Berada di Pengungsian
Data BNPB hingga Jumat (21/8) pukul 16.00 WIB mencatat, bahwa 110.785 warga masih berada di pengungsian.
Gempa yang terjadi pada Sabtu (15/8) tersebut menyebabkan 83 orang meninggal dunia, 986 orang mengalami luka-luka, dan 45.006 rumah mengalami kerusakan.
Aktivitas seismik juga masih berlangsung. BNPB mencatat telah terjadi 4.258 gempa susulan, dengan kekuatan terbesar mencapai magnitudo 6,2.
Kementerian Kesehatan mengingatkan bahwa situasi di tempat pengungsian dapat meningkatkan potensi penularan penyakit.
Beberapa gangguan kesehatan yang perlu diantisipasi antara lain infeksi saluran pernapasan akut (ISPA), diare dan infeksi kulit.
Baca juga:
Kondisi tersebut berkaitan dengan banyaknya warga yang tinggal dalam satu kawasan, sanitasi yang terbatas serta lingkungan pengungsian yang belum sepenuhnya ideal.
ISPA menjadi salah satu risiko yang perlu mendapat perhatian. Interaksi yang intensif antarpengungsi dapat mempermudah penyebaran penyakit, terutama di dalam tenda atau ruangan dengan sirkulasi udara yang kurang baik.
Gejala seperti batuk, pilek, demam dan gangguan pernapasan perlu dipantau. Warga yang mengalami gejala semakin berat disarankan segera mendapatkan pemeriksaan medis.
Risiko lain muncul dari keterbatasan air bersih. Kondisi ini dapat menyulitkan warga menjaga kebersihan tangan, makanan maupun peralatan makan sehingga meningkatkan kemungkinan terjadinya diare dan gangguan pencernaan.
BNPB mengatakan, pemenuhan kebutuhan air bersih terus diperkuat di sejumlah wilayah terdampak, termasuk Ende, Nagekeo dan Sikka.
Keamanan makanan juga tidak kalah penting. Makanan yang dibiarkan terlalu lama, tidak tertutup atau terpapar debu dan lalat berisiko menjadi sumber penyakit.
Ancaman Penyakit Intai Pengungsi Gempa di NTT
Sementara itu, warga yang telah berhari-hari tinggal di pengungsian dengan akses mandi dan air bersih terbatas juga rentan mengalami gangguan pada kulit.
Gatal, ruam, kemerahan atau luka yang semakin parah perlu segera diperiksakan, terlebih jika disertai demam.
Perhatian khusus juga diperlukan bagi kelompok rentan seperti bayi, balita, ibu hamil, lansia dan penyandang disabilitas.
Warga yang memiliki penyakit kronis juga harus tetap mendapatkan obat dan perawatan rutin selama berada di pengungsian.
Kondisi pascabencana juga dapat memengaruhi kesehatan mental para penyintas. Kehilangan rumah, anggota keluarga serta rasa aman dapat memicu kecemasan, sulit tidur, ketakutan berlebihan hingga perubahan perilaku, terutama pada anak-anak.
Demi mengantisipasi masalah kesehatan, pos-pos pelayanan kesehatan telah dioperasikan di sejumlah titik pengungsian.
Baca juga:
Kemenkes Dirikan 2 RS Lapangan Tangani Korban Gempa NTT, Stok Obat Cukup Dalam 5 Hari
Salah satunya di Desa Pota, Kecamatan Sambi Rampas, yang dilaporkan melayani sekitar 90 hingga 120 pasien setiap hari.
Dukungan pelayanan medis juga diperkuat melalui KRI Suharso 990 yang memiliki kemampuan operasional dan fasilitas perawatan dengan kapasitas hingga 75 pasien.
Warga diimbau tidak menunda pemeriksaan apabila mengalami demam tinggi, sesak napas, diare berulang, muntah terus-menerus maupun gangguan kulit yang semakin parah.
Melihat jumlah pengungsi yang masih mencapai lebih dari 110 ribu orang, upaya menjaga kebersihan, memastikan ketersediaan air bersih dan memperkuat pelayanan kesehatan menjadi bagian penting dari penanganan pascagempa.
Langkah pencegahan tersebut diperlukan agar kondisi darurat akibat gempa tidak berlanjut menjadi persoalan kesehatan yang lebih besar di tengah masyarakat. (knu)