Desain APK Pemilu Indonesia, Dari Kalimat Puitis Sampai Gaya Kartunis

Hendaru Tri HanggoroHendaru Tri Hanggoro - Selasa, 02 Januari 2024
Desain APK Pemilu Indonesia, Dari Kalimat Puitis Sampai Gaya Kartunis

Spanduk Eriko memenuhi berbagai sudut Jakarta Selatan dan Jakarta Pusat. (Foto: Merahputih.com/Hendaru Tri Hanggoro)

Ukuran text:
14
Dengarkan Berita:

"SANTUN, Tidak Korupsi, Sudah Pasti". Begitu tulisan yang tersua dalam alat peraga kampanye (APK) calon legislatif Eriko Sotarduga dari Partai Demokrasi Indonesia Perjuangan (PDIP) di Jakarta Selatan.

Pesan itu juga dilengkapi wajah karikatural Eriko. Eriko naik bajaj biru bersama Ganjar Pranowo dan Mahfud MD, Capres dan Cawapres PDIP.

Desain spanduk Eriko tampak lain bila dibandingkan mayoritas desain caleg yang masih menggunakan pakem lama: wajah tersenyum cerah seolah mampu memberikan masa depan terang bagi pemilihnya, deretan gigi rapi yang mungkin hasil editing Photoshop, pakaian necis, dan atribut keagamaan atau kebangsaan.

APK spanduk karikatural Eriko punya banyak versi. Ada yang versi detektif, pesepeda gunung, pesilat Betawi, penyanyi, pemain tanjidor (alat musik Betawi), dan orang Jawa yang mengenakan blangkon.

Merahputih.com mencoba menghubungi tim Eriko untuk menanyakan ide di balik desain itu. Namun, hingga artikel ini tayang, belum ada tanggapan dari tim Eriko.

Spanduk Eriko memenuhi berbagai ruang di Jakarta Selatan dan Jakarta Pusat. Ia bersaingan dengan spanduk rekan separtainya, Masinton Pasaribu.

Saking banyaknya APK dua caleg itu, seorang warganet berakun @numpangngobrol di X membuat celetukan jenaka. "Masinton Pasaribu dan Eriko Sotarduga kayaknya bukan nyapres, tapi jadi patokan jalan."

Baca juga:

Asal-Usul Disinformasi dan Hoaks Pemilu Indonesia

Penerapannya seperti ini. Bayangkan situasi ketika seseorang bertanya ke orang lain tentang suatu tempat.

"Permisi, Pak, boleh tanya tempat A di mana?"

"O, ini kamu lurus saja, setelah ketemu empat spanduk Eriko, belok kiri."

Tiap pemilu, sejak sistem proporsional terbuka diberlakukan pada Pemilu 2004, caleg mulai berkampanye lewat APK dengan foto dirinya. Hingga bikin bosan banyak orang.

Sudah desainnya membosankan, peletakan APK-nya pun sembarangan. Ada sebutan untuk aktivitas macam ini: sampah visual.

Azka Abdi Amrurobbi dalam "Problematika Sampah Visual Media Luar Ruang: Tinjauan Regulasi Kampanye Pemilu dan Pilkada" mengartikan sampah visual sebagai "Sebuah aktivitas kampanye yang dilakukan oleh kandidat, pasangan calon, atau tim kampanye dengan cara pemasangan iklan ataupun promosi baik berupa poster, baliho, dan bentuk lainnya yang dipasang secara berlebihan."

Meski banyak yang menjadi sampah visual, beberapa desain dan muatan APK dapat pula menjadi catatan atau dokumen sejarah untuk menggambarkan suasana zaman ketika pemilu berlangsung.

Dalam Pemilu 1955, pemilu pertama di Indonesia untuk memilih anggota Parlemen dan Dewan Konstituante (pembuat UUD baru), tak ada caleg yang mempromosikan diri lewat APK.

Sebab, pemilu kala itu menggunakan sistem proporsional tertutup. Sistem ini memberikan partai politik kendali yang kuat untuk menentukan caleg.

Dalam sistem ini, pemilih tak perlu mencoblos para caleg parpol. Parpollah yang menentukan siapa caleg yang akan mewakili parpol sesuai urutan internal di parpol.

"Partai organisasi, 'perkumpulan pemilih', dan perorangan berhak mengajukan diri sebagai calon anggota Parlemen dan Konstituante, tetapi setiap calon harus didukung dengan tanda-tangan pemilih yang terdaftar, 200 tanda tangan untuk calon pertama dalam suatu daftar dan 25 untuk setiap calon lainnya," terang Herbert Feith dalam Pemilihan Umum 1955.

pilpres pemilu apk alat peraga kampanye
Tiga parpol berbagi pesan dalam satu APK dalam Pemilu 1955. (Foto: Repro buku Pemilu dalam Poster)

Karena peran parpol yang dominan dalam menentukan caleg, maka materi kampanye lebih berat kepada program parpol ketimbang calegnya. Begitu pula dengan muatan APK pemilu kala itu. Parpollah yang justru mengampanyekan calegnya, bukan sebaliknya.

"Tokoh-tokoh partai, yang dipilih untuk ditonjolkan dalam kampanye, mengikuti urutan nama mereka dalam daftar calon untuk masing-masing daerah pemilihan... partai-partai menempatkan pemimpin tunggal pada tempat teratas dalam daftar calon... menonjolkan pribadi pemimpin yang bersangkutan," tambah Feith.

Tiap parpol harus mempunyai tanda gambar masing-masing untuk membedakan dari parpol lainnya. Lantaran 80 persen rakyat Indonesia masih buta huruf latin, desain APK pun memberi ruang lebih pada tanda gambar ketimbang pesan-pesan tulisan.

Tanda gambar itu dipasang di jalan-jalan kota dan desa, rumah-rumah pribadi, bangunan umum, bus-bus, pohon-pohon, iklan-iklan di bioskop, kalender, dan lampu-lampu desa.

"Sangat banyak papan peraga terbuat dari besi pelat dengan ukuran dan isi yang seragam--jelas buatan pabrik," sebut Feith.

Dalam urusan jor-joran APK, Partai Komunis Indonesia tercatat sebagai partai paling giat. Mereka memanfaatkan apa saja untuk memperagakan tanda gambarnya. Mulai dari layang-layang hingga dekor panggung pertunjukan desa.

Masyumi, partai lainnya, tak mau kalah. Mereka juga berupaya sekreatif mungkin memperagakan tanda gambarnya. "Tetapi masih kalah kreatif dibandingkan dengan Partai Komunis," beber Feith.

Baca juga:

TikTok Rilis Kampanye Lawan Misinformasi Jelang Pemilu 2024

Partai Nasional Indonesia (PNI) dan NU hanya sedikit menggunakan papan iklan untuk memperagakan tanda gambarnya. Mereka membagikan lebih banyak kartu-kartu tanda gambar kepada warga.

Desain APK Pemilu 1955 cukup sederhana. Hanya berupa tanda gambar partai dan pesan tulisan di samping atau bawahnya. Beberapa APK punya pesan tulisan yang panjang. Sejumlah APK lain justru punya pesan tulisan yang singkat.

Yang unik, ada tiga parpol yang berbagi pesan dalam satu APK. Mereka adalah PNI Front Marhaenis, PKI, dan Gerakan Pembela Pantjasila. Masing-masing mereka mengusung caleg perempuan: Surjohadi (PNI Front Marhaenis), S.D. Susanto (PKI), dan Sahir (Gerakan Pembela Pantjasila).

Dalam APK itu, tersua tanda gambar tiga partai tersebut. Pesannya dalam bahasa Jawa. Singkat dan padat.

"Pembela Nasib Kaum Wanita Milih salah sidji tanda gambar ing nduwur iku tegase milih wakile para wanita kang sedjati (memilih salah satu tanda gambar di atas berarti memilih wakilnya perempuan sejati).

"Semangat untuk memperjuangkan harkat dan martabat kaum perempuan tidak dapat dihalangi oleh sekat-sekat ideologi," tulis Mudanto Pamungkas dalam Naskah Sumber Arsip Jejak Demokrasi Pemilu 1955.

apk pemilu pilpres
Kalimat-kalimat pendek yang puitis dan tepat digunakan akan sangat mudah untuk diingat. (Foto: Repro buku Pemilu dalam Poster)

Dalam pemilu masa Orde Baru, Pemilu 1982 misalnya, desain dan materi APK belum banyak berubah. Masih didominasi tanda gambar tiga partai peserta pemilu (Golkar, PPP/Partai Persatuan Pembangunan, dan PDI/Partai Demokrasi Indonesia) dengan pesan tulisan. Namun, dari segi keragaman visual dan pesan tulisan agak sedikit berbeda dari pemilu sebelumnya.

"Kalimat-kalimat pendek yang puitis dan tepat digunakan akan sangat mudah untuk diingat," tulis Arief Budiman dkk dalam Pemilu dalam Poster.

Kalimat-kalimat itu antara lain "Golkar Menang, Rakyat Senang, Bekerja Riang Ibadat Tenang", "Biar Disumpah aku tetap milih Ka'bah", dan "Biar Gepeng tetap Banteng". Ka'bah dan Banteng adalah lambang PPP dan PDI, sedangkan pohon beringin lambang Golkar.

Penggunaan figur dari tokoh panutan juga mulai marak. "Beberapa tokoh wayang seperti Gatotkaca, Punokawan, dan lain-lain sering digunakan sebagai simbol pengungkapan pesan," urai Arief Budiman dkk.

Sejak 2004, sistem pemilu Indonesia berubah, dari proporsional tertutup ke proporsional terbuka. Parpol memang masih menentukan calegnya masing-masing, tetapi pemilih berhak mencoblos sendiri caleg pilihannya. Kertas suara pun memuat daftar nama caleg tiap parpol.

Sejak itulah caleg berlomba-lomba bersolek memoles dirinya dengan beragam citra. Dari yang agamis, merakyat, antikorupsi, nasionalis, sampai yang ngartis. (dru)

Baca juga:

Kisah Para Pemasang Alat Peraga Kampanye Pemilu

#Pemiluria #Pemilu #Pilpres
Google
Tambahkan Merahputih.com Sebagai Sumber Utama di Google untuk Dapatkan Berita Eksklusif.
Tambahkan Sekarang
Bagikan

Hendaru Tri Hanggoro

Berkarier sebagai jurnalis sejak 2010 dan bertungkus-lumus dengan tema budaya populer, sejarah Indonesia, serta gaya hidup. Menekuni jurnalisme naratif, in-depth, dan feature. Menjadi narasumber di beberapa seminar kesejarahan dan pelatihan jurnalistik yang diselenggarakan lembaga pemerintah dan swasta.
Show More

Berita Terkait

Indonesia
Legislator Golkar Komentari Usul Dapil Nasional: Menarik, tapi jangan Bikin Bingung
Sistem tersebut menarik karena partai politik memiliki peran dalam menentukan calon yang memperoleh mandat rakyat.
Dwi Astarini - Rabu, 23 September 2026
Legislator Golkar Komentari Usul Dapil Nasional: Menarik, tapi jangan Bikin Bingung
Indonesia
Punya 2 Juta Suara Terbuang, Demokrat Usul Dapil Nasional
Pembahasan mengenai mekanisme tersebut, masih terus dilakukan id antara partai politik sebagai bagian dari penyusunan revisi Undang-Undang Pemilu.
Alwan Ridha Ramdani - Rabu, 23 September 2026
Punya 2 Juta Suara Terbuang, Demokrat Usul Dapil Nasional
Indonesia
Puan Pastikan Kenaikan Ambang Batas Parlemen dan Pilpres Masih Wacana
Wacana-wacana itu masih merupakan perbincangan di antara partai politik dan belum masuk tahapan pembahasan di DPR RI.
Alwan Ridha Ramdani - Selasa, 22 September 2026
Puan Pastikan Kenaikan Ambang Batas Parlemen dan Pilpres Masih Wacana
Indonesia
PDIP Tunggu Naskah Akademik Capres-Cawapres Harus Diusung 2 Fraksi DPR
Deddy meminta pembahasan mengenai mekanisme tersebut dilakukan setelah dokumen resmi revisi UU Pemilu tersedia.
Alwan Ridha Ramdani - Senin, 21 September 2026
PDIP Tunggu Naskah Akademik Capres-Cawapres Harus Diusung 2 Fraksi DPR
Indonesia
PDIP Buka Opsi Parliamentary Threshold 5-7 Persen untuk Efektivitas Kerja Parlemen
Penaikan PT diperlukan untuk mendorong efektivitas kerja parlemen.
Dwi Astarini - Minggu, 20 September 2026
PDIP Buka Opsi Parliamentary Threshold 5-7 Persen untuk Efektivitas Kerja Parlemen
Indonesia
Demokrat Usul Dapil Nasional di Tengah Wacana Parliamentary Threshold 7 Persen
Demokrat lebih menyoroti potensi banyaknya suara rakyat yang hangus akibat penerapan PT.
Dwi Astarini - Minggu, 20 September 2026
Demokrat Usul Dapil Nasional di Tengah Wacana Parliamentary Threshold 7 Persen
Indonesia
Ketum Partai Disebut Sepakat Ambang Batas Parlemen 4 Sampai 5 Persen.
Komisi II DPR juga tetap memperhatikan sejumlah putusan Mahkamah Konstitusi (MK) soal pemilu hingga masukan-masukan dari akademisi dan masyarakat sipil.
Alwan Ridha Ramdani - Selasa, 15 September 2026
Ketum Partai Disebut Sepakat Ambang Batas Parlemen 4 Sampai 5 Persen.
Dunia
Partai Kanan Ekstrem Alternatif Jerman Menang Besar di Negara Bagian, Bersiap Tarung di Pemilu Federal
Seusai menang besar dalam pemilu di negara bagian Sachsen-Anhalt, Jerman bagian timur, partai kanan ekstrem Alternatif untuk Jerman (Alternative Fur Deutschland/AfD) kini mengincar kemenangan dalam pemilu federal.
Alwan Ridha Ramdani - Selasa, 08 September 2026
Partai Kanan Ekstrem Alternatif Jerman Menang Besar di Negara Bagian, Bersiap Tarung di Pemilu Federal
Indonesia
Kaesang Pangarep Resmi Masuk 'Kandang Banteng' Pada Pemilu 2029, Siap Bersaing dengan Puan Maharani
Bahkan kawasan kerap mendapatkan julukan sebagai daerah pemilihan terketat mengingat keberadaan sejumlah figur politisi berbobot tinggi
Angga Yudha Pratama - Senin, 27 Juli 2026
Kaesang Pangarep Resmi Masuk 'Kandang Banteng' Pada Pemilu 2029, Siap Bersaing dengan Puan Maharani
Indonesia
DPR Ngaku Mulai Berkeliling Serap Aspirasi RUU Pemilu Saat Masa Reses
Ada empat pilar utama yang mendesak dimasukkan dalam revisi Undang-Undang Pemilu yang saat ini sedang dilakukan Dewan Perwakilan Rakyat (DPR) RI.
Alwan Ridha Ramdani - Selasa, 21 Juli 2026
DPR Ngaku Mulai Berkeliling Serap Aspirasi RUU Pemilu Saat Masa Reses
Bagikan