MerahPutih.com - Filipina menjadi negara pertama di dunia yang menetapkan status darurat energi nasional imbas konflik antara Amerika Serikat-Israel melawan Iran.
"Deklarasi keadaan darurat energi nasional akan memungkinkan pemerintah untuk menerapkan langkah-langkah responsif dan terkoordinasi berdasarkan undang-undang yang ada untuk mengatasi risiko yang ditimbulkan oleh gangguan dalam pasokan energi global dan ekonomi domestik," kata Presiden Filipina Ferdinand Marcos Jr dalam keterangannya dikutip Rabu (25/3).
Baca juga:
Krisis Energi Selat Hormuz, Filipina Negara Pertama Tetapkan Status Darurat Nasional
Strategi Borong BBM dan Stabilitas Ekonomi
Marcos Jr. menegaskan deklarasi status darurat energi nasional ini berlaku selama satu tahun. Presiden juga mengarahkan Kementerian Keuangan untuk berkoordinasi dengan bank sentral Filipina guna memantau secara cermat dampak konflik Timur Tengah terhadap peso Filipina, pengiriman uang, termasuk risiko depresiasi peso.
Deklarasi itu akan berlaku selama satu tahun sehingga memberi wewenang kepada pemerintah untuk membeli bahan bakar dan produk minyak bumi lebih banyak guna memastikan pasokan tepat waktu dan mencukupi. Jika perlu, pembayaran dilakukan sebagian dari jumlah kontrak di muka.
Pernyataan darurat memberi lampu hijau bagi implementasi pendekatan menyeluruh di tingkat pemerintah pusat. Dengan demikian, otoritas Filipina dapat memobilisasi sumber daya secara lebih efektif, mengatur distribusi bahan bakar, dan menerapkan program bantuan tepat sasaran bagi kelompok terdampak.
Baca juga:
Filipina Nyatakan Darurat Energi akibat Konflik Iran, Harga BBM telah Meningkat 2 Kali Lipat
Ketergantungan Energi Filipina
Filipina diketahui mendatangkan hampir 26 persen kebutuhan energi nasional dari kawasan Timur Tengah. Pada 2024, total anggaran energi dari kawasan tersebut mencapai 16 miliar dolar AS. Ketergantungan tinggi ini membuat Filipina sangat rentan terhadap gejolak geopolitik di Teluk. (Knu)