Kesehatan Mental

Cek nih, Tanda Akurat Kamu Alami Saviour Complex

Dwi AstariniDwi Astarini - Senin, 16 Oktober 2023
Cek nih, Tanda Akurat Kamu Alami Saviour Complex

Menolong orang lain harus dalam batas wajar. (Foto: Pixabay_Mohamed_hassan)

Ukuran text:
14
Dengarkan Berita:

KESEHATAN mental tak melulu merugikan bagi orang sekitar pengidap. Tak dimungkiri bahwa gangguan kesehatan mental kebanyakan berdampak negatif baik terhadap pengidap maupun orang-orang di sekitarnya. Namun, ada satu gangguan kesehatan mental yang justru sebenarnya mengarah ke dampak positif bagi orang-orang di sekitarnya.

Gangguan itu disebut saviour complex. Menurut Healthline, savior complex merupakan gangguan mental yang membuat pengidapnya merasa harus menjadi 'pahlawan' bagi orang lain. Savior complex bisa disebabkan karena masa lalu seseorang yang begitu kelam dan sendirian sehingga ia merasa orang lain tidak boleh merasakan hal yang sama seperti dirinya. Penyebab lainnya, bisa juga pengidap awalnya ingin dianggap sebagai sosok yang perfeksionis dengan kehidupan sempurna tanpa masalah dan berujung ingin menjadi motivasi bagi orang lain melalui uluran tangannya. Jika hal itu terjadi terus-menerus, pada akhirnya perilaku itu dapat dikategorikan sebagai savior complex. Gangguan mental ini memiliki gejala seperti berikut.

BACA JUGA:

Menimbun Barang Ternyata Penyakit Gangguan Mental

1. Hanya tertarik mendengarkan curhatan teman yang sedang kesulitan

sad
Pengidap savior complex hanya tertarik pada curhatan temannya yang sedang dilanda musibah. (Foto: Pixabay_geralt)

Sedang berkumpul bersama teman entah itu sekadar makan siang bersama rekan kantor atau memang sengaja nongki cantik bersama bestie, kamu dan teman-teman pasti saling bertukar cerita, bukan? Ada yang bercerita soal pencapaian terakhir, dan pastinya ada satu atau dua teman yang bercerita soal kesulitannya belakangan ini. Seseorang dengan savior complex enggak tertarik tuh dengan cerita kesuksesan atau kebahagiaan temannya, sebaliknya ia akan antusias ketika ada temannya yang berbagi cerita sedih mengenai dirinya yang sedang dilanda musibah.

2. Kamu merasa harus mengubah orang menjadi lebih baik

Melihat ada teman yang sedang tersesat hidupnya misalnya menjadi alcoholic, kecanduan narkoba, kecanduan judi, atau kerap melakukan kekerasan sebagai pelampiasan emosi yang meledak-ledak, kamu malah ingin masuk ke dalam hidupnya sebagai penolong. Tak jarang loh pengidap savior complex sengaja menerima cinta dari mereka yang hidupnya sedang berantakan hanya karena semata merasa bisa mengubah pasangannya menjadi lebih baik. Padahal jika kamu memiliki teman yang hidupnya sedang bermasalah, alangkah baiknya jika kamu justru membawanya ke orang-orang profesional seperti psikolog, psikiater, atau pusat rehabilitasi. Kamu tidak memiliki kapasitas untuk menolong semua orang terutama mereka yang membutuhkan bantuan profesional kecuali kamu memang berkualifikasi di bidangnya.

BACA JUGA:

Sindrom Nuh, Gangguan Mental Memelihara Banyak Hewan

3. Mengorbankan hal-hal esensial demi orang lain

Ada orang yang senang menolong orang lain sewajarnya, tapi ada juga yang senang mengorbankan hal-hal esensial dalam hidupnya demi menolong orang lain. Apa contohnya? Waktu dan uang. Ketika seseorang rela mengorbankan sebagian besar waktunya untuk menolong orang lain, sudah dapat dipastikan ia pengidap savior complex. Apalagi jika ia sampai rela menghamburkan uang untuk berusaha menolong semua orang yang minta bantuannya.

4. Kamu merasa semua masalah bisa selesai di tanganmu

kesehatan mental
Tidak semua masalah bisa diselesaikan oleh satu orang. (Foto: Pixabay_Anemone123)

Seperti yang sudah disebutkan di poin kedua, pengidap savior complex merasa semua masalah akan beres di tangannya. Padahal ia tidak memiliki kapasitas untuk membantu seseorang untuk rehabilitasi dari gangguan alcoholicnya, misalnya. Atau pengidap savior complex merasa rezeki yang selama ini ia dapatkan dengan bekerja keras merupakan “titipan” untuk membantu siapa saja yang meminta bantuannya.(Mar)

BACA JUGA:

Skizofrenia, Gangguan Mental Menimbulkan Halusinasi

#Kesehatan Mental
Bagikan
Ditulis Oleh

Dwi Astarini

Love to read, enjoy writing, and so in to music.

Berita Terkait

Dunia
Kemenkes: 4 dari 1.000 Orang Mengalami Skizofrenia
Sekitar 2 persen orang dewasa di Indonesia mengalami masalah kesehatan mental.
Wisnu Cipto - Kamis, 08 Januari 2026
Kemenkes: 4 dari 1.000 Orang Mengalami Skizofrenia
Olahraga
Raphael Varane Ngaku Alami Depresi saat Masih di Real Madrid, Paling Parah setelah Piala Dunia 2018!
Raphael Varane mengaku dirinya mengalami depresi saat masih membela Real Madrid. Ia menceritakan itu saat wawancara bersama Le Monde.
Soffi Amira - Rabu, 03 Desember 2025
Raphael Varane Ngaku Alami Depresi saat Masih di Real Madrid, Paling Parah setelah Piala Dunia 2018!
Indonesia
2 Juta Anak Alami Gangguan Kesehatan Mental, Kemenkes Buka Layanan healing 119.id Cegah Potensi Bunuh Diri
Kemenkes membuka layanan healing 119.id bagi warga yang mengalami stres, depresi atau memiliki keinginan bunuh diri.
Wisnu Cipto - Kamis, 30 Oktober 2025
2 Juta Anak Alami Gangguan Kesehatan Mental, Kemenkes Buka Layanan healing 119.id Cegah Potensi Bunuh Diri
Indonesia
Hasil Cek Kesehatan Gratis: 2 Juta Anak Indonesia Alami Gangguan Kesehatan Mental
Tercatat, ada sekitar 20 juta rakyat Indonesia didiagnosis mengalami gangguan kesehatan mental dari data pemeriksaan kesehatan jiwa gratis yang dilakukan.
Wisnu Cipto - Kamis, 30 Oktober 2025
Hasil Cek Kesehatan Gratis: 2 Juta Anak Indonesia Alami Gangguan Kesehatan Mental
Dunia
Ibu Negara Prancis Brigitte Macron Disebut Kena Gangguan Kecemasan karena Dituduh sebagai Laki-Laki
Sepuluh terdakwa menyebarkan apa yang oleh jaksa digambarkan sebagai ‘komentar jahat’ mengenai gender dan seksualitas Brigitte.
Dwi Astarini - Kamis, 30 Oktober 2025
  Ibu Negara Prancis Brigitte Macron Disebut Kena Gangguan Kecemasan karena Dituduh sebagai Laki-Laki
Fun
Self-Care Menjadi Ruang Ekspresi dan Refleksi bagi Perempuan, Penting untuk Jaga Kesehatan Mental
Merawat diri tidak lagi sekadar urusan penampilan fisik, tetapi juga menjadi sarana penting untuk menjaga kesehatan mental dan keseimbangan emosional.
Dwi Astarini - Senin, 13 Oktober 2025
Self-Care Menjadi Ruang Ekspresi dan Refleksi bagi Perempuan, Penting untuk Jaga Kesehatan Mental
Lifestyle
The Everyday Escape, 15 Menit Bergerak untuk Tingkatkan Suasana Hati
Hanya dengan 15 menit 9 detik gerakan sederhana setiap hari, partisipan mengalami peningkatan suasana hati 21 persen lebih tinggi jika dibandingkan ikut wellness retreat.
Dwi Astarini - Senin, 13 Oktober 2025
The Everyday Escape, 15 Menit Bergerak untuk Tingkatkan Suasana Hati
Indonesia
Smart Posyandu Difokuskan untuk Kesehatan Jiwa Ibu setelah Melahirkan
Posyandu Ramah Kesehatan Jiwa diperkuat untuk mewujudkan generasi yang sehat fisik dan mental.
Dwi Astarini - Senin, 06 Oktober 2025
Smart Posyandu Difokuskan untuk Kesehatan Jiwa Ibu setelah Melahirkan
Lifestyle
Kecemasan dan Stres Perburuk Kondisi Kulit dan Rambut
Stres dapat bermanifestasi pada gangguan di permukaan kulit.
Dwi Astarini - Kamis, 04 September 2025
Kecemasan dan Stres Perburuk Kondisi Kulit dan Rambut
Fun
Menyembuhkan Luka Batin lewat Kuas dan Warna: Pelarian Artscape Hadirkan Ruang Aman untuk Gen Z Hadapi Stres
Pelarian Artscape hadir sebagai pelampiasan yang sehat dan penuh makna.
Ananda Dimas Prasetya - Senin, 04 Agustus 2025
Menyembuhkan Luka Batin lewat Kuas dan Warna: Pelarian Artscape Hadirkan Ruang Aman untuk Gen Z Hadapi Stres
Bagikan