Menimbun Barang Ternyata Penyakit Gangguan Mental

P Suryo RP Suryo R - Sabtu, 03 Desember 2022
Menimbun Barang Ternyata Penyakit Gangguan Mental

Kolektor memiliki pengetahuan pada barang-barangnya. (Pexels/Pixabay)

Ukuran text:
14
Dengarkan Berita:

'MEMILIKI terlalu banyak barang tidak sama dengan memiliki gangguan penimbun barang.'

Ada kesamaan antara kolektor dan penimbun yaitu sama-sama memiliki banyak barang yang disukai daripada barang yang dibutuhkan. Lalu merasa berat hati saat harus menyerahkan barang yang mereka miliki. Keduanya dapat mengisi rumah mereka dengan benda-benda pilihan mereka. Jadi dimana perbedaannya? Mengapa kita melihat yang satu sebagai hobi dan yang lainnya sebagai gangguan mental?

Gangguan penimbun barang dikenali sebagai salah satu penyakit gangguan mental. Hal tersebut dituliskan dalam Diagnostic and Statistical Manual of Mental Disorders, 5th Edition (DSM-5) yang diterbitkan oleh American Psychiatric Association (APA) di tahun 2013.

Baca Juga:

Bagaimana Menghadapi Suami Narsis

timbun
Kolektor akan menyimpan barangnya dengan rapih. (Unsplash/Anne Nygard)

Melansir laman Lifehacker beberapa psikolog masih tidak yakin apakah mengumpulkan barang dapat berkembang menjadi penimbun atau sebaliknya, dan penyebab serta perawatan terbaik masih belum sepenuhnya dipahami.

Ciri-ciri utama gangguan penimbun barang adalah secara kompulsif memperoleh barang-barang atau benda apapun, mengalami kesulitan berpisah dengan barang-barang yang dimilikinya, dan tidak dapat mengatur serta mengorganisir dalam menyimpan, sehingga barang-barang ditimbun dengan terus menerus bertambah.

Sementara mengumpulkan atau mengkoleksi, cenderung lebih terkontrol. Kolektor mungkin masih kesulitan berpisah dengan barang favorit mereka, atau mungkin membeli lebih banyak barang daripada yang seharusnya. Tetapi mereka merawat koleksi mereka dengan hati-hati, mengatur dan mengaguminya.

Beberapa perbedaan lainnya sebagai berikut :

- Kolektor cenderung lebih terorganisir

Salah satu perbedaan terbesar antara kolektor dan penimbun adalah penimbun cenderung asal-asalan menumpuk barang di rumah mereka. Orang tersebut mungkin lupa atau tidak menyadari apa yang mereka miliki.

Kolektor, sebaliknya, biasanya mengatur temuan mereka. Benda berserakan di sekitar rumah. Namun mereka mungkin memiliki lemari atau ruangan yang didedikasikan untuk barang-barang yang dikumpulkan. Item dapat ditampilkan, diatur, atau disortir dengan cara tertentu.

Menurut penelitian yang mensurvei kolektor dan orang-orang dengan gangguan penimbun barang, 95% kolektor mengatur barang-barang mereka. Sementara kurang dari setengah penimbun mengatakan mereka tidak mengatur penyimpanan.

Baca Juga:

Waspadai Denial of Pregnancy Syndrome, Seberapa Berbahaya?

timbun
Menimbun barang yang sebenarnya tidak dibutuhkan dan diperlukan. (Unsplash/Lance Grandahl)

- Kolektor peduli dengan barangnya

Dalam studi yang sama, kolektor lebih cenderung mencari item tertentu dan berusaha mempelajari lebih lanjut tentang objek yang mereka kumpulkan. Sementara penimbun kebalikannya. Mereka cenderung melihat sesuatu dan memutuskan untuk mendapatkannya.

Kolektor cenderung memiliki tema untuk koleksinya dan memiliki rencana dengan benda yang dikumpulkannya itu. Hanya 55% kolektor mengatakan bahwa mereka mengumpulkan barang yang bisa mereka dapatkan secara gratis; 95% membeli item untuk melengkapi koleksinya. Sebaliknya, 70% penimbun mengumpulkan item gratis, dan 87% membelinya.

- Penimbun mengganggu kehidupan sosial dan rumah tangga

Kolektor dapat bersosialisasi dengan orang lain tentang hobinya, berteman dengan kolektor, lain dan mendiskusikan barang-barang yang mereka kumpulkan. Studi ini juga menemukan bahwa kolektor lebih cenderung menikah dan memiliki kehidupan sosial yang sehat.

Di sisi lain, penimbun lebih cenderung menarik diri dari lingkungan sosial. Akibatnya mereka kerap mengalami masalah di berbagai lingkungan yang dekat dengan dirinya. Penimbun juga merasa tertekan dengan kekacauan mereka buat sendiri.

Sedangkan kolektor lebih cenderung membuka diri kepada orang lain dan bercerita tentang koleksinya. Kemudian memfungsikan ruangan dengan sebaik-baiknya demi pengaturan koleksinya. Sementara penimbun malah sebaliknya yang membuat ruangan di dalam rumah beerantakan.

Para penimbun cenderung mengalami kesulitan dalam pekerjaan, sosial, atau kehidupan rumah tangga akibat kebiasaannya itu. Kegiatan menimbun barang itu membuat fungsi-fungsi di dalam rumah mati. Seperti dapur yang tak dapat lagi digunakan untuk memasak karena penuh timbunan barang.

Perawatan untuk gangguan penimbun biasanya melibatkan terapi bicara seperti teknik terapi perilaku-kognitif. Kecemasan yang mendasari tentang membuang barang atau tidak 'membuang-buang' barang bisa jadi sulit untuk dihilangkan. (DGS)

Baca Juga:

Berkah Menjadi Seorang Introver

#Lipsus Desember Kesehatan Mental #Kesehatan #Kesehatan Mental
Google
Tambahkan Merahputih.com Sebagai Sumber Utama di Google untuk Dapatkan Berita Eksklusif.
Tambahkan Sekarang
Bagikan

P Suryo R

Stay stoned on your love
Show More

Berita Terkait

Lifestyle
Anak Sering Main Roblox? Begini Cara Cegah Kecanduan dan Jaga Kewarasan Mentalnya
Khawatir anak kecanduan atau kena cyberbullying? Simak panduan lengkap dan fitur pengawasan orang tua dari Roblox untuk menjaga kesehatan mental anak saat main gim online.
Angga Yudha Pratama - Sabtu, 10 Oktober 2026
Anak Sering Main Roblox? Begini Cara Cegah Kecanduan dan Jaga Kewarasan Mentalnya
Berita Foto
Pantau Gaya Hidup Makin Personal, U by Prodia Hadirkan U-Buddy
SPG menunjukkan tampilan antarmuka (user interface/UI) aplikasi U-Buddy saat peluncurannya di Jakarta, Rabu (7/10/2026).
Didik Setiawan - Rabu, 07 Oktober 2026
Pantau Gaya Hidup Makin Personal, U by Prodia Hadirkan U-Buddy
Indonesia
Insiden Lab di Rusia, Kemenkes Tingkatkan Kesiapsiagaan
bandara dan pelabuhan internasional di Bali menerapkan peningkatan pengawasan pelaku perjalanan melalui pengawasan deklarasi kesehatan (All Indonesia - SSHP).
Dwi Astarini - Selasa, 06 Oktober 2026
Insiden Lab di Rusia, Kemenkes Tingkatkan Kesiapsiagaan
Lifestyle
Berbagi Cocolan Setara Ciuman Bibir, Rentan Menyebarkan Virus dan Bakteri
Berapa kali celupan yang dibutuhkan untuk memindahkan jumlah bakteri yang kira-kira sama banyaknya dengan ciuman berdurasi 10 detik?
Dwi Astarini - Senin, 05 Oktober 2026
 Berbagi Cocolan Setara Ciuman Bibir, Rentan Menyebarkan Virus dan Bakteri
Indonesia
Jangan Sepelekan Influenza Tipe A, Anak Batuk Demam Tinggi Segera Bawa ke Faskes!
Anak demam tinggi dan sesak napas? Peringatkan bahaya virus influenza tipe A pada anak. Segera bawa ke faskes rujukan terdekat!
Wisnu Cipto - Jumat, 02 Oktober 2026
Jangan Sepelekan Influenza Tipe A, Anak Batuk Demam Tinggi Segera Bawa ke Faskes!
Lifestyle
Bukan Cuma Soal Biaya, Dokter Ungkap 3 Alasan Pengobatan Gagal Jantung Lanjut Masih Terbatas di Indonesia
Dokter Paskah ungkap tiga tantangan pengobatan gagal jantung lanjut di Indonesia, mulai dari literasi masyarakat, keterbatasan dokter hingga mahalnya teknologi.
Ananda Dimas Prasetya - Kamis, 01 Oktober 2026
Bukan Cuma Soal Biaya, Dokter Ungkap 3 Alasan Pengobatan Gagal Jantung Lanjut Masih Terbatas di Indonesia
Lifestyle
Teknologi LVAD Hadir di Indonesia, Jadi Harapan Baru bagi Pasien Gagal Jantung Lanjut
Teknologi LVAD atau pompa jantung artificial kini tersedia di Indonesia untuk membantu pasien gagal jantung tingkat lanjut. Ini cara kerja dan persiapannya.
Ananda Dimas Prasetya - Kamis, 01 Oktober 2026
Teknologi LVAD Hadir di Indonesia, Jadi Harapan Baru bagi Pasien Gagal Jantung Lanjut
Indonesia
Kemenkes Klaim 99,1 Juta Orang Telah Ikut Program Cek Kesehatan Gratis
Pemerintah mengatakan manfaat program CKG berpotensi mencegah satu dari empat kasus stroke dan penyakit kardiovaskular pada 2035.
Dwi Astarini - Kamis, 01 Oktober 2026
Kemenkes Klaim 99,1 Juta Orang Telah Ikut Program Cek Kesehatan Gratis
ShowBiz
Susu Rahasia Jisoo BLACKPINK untuk Jaga Berat Badan
Tanpa ragu, Jisoo mengambil sekotak susu kedelai.
Dwi Astarini - Rabu, 30 September 2026
Susu Rahasia Jisoo BLACKPINK untuk Jaga Berat Badan
Indonesia
Dalam Satu Dekade 172,3 Juta Kasus Penyakit Jantung Pakai BPJS Kesehatan, Biaya Capai Rp 100 Triliun
Pada rentang waktu yang sama, katanya, gagal ginjal menduduki urutan kedua, dengan total biaya sebesar Rp 83,8 triliun yang dikeluarkan untuk membayar pelayanan kesehatan 81,2 juta kasus.
Alwan Ridha Ramdani - Selasa, 29 September 2026
Dalam Satu Dekade 172,3 Juta Kasus Penyakit Jantung Pakai BPJS Kesehatan, Biaya Capai Rp 100 Triliun
Bagikan