Cacing Berkepala Martil, Berbisa dan Berbahaya

P Suryo RP Suryo R - Selasa, 14 Maret 2023
Cacing Berkepala Martil, Berbisa dan Berbahaya

Cacing Bipalium memiliki perilaku kanibal. (thought.co)

Ukuran text:
14
Dengarkan Berita:

BERAWAL dari unggahan di akun Twitter @zoo_fess, cacing berkepala martil ini menjadi topik pembahasan seru. Foto tersebut menunjukkan cacing berwarna coklat dengan tubuh memanjang dan berkepala pipih berbentuk martil atau palu.

Unggahan pada 1 Maret 2023 dengan caption “zoo ini cacing apa dha kok lucu bgt ada kepalanya” kemudian menarik perhatian pengguna Twitter. Beberapa pengguna menuliskan bahwa cacing ini berbahaya dan memberikan cara untuk membasminya.

Baca Juga:

Konsumsi Obat Cacing Saat Puasa

cacing
Cacing martil menjadi topik pembahasan di Twitter. (Twitter@zoo_fess)

Dikutip dari Thought Co, cacing martil (Bipalium sp) adalah cacing pipih beracun yang menakutkan. Cacing ini hidup di darat dan merupakan predator sekaligus kanibal. Cacing ini memiliki kisaran ukuran sepanjang 5 cm hingga lebih dari 20 cm dan menyukai habitat yang lembab serta hangat.

“Ciri yang paling khas dari cacing martil adalah kepalanya yang berbentuk kipas atau sekop dan tubuhnya yang panjang dan pipih. Bagian bawahnya memiliki creeping sole yang besar dan digunakan untuk bergerak. Spesies ini dibedakan berdasarkan bentuk kepala, ukuran, warna, dan pola garis,” tulis Thought Co.

Cacing yang berasal dari daerah tropis dan subtropis ini telah menyebar ke seluruh dunia. Cacing ini diyakini terdistribusi dan terangkut secara tidak sengaja pada tanaman hortikultura berakar.

Cacing Bipalium dikatakan sebagai hewan karnivora karena memangsa cacing tanah, siput, larva serangga, dan sesamanya. Cacing Martil menggunakan chemoreceptors yang terletak di bawah kepalanya untuk mendeteksi mangsa.

Baca Juga:

Mengungkap Mitos Makan Kelapa Bikin Kremian

caing
Ciri khas cacing Bipalium adalah kepalanya yang berbentuk kipas atau sekop. (Twitter@KementerianLHK)

Cacing akan melacak mangsanya, mendorongnya ke permukaan, dan menjeratnya dalam cairan berlendir. Setelah mangsanya tidak dapat bergerak. Kemudian cacing ini akan keluar dari fahring-nya dan mengeluarkan enzim pencernaan dan menghisap jaringan yang dicairkan ke dalam ususnya. Mulut cacing juga berfungsi sebagai anusnya saat pencernaan telah selesai.

Cacing Martil tidak termasuk ke dalam spesies cacing yang dapat dikonsumsi karena mengandung Neurotoksin yang kuat. Berdasarkan sumber Hello Sehat, Neurotoksin adalah zat alami yang dapat mengganggu dan merusak fungsi sistem saraf pusat atau sistem saraf tepi.

Cacing martil dapat bertukar sel sperma dan sel telur dengan cacing lain melalui sekresi. Telur yang dibuahi berkembang dalam tubuh dan ditumpahkan sebagai kapsul telur. Setelah tiga minggu, telur akan menetas dan cacing menjadi dewasa. Namun, reproduksi tanpa hubungan kelamin lebih umum. Jika cacing dipotong-potong, setiap bagiannya dapat beregenerasi menjadi organisme yang berkembang sempurna dalam beberapa minggu.

Walaupun cacing ini tidak berbahaya bagi tanaman hijau. Cacing ini memiliki ancaman yang lebih berbahaya. Cacing martil berpotensi memusnahkan populasi cacing tanah yang dapat menyuburkan tanah. (vca)

Baca Juga:

Terinfeksi Cacing Pita, Semut Temnothorax Malah Jadi Panjang Umur

#Sains #Hewan
Google
Tambahkan Merahputih.com Sebagai Sumber Utama di Google untuk Dapatkan Berita Eksklusif.
Tambahkan Sekarang
Bagikan

P Suryo R

Stay stoned on your love
Show More

Berita Terkait

Lifestyle
Manusia Purba Obati Sakit Gigi Pakai Biji Pinang, Menenangkan Saraf
Para arkeolog dan ilmuwan internasional bersama BRIN menemukan bukti empiris praktik ini telah dilakukan sejak 25.000 tahun lalu.
Dwi Astarini - Senin, 05 Oktober 2026
Manusia Purba Obati Sakit Gigi Pakai Biji Pinang, Menenangkan Saraf
Dunia
Gletser Swiss Kehilangan Es, Pasokan Air Terancam
Data terbaru menyebut hal itu terjadi akibat gelombang panas musim panas yang ekstrem di puncak-puncak pegunungan Alpen.
Dwi Astarini - Kamis, 01 Oktober 2026
Gletser Swiss Kehilangan Es, Pasokan Air Terancam
Lifestyle
Penelitian Ungkap Orang Indonesia sudah Tahu Narkotika Sejak 25.000 Tahun Lalu, Teler Pakai Biji Pinang
Bukti terbaru menunjukkan biji pinang telah digunakan sebagai zat psikoaktif oleh sejumlah komunitas di Indonesia pada 25.000 tahun lalu.
Dwi Astarini - Kamis, 10 September 2026
Penelitian Ungkap Orang Indonesia sudah Tahu Narkotika Sejak 25.000 Tahun Lalu, Teler Pakai Biji Pinang
Indonesia
Puluhan Dokter Hewan di Jakarta Tidak Miliki Izin Praktik
Pendataan juga mencakup dokter hewan yang sedang dalam proses pengajuan maupun perpanjangan Surat Izin Praktik (SIP)
Alwan Ridha Ramdani - Rabu, 26 Agustus 2026
Puluhan Dokter Hewan di Jakarta Tidak Miliki Izin Praktik
Fun
Kena Masalah Keuangan, Marmot Cari Duit di OnlyFans
Mengunggah ‘konten marmot tanpa sensor'.
Dwi Astarini - Kamis, 06 Agustus 2026
Kena Masalah Keuangan, Marmot Cari Duit di OnlyFans
Indonesia
Prodi Sains PTN Sepi Peminat, DPR: Alarm Keras bagi Masa Depan Bangsa
Habib Syarief menilai turunnya minat calon mahasiswa terhadap prodi sains di SNPMB 2026 menjadi ancaman bagi riset, inovasi, dan daya saing Indonesia.
Ananda Dimas Prasetya - Rabu, 01 Juli 2026
Prodi Sains PTN Sepi Peminat, DPR: Alarm Keras bagi Masa Depan Bangsa
Lifestyle
Arkeolog Temukan ‘Stonehenge Mini’, Amat Mungkin Prototipenya
Para arkeolog menyebut struktur itu mungkin merupakan prototipe dalam pengembangan Stonehenge.
Dwi Astarini - Jumat, 19 Juni 2026
Arkeolog Temukan ‘Stonehenge Mini’, Amat Mungkin Prototipenya
Indonesia
Jelang Idul Adha 2026, DPR Minta Pengawasan Ketat Hewan Kurban untuk Cegah PMK
DPR meminta pengawasan ketat terhadap hewan kurban menjelang Idul Adha 2026. Sebab, penyakit PMK mulai mengintai.
Soffi Amira - Selasa, 05 Mei 2026
Jelang Idul Adha 2026, DPR Minta Pengawasan Ketat Hewan Kurban untuk Cegah PMK
Lifestyle
Pemanasan Bumi makin Menjadi, Dua Spesies Ikonis Kutub Terancam Punah
Status baru tersebut dipublikasikan pada Rabu (8/4) oleh International Union for the Conservation of Nature (IUCN).
Dwi Astarini - Jumat, 10 April 2026
  Pemanasan Bumi makin Menjadi, Dua Spesies Ikonis Kutub Terancam Punah
Lifestyle
Artemis II Tuntaskan Perjalanan Mengitari Bulan, Lampaui Rekor Apollo 13
Bulan tampak memenuhi jendela kapsul mereka, saat para astronaut Artemis II melaju memasuki penerbangan melintasi bulan.
Dwi Astarini - Selasa, 07 April 2026
Artemis II Tuntaskan Perjalanan Mengitari Bulan, Lampaui Rekor Apollo 13
Bagikan