MerahPutih.com - Badan Gizi Nasional (BGN) buka suara terkait insiden dugaan keracunan menu Makan Bergizi Gratis (MBG) yang dialami siswa di SMK Negeri 6 Kota Semarang.
Kepala BGN Sudaryono mengungkapkan, Senin (3/8), berdasarkan hasil investigasi sementara, dugaan penyebab kasus tersebut mengarah pada beberapa bahan makanan, seperti daun singkong, bumbu rendang, dan faktor waktu memasak yang dilakukan terlalu dini sebelum makanan didistribusikan.
Sejauh ini laporan yang kami terima adalah ada beberapa bahan yang menjadi penyebab, ya ada daun singkong, ada bumbu rendang dan lain-lain. Tapi, investigasi kita sejauh ini adalah dari bahan-bahan itu dan diduga memasaknya jauh lebih awal,
Kepala BGN, Sudaryono.
Sudaryono menjelaskan, dugaan tersebut muncul setelah hasil investigasi awal menunjukkan bahwa sejumlah sekolah lain yang menerima makanan dari Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) yang sama tidak mengalami insiden serupa.
Menu untuk sekolah-sekolah tersebut didistribusikan lebih pagi oleh SPPG Karangturi. Temuan itu kini menjadi salah satu fokus penyelidikan sambil menunggu hasil pemeriksaan laboratorium.
Baca juga:
108 Siswa SDII Al Abidin Solo Keracunan, Dinkes Uji Sampel Makanan MBG
SPPG Karangturi Disuspend hingga Investigasi Rampung
Sebagai langkah tindak lanjut, BGN menghentikan sementara operasional SPPG Karangturi dan memberikan surat peringatan kepada pihak-pihak yang terlibat.
"Jadi di-suspend ini kan ada mitra, ada yayasan, ada SPPG, ada yang di situ kita beri sanksi termasuk Korcam dan ke atas ini kami beri peringatan," kata Sudaryono.
Pemberhentian sementara tersebut akan berlaku hingga proses investigasi selesai.
Menurut Sudaryono, hasil investigasi beserta pemeriksaan laboratorium diperkirakan baru akan diketahui dalam waktu sekitar lima hingga tujuh hari kerja.
"Kita lagi cek minta dari Dinas Kesehatan untuk dicek lab-nya. Kita butuh waktu paling tidak ya tujuh hari, lima hari kerja," ucap dia.
Baca juga:
BGN Suspend SPPG Karangturi usai 707 Siswa dan Guru Diduga Keracunan MBG di Semarang
Untuk mencegah kejadian serupa terulang, BGN tengah mempersiapkan sistem pemantauan digital yang akan mengawasi seluruh proses produksi makanan secara real-time.
Sistem tersebut akan mencatat waktu persiapan bahan, proses memasak, hingga distribusi makanan kepada penerima manfaat.
Sudaryono berharap sistem itu dapat mulai diterapkan dalam dua minggu ke depan sehingga seluruh proses dapat dipantau secara transparan.
Dengan sistem tersebut, orang tua siswa, guru, maupun Dinas Kesehatan nantinya dapat mengetahui informasi mengenai waktu memasak, menu yang disajikan, hingga bahan dan bumbu yang digunakan.
"Kita harapkan orang tua siswa, guru, dan barangkali Dinas Kesehatan bisa melihat jam berapa dimasak, apa saja yang dimasak, bumbu apa yang dimasukkan, itu harus kemudian tersistem kita termonitor semua. Yang bisa dimonitor oleh semua orang," ungkap Sudaryono.
707 Orang Diduga Keracunan MBG
Sebagai informasi, sebanyak 707 orang yang terdiri atas 693 siswa dan 14 guru diduga mengalami keracunan usai menyantap Makan Bergizi Gratis (MBG) di SMK Negeri 6 Kota Semarang, Jawa Tengah, pada Jumat (31/7).
Dari jumlah tersebut, 698 orang mendapatkan penanganan langsung di lokasi. Sementara itu, sembilan orang dirujuk ke Puskesmas Halmahera, RSUD KRMT Wongsonegoro, RST Bhakti Wira Tamtama, dan Puskesmas Bangetayu untuk menjalani observasi lebih lanjut.
Para siswa dilaporkan mengalami gangguan pencernaan berupa mual, muntah, dan diare setelah mengonsumsi menu MBG yang diproduksi di Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) Karangturi. (Knu)

