Bantah Asumsi Sebagian Pakar Ekonomi, Kubu Jokowi Klaim Pertemuan IMF-World Bank Untung Besar
Direktur Penggalangan Pemilih Milenial dan Anak Muda Tim Kampanye Nasional Jokowi-Ma'ruf Amin Bahlil Lahadalia (kedua dari kiri) (MP/Fadhli)
MerahPutih.Com - Pertemuan Tahunan IMF-World Bank di Bali, 8-14 Oktober 2019 diklaim banyak meraup keuntungan dari berbagai segi, baik ekonomi maupun pariwisata.
Direktur Penggalangan Pemilih Milenial dan Anak Muda Tim Kampanye Nasional Jokowi-Ma'ruf Amin Bahlil Lahadalia mengkalkulasi keuntungan tersebut mencapai Rp3 Triliun.
"Saya ingin meluruskan dulu beberapa pikiran yang sebelumnya oleh beberapa pakar ekonomi. Yang pertama bahwa ada kesan bahwa pertemuan di Bali itu hanya sekedar menghambur-hamburkan keuangan negara," kata Bahlil di Posko Cemara, Jumat (12/10).
Dijelaskannya, keuntungan ekonomi itu berasal dari sekitar 35 ribu tamu yang datang dan mereka bukan pengusaha ecek-ecek. Jika diasumsikan mereka menghabiskan 600 sampai 700 dolar perorang. Maka dalam 9 hari terkumpul USD 6300 perhari. Kalau 35 ribu orang dikali dengan kurs Rp15 ribu hasilnya hampir 3 triliun uang yang masuk di Bali.
"Datanya dari mana? dari teman-teman saya di Bali, Jadi ini kita luruskan dulu. Jadi jangan cara pemehamannya itu seperti orang membuat ekonomi di atas kertas. Kalau kita ini praktisi," kata petinggi HIPMI itu.
Belum lagi keuntungan dari segi lainnya, semacam membangun trust bagi investor negara luar untuk berusaha di Indonesia.
"189 negara bos. Tidak mungkin sebuah investasi akan muncul di sebuah negara kalau tidak ada trust. Artinya pertemuan IMF dengan seluruh pengusaha yang ada adalah instrumen masuk bagi negara untuk meyakinkan bagi negara lain," terangnya.
Lebih lanjut, kata dia, pemerintah mendapat keuntungan di bidang promosi pariwisata.
"Bayangkan perputaran ekonomi luar biasa. Hotel penuh, transportasi penuh, UMKM hidup," tambah Bahlil yang juga Ketua Umum HIPMI tersebut.
Bahlil mengatakan, sejumlah lokasi pariwita favorit tanah air menjadi destinasi tamu undangan pasca pertemuan yang rencananya berakhir pada 14 Oktober mendatang.
"Kemudian teman-teman saya NTT, fasilitas mereka untuk pasca kegiatan di sana itu penuh juga. Wisata Labuhan Bajo udah penuh, bukan itu saja Raja Empat di papua. Saya cek teman-teman di sana. Udah bang, udah banyak yang ke sana. Coba cek penerbangan dari Bali ke sorong itu udah pasti penuh. Belum lagi di Jakarta," ungkap dia.
Artinya, multiplan efek dari kegitan yang ada di Bali itu sangat luar biasa.
"Makanya jika ada yang mengatakan rugi penting untuk kita ingin tahu pikirannya dari mana ruginya," pungkas Bahlil Lahadalia.(Fdi)
Baca berita menarik lainnya dalam artikel: Fakta Sidang Johannes Kotjo Pintu Masuk KPK Jerat Dirut PLN dalam Suap PLTU Riau-1
Bagikan
Berita Terkait
Bank Dunia Sebut Upah Riil Buruh di Indonesia Cenderung Turun
Stop Manjakan Pariwisata dengan Uang Negara, DPR Desak Pemerintah Fokus Infrastruktur dan Sport Tourism ala Eropa
Masih Dibangun, Jokowi Belum Tempati Rumah Hadiah Negara Setelah 1 Tahun Lengser
Pengesahan UU Pariwisata Dinilai Bakal Jadi Angin Segar Target Ekonomi 8 Persen
DPR Resmikan RUU Kepariwisataan, Siap Beradaptasi dengan Revolusi Digital Global
Indonesia Usulkan Reformasi Total IMF dan Bank Dunia, Hapus Sistem Voting Berbasis Saham
MBG Jadi 'Senjata Rahasia' Pemerintah untuk Tarik Wisatawan, Sampai Bikin Dunia Kagum dan Geleng-Geleng Kepala
DPR Desak Pemerintah Kembangkan Wisata Budaya Berbasis Desa
Alasan BPS Belum Adopsi Penghitungan Jumlah Penduduk Miskin Ala Bank Dunia
Cerita Ajudan Saat Jokowi Pemulihan Sekaligus Liburan di Bali Bersama Semua Cucu