Alat Deteksi COVID-19 Melalui Hembusan Nafas Terganjal Uji Diagnostik Kemenkes

Andika PratamaAndika Pratama - Sabtu, 03 Oktober 2020
Alat Deteksi COVID-19 Melalui Hembusan Nafas Terganjal Uji Diagnostik Kemenkes

GeNose, alat deteksi COVID-19 lewat hembusan nafas karya peneliti UGM. Foto: Humas UGM

Ukuran text:
14
Dengarkan Berita:

MerahPutih.com - GeNose, alat deteksi COVID-19 melalui embusan napas inovasi Universitas Gadjah Mada (UGM), terganjal di uji diagnostik Balai Pengamanan Fasilitas Kesehatan (BPFK) Kementerian Kesehatan. Padahal, ini menjadi uji terakhir sebelum alat tes sistem tiup ini dapat diproduksi.

Anggota tim peneliti GeNose, Kuwat Triyono, berharap uji alat tes tersebut dipercepat walau tes aspek medis harus ketat. Fase uji GeNose sebagai alat kesehatan seharusnya tak selama uji obat karena tidak perlu menguji dampak pemakaian terhadap pasien.

"Ini prosesnya harus cepat karena ini darurat, bukan normal," ucap Kuwat dalam diskusi daring MNC Trijaya FM, Sabtu (3/10).

Baca Juga

Harga Tes Swab Rp900 Ribu tak Bisa Dijangkau Warga Miskin

Kuwat ingin GeNose bisa mendapat status alat kesehatan status B. Setelah lolos pengujian paramater di Kementerian Kesehatan, GeNose sudah siap untuk uji diagnostik.

"Rumah sakit sudah siap, peralatan sudah siap," kata dia

Kepala Pusat Diagnostik dan Riset Penyakit Infeksi Fakultas Kedokteran Universitas Andalas (FK-Unand) Andani Eka Putra menyebutkan uji diagnostik harus dilakukan untuk mengetahui sensitivitas alat kesehatan. Untuk COVID-19, pengecekan tersebut berpatokan tes polymerase chain reaction (PCR) yang menjadi gold standart Indonesia.

"Kalau sensitivitasnya 85 persen, saya rasa tak masalah menggunakan (GeNose)," kata Andani pada kesempatan yang sama.

Ia lantas mengatakan kunci kesembuhan pasien terletak pada kondisi psikologis yang baik. Artinya pasien tidak boleh depresi atau stres.

"Sebenarnya obat yang bagus untuk COVID-19 itu adalah bagaimana menghilangksn stres pada saat pasien dirawat. Karena saya di rumah sakit menangani pasien saya lihat itu yang paling bagus," ujar Andani

Peneliti UGM yang menciptakan alat deteksi COVID-19 melalui hembusan nafas, GeNose. Foto: Humas UGM

Menurut dia, deteksi virus secepat mungkin amat perlu dilakukan sehingga orang yang terinfeksi COVID-19 tidak 'keluyuran' ke mana-mana dan bisa istirahat dan makan obat. Dengan istirahat cukup dan pikiran yang tenang itu akan mempercepat kesembuhan.

"Saya sepakat sekali bagaimana memperbaiki motivasinya, karena pada saat masuk (rumah sakit akibat covid) itu akan muncul stigma jelek, dipojokkan, mereka seolah akan mati, aib, ada pasien yang cabut infusan, membenturkan kepalanya, berteriak-teriak, ketawa-tawa, di ruangan begitu hari pertama pasti menangis, pendekatan ini sangat penting sekali," tutur Andani.

Andani menuturkan, yang dibutuhkan pasien COVID-19 adalah komunikasi dan pemberian motivasi secara baik dalam rangka menjaga psikologis mereka. Dengan begitu kesembuhan akan dapat diraih.

Apalagi saat ini pemberian obat terkait masih menjadi perdebatan. Belum ada satu obat yang pasti dan terbukti menyembuhkan manusia dari virus ini.

Ia juga menganjurkan kepada masyarakat untuk tetap menjaga rasionalitas terhadap wabah covid ini. Masyarakat tidak boleh terlalu panik, tetapi juga jangan terlalu abai.

Andani juga menganjurkan seseorang yang menderita COVID-19 namun kondisinya stabil, maka tidak perlu di rawat di rumah sakit. Penderita hanya perlu mengisolasi diri di rumah dan tetap menjaga kebugaran serta mengelola stres dengan baik.

"Saya anjurkan pasien tak usah rawat di rumah sakit kalau kondisinya baik. Kenapa pasien jadi berat? Tentu karena dia stres, dia punya komorbid, pada waktu stres tekanan darah tak terkontrol, jantung muncul, kalau pasien tenang itu akan bagus sekali," tuturnya.

Baca Juga

Dosen UGM Bikin Pendeteksi COVID-19 Radiografi Digital, Akurasi hingga 95 Persen

"Saya katakan bukan berarti saya sepakat isolasi mandiri, kalau pasein kondisinya stabil, dirumhanya memenuhi syarat, maka saya rekomendasikan di rumah saja. Harus penuhi syarat. Artinya ada orang yang paham mengenai kesehatan, ada pendampingan dari tenaga kesehatan, makanya untuk orang yang positif covid dalam satu keluarga, dirumah aja semuanya, anggap seperti biasa, cuma mereka gak usah keluar rumah," jelas Andani. (Knu)

#COVID-19 #Vaksin Covid-19 #Test Covid 19 #Universitas Gadjah Mada
Google
Tambahkan Merahputih.com Sebagai Sumber Utama di Google untuk Dapatkan Berita Eksklusif.
Tambahkan Sekarang
Bagikan

Berita Terkait

Olahraga
Aib Saat di Arsenal Terbongkar, Karier Kapten Timnas Swiss Granit Xhaka di Ujung Tanduk
Terjerat skandal sertifikat COVID-19 palsu, Kapten Swiss Granit Xhaka akui kesalahannya dan mundur dari Timnas. Simak kronologi dan ancaman hukumannya di sini!
Wisnu Cipto - Selasa, 22 September 2026
Aib Saat di Arsenal Terbongkar, Karier Kapten Timnas Swiss Granit Xhaka di Ujung Tanduk
Indonesia
Anak Usaha UGM Gebrak Pasar Modal, Intip Potensi IPO Saham SWAP Berkemas Rp45,22 Miliar
PT Swayasa Prakasa Tbk (SWAP), anak usaha UGM, bersiap menggelar IPO di BEI dengan target dana Rp45,22 miliar. Cek jadwal, rentang harga, dan alokasi dananya di sini
Angga Yudha Pratama - Senin, 24 Agustus 2026
Anak Usaha UGM Gebrak Pasar Modal, Intip Potensi IPO Saham SWAP Berkemas Rp45,22 Miliar
Indonesia
Budiman Sudjatmiko Buka Suara soal Penggerudukan Diskusi di UGM: Kami Datang untuk Berdialog
Budiman Sudjatmiko mengungkap kronologi penggerudukan diskusi di UGM yang juga dihadiri Nusron Wahid dan Sudaryono. Sebut forum berakhir setelah situasi memanas.
Ananda Dimas Prasetya - Rabu, 17 Juni 2026
Budiman Sudjatmiko Buka Suara soal Penggerudukan Diskusi di UGM: Kami Datang untuk Berdialog
Indonesia
Waspada Ledakan COVID-19 Cicada, Varian Baru Incar Anak Tanpa Vaksin di 25 Negara Dunia
Nurhadi mengingatkan pemerintah agar tidak hanya fokus pada masuknya varian ke tanah air, tetapi lebih menekankan pada kekuatan kapasitas deteksi dini
Angga Yudha Pratama - Rabu, 08 April 2026
Waspada Ledakan COVID-19 Cicada, Varian Baru Incar Anak Tanpa Vaksin di 25 Negara Dunia
Indonesia
[HOAKS atau FAKTA]: UGM Akui Tak Pernah Melegalisir Ijazah Jokowi
Polemik soal ijazah Presiden ke-7 Joko Widodo terus menjadi perdebatan di media sosial.
Frengky Aruan - Senin, 02 Maret 2026
[HOAKS atau FAKTA]: UGM Akui Tak Pernah Melegalisir Ijazah Jokowi
Indonesia
[HOAKS atau FAKTA]: Video Perencanaan Pandemi COVID-19 dari Epstein Files Viral di Media Sosial
Konten itu ternyata merupakan bagian dari materi promosi rumah sakit yang berlokasi di Be’er Ya’akov, Israel.
Dwi Astarini - Kamis, 19 Februari 2026
[HOAKS atau FAKTA]: Video Perencanaan Pandemi COVID-19 dari Epstein Files Viral di Media Sosial
Indonesia
Penanganan Penyakit Tuberculosis Bakal Contoh Pola Pandemi COVID-19
Salah satu fokus dalam penanganan Tb adalah memperluas skrining atau deteksi dini. Masyarakat diimbau untuk tidak takut melakukan pemeriksaan, karena TBC dapat disembuhkan dengan pengobatan yang konsisten.
Alwan Ridha Ramdani - Jumat, 17 Oktober 2025
Penanganan Penyakit Tuberculosis Bakal Contoh Pola Pandemi COVID-19
Indonesia
Kasus ISPA di Jakarta Naik Gara-Gara Cuaca, Warga Diminta Langsung ke Faskes Jika Ada Gejala
Gejala umum ISPA yang harus diwaspadai meliputi batuk, pilek, nyeri tenggorokan, dan demam
Angga Yudha Pratama - Kamis, 16 Oktober 2025
Kasus ISPA di Jakarta Naik Gara-Gara Cuaca, Warga Diminta Langsung ke Faskes Jika Ada Gejala
Lifestyle
Ciri-Ciri dan Risiko Warga Yang Alami Long COVID
Gejala long COVID tidak selalu sama pada setiap orang. Sebagian mengalami hanya satu keluhan, seperti sesak napas atau kelelahan (fatigue), sementara yang lain menghadapi kombinasi beberapa gangguan.
Alwan Ridha Ramdani - Selasa, 12 Agustus 2025
Ciri-Ciri dan Risiko Warga Yang Alami Long COVID
Indonesia
[HOAKS atau FAKTA]: Polisi dan Kejaksaan Periksa semua Orang yang Ikut Temu Alumni UGM bersama Jokowi
Reuni UGM yang dihadiri Jokowi ramai dibicarakan publik lantaran kegiatan itu disebut sebagai rekayasa.
Ananda Dimas Prasetya - Rabu, 06 Agustus 2025
[HOAKS atau FAKTA]: Polisi dan Kejaksaan Periksa semua Orang yang Ikut Temu Alumni UGM bersama Jokowi
Bagikan