Abu Vulkanik Anak Krakatau Bergerak ke Mana? Begini Cara Cek Arah Angin Realtime

Yusuf AbdillahYusuf Abdillah - Minggu, 06 September 2026
Abu Vulkanik Anak Krakatau Bergerak ke Mana? Begini Cara Cek Arah Angin Realtime

Cara lihat perkembangan arah angin terkait sebaran abu vulkanik anak Krakatau. (foto: unspalsh/)

Ukuran text:
14
Dengarkan Berita:

MerahPutih.com - Erupsi Gunung Anak Krakatau membuat masyarakat di sejumlah wilayah Banten, Jakarta, Jawa Barat, hingga Lampung waspada terhadap sebaran abu vulkanik.

Abu yang keluar dari gunung api dapat terbawa angin dan bergerak jauh dari lokasi erupsi.

Pada Minggu (6/9), Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) mengidentifikasi dua klaster utama sebaran abu vulkanik Anak Krakatau berdasarkan informasi PVMBG, Volcanic Ash Advisory Center (VAAC) Darwin, serta analisis citra satelit Himawari-9.

Baca juga:

4 Cara Aman Hadapi Abu Vulkanik Gunung Anak Krakatau, Jangan Disepelekan

Salah satu klaster terpantau bergerak ke arah timur laut hingga selatan dengan ketinggian hingga sekitar 20.000 kaki dan mencakup sebagian Banten, Jakarta, serta Jawa Barat.

Sementara klaster lainnya berada pada ketinggian hingga sekitar 50.000 kaki dan bergerak ke arah barat daya hingga barat laut, mencakup sebagian wilayah Lampung dan sekitarnya.

Karena arah dan kecepatan angin dapat berubah, masyarakat sebenarnya bisa ikut memantau pergerakan massa udara secara daring.

Lantas, bagaimana cara melihat arah angin secara realtime?

1. Buka situs BMKG

Cara paling mudah adalah menggunakan layanan resmi BMKG. BMKG menyediakan berbagai produk satelit yang dapat digunakan untuk melihat kondisi atmosfer Indonesia, termasuk Vektor Angin.

Citra satelit dipadukan dengan vektor angin lapisan 850 mb dari model GSM. Dengan demikian, pengguna dapat melihat arah sekaligus kecepatan angin pada lapisan atmosfer tertentu.

2. Perhatikan arah panah pada peta

Setelah membuka peta vektor angin, perhatikan tanda panah yang tersebar di wilayah Indonesia. Panah tersebut menunjukkan arah pergerakan angin.

Namun, perlu diperhatikan bahwa arah angin bukan berarti arah dari mana abu pasti akan datang secara langsung. Abu vulkanik dapat berada di beberapa lapisan atmosfer dengan kondisi angin yang berbeda.

Karena itu, peta arah angin sebaiknya digunakan bersama informasi resmi mengenai sebaran abu vulkanik.

Baca juga:

Sebaran Abu Anak Krakatau Capai Jakarta, Depok, dan Bogor

3. Cek citra sebaran abu vulkanik BMKG

Selain melihat arah angin, BMKG juga memiliki produk khusus bernama Citra Sebaran Abu Vulkanik.

Produk tersebut menampilkan hasil analisis sebaran abu vulkanik yang berasal dari informasi aktivitas gunung api dari VAAC Darwin. Dalam peta BMKG, sebaran abu ditampilkan dengan penanda tertentu sehingga masyarakat dapat melihat wilayah yang diperkirakan terdampak.

Untuk kondisi seperti erupsi Anak Krakatau, informasi ini lebih berguna dibanding hanya melihat prakiraan cuaca umum karena fokusnya memang pada pergerakan abu vulkanik.

4. Gunakan citra satelit Himawari-9

BMKG juga menyediakan pemantauan satelit Himawari-9 yang dapat digunakan untuk melihat kondisi atmosfer secara lebih luas.

Citra satelit dapat membantu memberikan gambaran mengenai pergerakan massa udara dan kondisi di sekitar wilayah Indonesia. BMKG juga menyediakan peta satelit interaktif yang memungkinkan pengguna melakukan pemantauan wilayah tertentu.

Baca juga:

Bandara Soekarno-Hatta Ditutup Imbas Abu Vulkanik Anak Krakatau, 33 Penerbangan Terdampak

Hal ini penting karena arah sebaran abu dapat berubah seiring perubahan kondisi atmosfer.

Jadi, jika ingin mengetahui apakah abu vulkanik Anak Krakatau berpotensi bergerak menuju wilayah tempat tinggal, cara paling sederhana adalah membuka peta vektor angin BMKG, melihat citra sebaran abu vulkanik, kemudian membandingkannya dengan pembaruan resmi terbaru. (Far)

#Gunung Anak Krakatau #Erupsi #BMKG
Google
Tambahkan Merahputih.com Sebagai Sumber Utama di Google untuk Dapatkan Berita Eksklusif.
Tambahkan Sekarang
Bagikan

Berita Terkait

Berita Foto
Jakarta Makin Gerah, Ini Penjelasan BMKG soal Kondisi Cuaca
Sejumlah pejalan kaki memakai payung saat beraktivitas di Kawasan Dukuh Atas, Bundaran HI, Jakarta, Rabu (21/10/2026).
Didik Setiawan - Rabu, 21 Oktober 2026
Jakarta Makin Gerah, Ini Penjelasan BMKG soal Kondisi Cuaca
Indonesia
Prakiraan Cuaca BMKG Selasa, 20 Oktober 2026: Gelombang Tinggi Mengintai, Sejumlah Kota Berpotensi Hujan
Prakiraan cuaca BMKG Selasa, 20 Oktober 2026, mencakup potensi hujan ringan, udara kabur, Siklon Tropis Champi, dan gelombang tinggi hingga 4 meter.
Frengky Aruan - Selasa, 20 Oktober 2026
Prakiraan Cuaca BMKG Selasa, 20 Oktober 2026: Gelombang Tinggi Mengintai, Sejumlah Kota Berpotensi Hujan
Indonesia
Asap Karhutla Menjauh dari Jabodetabek, Kualitas Udara masih tak Sehat
Asap karhutla sempat memasuki wilayah Jawa bagian barat, termasuk Jabodetabek, pada Jumat (16/10).
Dwi Astarini - Senin, 19 Oktober 2026
Asap Karhutla Menjauh dari Jabodetabek, Kualitas Udara masih tak Sehat
Indonesia
BMKG Prediksi Sejumlah Wilayah Masih Kering hingga 24 Oktober, Waspadai Karhutla
BMKG memperkirakan kondisi relatif kering masih berlanjut di sejumlah wilayah Indonesia pada 17–24 Oktober 2026. Masyarakat juga diminta membatasi aktivitas di luar ruangan apabila kualitas udara memburuk akibat asap karhutla.
Frengky Aruan - Senin, 19 Oktober 2026
BMKG Prediksi Sejumlah Wilayah Masih Kering hingga 24 Oktober, Waspadai Karhutla
Indonesia
BMKG Catat 478 Titik Panas, Sumatera Selatan Tertinggi
Sumatera Selatan menjadi wilayah dengan jumlah titik panas terbanyak, yakni 189 titik.
Frengky Aruan - Senin, 19 Oktober 2026
BMKG Catat 478 Titik Panas, Sumatera Selatan Tertinggi
Indonesia
Prakiraan Cuaca BMKG Senin, 19 Oktober: Hujan Petir Perlu Diwaspadai, Gelombang Tinggi Capai 4 Meter
Prakiraan cuaca BMKG Senin, 19 Oktober 2026: hujan petir, gelombang tinggi hingga 4 meter, dan potensi banjir rob di sejumlah wilayah Indonesia.
Frengky Aruan - Senin, 19 Oktober 2026
Prakiraan Cuaca BMKG Senin, 19 Oktober: Hujan Petir Perlu Diwaspadai, Gelombang Tinggi Capai 4 Meter
Indonesia
Asap Karhutla Mulai Menjauh dari Jabodetabek, BMKG Ungkap Fakta Kualitas Udara Jakarta
Asap karhutla mulai menjauh dari Jabodetabek, tetapi kualitas udara Jakarta masih tidak sehat di sejumlah titik. BMKG mengingatkan potensi cuaca kering dan kebakaran hutan.
Frengky Aruan - Minggu, 18 Oktober 2026
Asap Karhutla Mulai Menjauh dari Jabodetabek, BMKG Ungkap Fakta Kualitas Udara Jakarta
Indonesia
Prakiraan Cuaca BMKG Minggu, 18 Oktober 2026: Hujan Petir Mengintai, Penerbangan Diminta Waspada
Prakiraan cuaca BMKG Minggu, 18 Oktober 2026, menunjukkan potensi hujan ringan, petir, dan kabut di sejumlah wilayah Indonesia. Waspadai awan Cumulonimbus yang dapat mengganggu penerbangan.
Frengky Aruan - Minggu, 18 Oktober 2026
Prakiraan Cuaca BMKG Minggu, 18 Oktober 2026: Hujan Petir Mengintai, Penerbangan Diminta Waspada
Indonesia
Update BMKG: Asap Karhutla Mulai Menjauhi Jabodetabek, Kualitas Udara Masih Perlu Diwaspadai
Sebaran asap kebakaran hutan dan lahan (karhutla) mulai menjauhi wilayah Jawa bagian barat, termasuk Jakarta, Bogor, Depok, Tangerang, dan Bekasi.
Yusuf Abdillah - Sabtu, 17 Oktober 2026
Update BMKG: Asap Karhutla Mulai Menjauhi Jabodetabek, Kualitas Udara Masih Perlu Diwaspadai
Indonesia
Banjir Rob Jakarta Utara 12-16 Oktober 2026: Peringatan Dini BMKG dan Wilayah Terdampak
Cari info prediksi banjir rob Jakarta Utara terbaru? Cek peringatan dini BMKG untuk periode 12-16 Oktober 2026, daftar wilayah terdampak, dan antisipasinya di sini.
Angga Yudha Pratama - Jumat, 16 Oktober 2026
Banjir Rob Jakarta Utara 12-16 Oktober 2026: Peringatan Dini BMKG dan Wilayah Terdampak
Bagikan