MerahPutih.com - Erupsi Gunung Anak Krakatau membuat masyarakat di sejumlah wilayah Banten, Jakarta, Jawa Barat, hingga Lampung waspada terhadap sebaran abu vulkanik.
Abu yang keluar dari gunung api dapat terbawa angin dan bergerak jauh dari lokasi erupsi.
Pada Minggu (6/9), Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) mengidentifikasi dua klaster utama sebaran abu vulkanik Anak Krakatau berdasarkan informasi PVMBG, Volcanic Ash Advisory Center (VAAC) Darwin, serta analisis citra satelit Himawari-9.
Baca juga:
4 Cara Aman Hadapi Abu Vulkanik Gunung Anak Krakatau, Jangan Disepelekan
Salah satu klaster terpantau bergerak ke arah timur laut hingga selatan dengan ketinggian hingga sekitar 20.000 kaki dan mencakup sebagian Banten, Jakarta, serta Jawa Barat.
Sementara klaster lainnya berada pada ketinggian hingga sekitar 50.000 kaki dan bergerak ke arah barat daya hingga barat laut, mencakup sebagian wilayah Lampung dan sekitarnya.
Karena arah dan kecepatan angin dapat berubah, masyarakat sebenarnya bisa ikut memantau pergerakan massa udara secara daring.
Lantas, bagaimana cara melihat arah angin secara realtime?
1. Buka situs BMKG
Cara paling mudah adalah menggunakan layanan resmi BMKG. BMKG menyediakan berbagai produk satelit yang dapat digunakan untuk melihat kondisi atmosfer Indonesia, termasuk Vektor Angin.
Citra satelit dipadukan dengan vektor angin lapisan 850 mb dari model GSM. Dengan demikian, pengguna dapat melihat arah sekaligus kecepatan angin pada lapisan atmosfer tertentu.
2. Perhatikan arah panah pada peta
Setelah membuka peta vektor angin, perhatikan tanda panah yang tersebar di wilayah Indonesia. Panah tersebut menunjukkan arah pergerakan angin.
Namun, perlu diperhatikan bahwa arah angin bukan berarti arah dari mana abu pasti akan datang secara langsung. Abu vulkanik dapat berada di beberapa lapisan atmosfer dengan kondisi angin yang berbeda.
Karena itu, peta arah angin sebaiknya digunakan bersama informasi resmi mengenai sebaran abu vulkanik.
Baca juga:
3. Cek citra sebaran abu vulkanik BMKG
Selain melihat arah angin, BMKG juga memiliki produk khusus bernama Citra Sebaran Abu Vulkanik.
Produk tersebut menampilkan hasil analisis sebaran abu vulkanik yang berasal dari informasi aktivitas gunung api dari VAAC Darwin. Dalam peta BMKG, sebaran abu ditampilkan dengan penanda tertentu sehingga masyarakat dapat melihat wilayah yang diperkirakan terdampak.
Untuk kondisi seperti erupsi Anak Krakatau, informasi ini lebih berguna dibanding hanya melihat prakiraan cuaca umum karena fokusnya memang pada pergerakan abu vulkanik.
4. Gunakan citra satelit Himawari-9
BMKG juga menyediakan pemantauan satelit Himawari-9 yang dapat digunakan untuk melihat kondisi atmosfer secara lebih luas.
Citra satelit dapat membantu memberikan gambaran mengenai pergerakan massa udara dan kondisi di sekitar wilayah Indonesia. BMKG juga menyediakan peta satelit interaktif yang memungkinkan pengguna melakukan pemantauan wilayah tertentu.
Baca juga:
Bandara Soekarno-Hatta Ditutup Imbas Abu Vulkanik Anak Krakatau, 33 Penerbangan Terdampak
Hal ini penting karena arah sebaran abu dapat berubah seiring perubahan kondisi atmosfer.
Jadi, jika ingin mengetahui apakah abu vulkanik Anak Krakatau berpotensi bergerak menuju wilayah tempat tinggal, cara paling sederhana adalah membuka peta vektor angin BMKG, melihat citra sebaran abu vulkanik, kemudian membandingkannya dengan pembaruan resmi terbaru. (Far)