MASOKIS kerap dihubungkan dengan penyimpangan dalam kehidupan seksual. Gambaran masokis dapat disaksikan pada film Fifty Shades of Grey. Kecenderungan mendapatkan kenikmatan ketika disakiti saat melakukan kegiatan seksual menjadi titik pusatnya.
Dikutip dari Instyle, orang yang menderita masokis emosional cenderung merasa nyaman apabila berhubungan dengan orang yang menyakitinya. Dia akan merasa puas setelah disakiti secara emosi. Hal tersebut bisa terjadi karena terkadang tidak berpikir bahwa pantas mendapatkan pasangan yang lebih baik, selain itu yang paling mempengaruhi yaitu trauma.
Seringkali dia kembali ke orang-orang yang menyebabkan sakit secara emosional dan mengalami kesulitan untuk membuat batasan dengan orang-orang yang menyakitkan dalam hidup kamu. Lalu, apa saja sih tanda-tanda seorang masokis emosional?
Baca Juga:
Pasangan buruk
Orang ini seringkali kembali kepada pasangan yang sudah jelas-jelas menyakitinya berkali-kali. Ini terjadi karena dia seringkali berpikir bahwa tidak pantas mendapatkan orang yang lebih baik.
Negatif
Menghabiskan banyak waktu untuk berbicara pada diri sendiri sebenarnya merupakan suatu ha yang baik. Tapi dia selalu berbicara dengan cara yang negatif tentu saja tidak baik. Hal ini merupakan bentuk dari masokis. Dimana dia sering kali melontarkan kata-kata negatif kepada diri sendiri dan tidak ada penolakan sama sekali.
Drama
Yang mengherankan hidupnya selalu damai dan tentram. Namun dia selalu berusaha untuk menciptakan drama, disengaja maupun tidak sengaja, dan dia sering tidak menyadarinya.
Baca Juga:
Toksik
Dalam lingkungannya, seperti keluarga, teman, dan pasangan, sering dikelilingi oleh orang-orang yang kejam dan kasar. Mungkin ini yang membuatnya akrab dan nyaman berdasarkan sesuatu yang terjadi di masa lalunya. Mungkin dia merasa harga dirinya rendah kemudian berpikir hanya hal itu saja yang pantas untuk dia dapatkan. Perlu diingat bahwa lingkungan pergaulan atau lingkungan terdekat adalah pilihan pribadi.
Tolak hubungan sehat
Ada kecenderungan bahwa hubungan sehat yang damai justru membuatnya tidak nyaman. Dia merasa sangat jenuh dalam hubungan seperti itu. Dia tak menyadari pada saat itu dia tengah mengakhiri hal yang sehat. bahkan keintiman, keakraban membuat dia tidak nyaman dan memutuskan untuk keluar dari hubungan yang sehat tersebut. (yos)
Baca Juga: