Pendidikan Anak

5 Alasan Mengapa PR Tidak Bagus untuk Anak-Anak, Benarkah?

Ananda Dimas PrasetyaAnanda Dimas Prasetya - Minggu, 16 Juni 2019
5 Alasan Mengapa PR Tidak Bagus untuk Anak-Anak, Benarkah?

Alasan Mengapa PR tidak bagus untuk anak anak (Foto: Pixabay/Jeshoots)

Ukuran text:
14
Dengarkan Berita:

SEKOLAH memang salah satu jenjang yang wajib dijalani dalam kehidupan, khususnya anak-anak. Jika mereka tidak bersekolah mungkin mereka tidak akan mendapatkan keterampilan atau kemampuan yang mereka miliki untuk berhasil di masa depan. Sekolah memang penting bagi anak-anak meskipun begitu mereka juga berhak untuk memiliki jeda dari sekolahnnya.

Biasanya waktu belajar selama sekolah yakni tujuh jam dalam sehari, namun setelah pulang mereka tetap diberikan Pekerjaan Rumah (PR). Tidak semua orang tua setuju bahwa memberikan PR adalah ide yang bagus, karena anak-anak butuh istirahat ketika berada dirumah. Dengan adanya PR anak-anak bisa kehilangan waktu luang yang mereka miliki untuk mengerjakannya. Melansir laman huffpost, berikut lima alasan mengapa PR tidak bagus untuk anak-anak.

1. Membuat Stres

5 Alasan Mengapa PR Tidak Bagus untuk Anak-Anak, Benarkah?
Terlalu Banyak PR membuat anak anak stres (Foto: YummyMummyClub)

Seringkali guru memberikan PR kepada muridnya dengan alasan agar anak-anak lebih mengerti dalam suatu pelajaran, memang benar. Tetapi memberikan PR kepada anak-anak memiliki efek negatif kepada anak-anak.

Hal tersebut dikarenakan anak-anak yang seharusnya dapat menghabiskan waktu luangnya untuk bermain dengan teman sebayanya agar menambah sosialisasinya atau beristirahat dirumah tetapi mereka menghabiskan waktu berjam-jam hanya untuk mengerjakan PR yang diberikan dibandingkan beristirahat.

Hal tersebut bisa membuat anak-anak mengalami stress, kurangnya antusiasme terhadap pendidikan, dan bisa mengganggu kesehatan.

2. Mengurangi Kehidupan Sosial

5 Alasan Mengapa PR Tidak Bagus untuk Anak-Anak, Benarkah?
Terlalu banyak mengerjakan pr sehingga kurang bersosialisasi (Foto: Pexels/HuyPhan)

Banyak PR yang harus dikerjakan, bahkan hingga malam hari dirumahnya. Karena mereka lebih sering berada dirumah untuk mengerjakan PR hal tersebut menyebabkan keterampilan untuk berkomunikasi dengan lingkungan sekitar yang buruk di masa depan anak-anak, bahkan mereka bisa menjadi anak yang pendiam.

Tidak heran jika anak muda tidak ingin melakukan pekerjaan rumah tetapi menggunakan waktu luang yang mereka miliki untuk berpergian bersama teman-temannya.

3. Tidak Efektif

5 Alasan Mengapa PR Tidak Bagus untuk Anak-Anak, Benarkah?
PR bukanlah hal yang efektif untuk menjadi mengerti pelajaran (Foto: CollegeHomeworkHelp)

PR yang diberikan guru bisa dibilang tidak efektif karena sebagian besar anak-anak meminta kakak, saudara, orang tua, atau guru pribadi mereka untuk mengerjakannya.

Lebih baik guru tidak perlu untuk memberikan PR, melainkan tugas-tugas saat mereka sedang disekolah, karena saat mereka mengerjakan PR mereka akan melupakan apa yang mereka tulis saat PR itu diserahkan.

4. Kelelahan yang Berlebih

5 Alasan Mengapa PR Tidak Bagus untuk Anak-Anak, Benarkah?
Kelelahan disekolah yang diakibatkan terlalu banyak PR (Foto: Understood)

Tujuh jam berada disekolah membuat anak-anak sudah lelah, mengantuk, dan ingin beristirahat. Jika diberikan PR yang membutuhkan waktu yang lama, bukan hanya hitungan menit bisa menjadi beban berat bagi anak-anak, alhasil anak-anak dan PRnya hanya akan menyebabkan kelelahan total.

5. Kehilangan Minat Akan Dunia Luar

5 Alasan Mengapa PR Tidak Bagus untuk Anak-Anak, Benarkah?
Kurang berminat pergi keluar karena sudah lelah dengan PR (Foto: Momtastic)

PR yang banyak hanya akan menambah pikiran pada anak-anak, tekanan untuk mengerjakan PR hanya membuat mereka kehilangan minat terhadap apapun karena harus fokus untuk mengerjakan PR.

Anak-anak membutuhkan waktu untuk beralih fokus, bermain bersama teman, menjelajahi dunia, bersenang-senang dengan orangtuanya, tetapi jika terlalu banyak mengerjakan PR mereka tidak bisa efektif disekolah maupun universitas sekalipun. (ape)

#Anak Sekolah #Parenting #Pendidikan Anak
Google
Tambahkan Merahputih.com Sebagai Sumber Utama di Google untuk Dapatkan Berita Eksklusif.
Tambahkan Sekarang
Bagikan

Ananda Dimas Prasetya

Penulis, editor, dan praktisi konten digital dengan latar belakang akademis di bidang jurnalistik serta pengalaman dalam penyusunan artikel berita, konten informatif, dan optimasi mesin pencari (SEO). Lulusan Fakultas Ilmu Komunikasi, Jurusan Jurnalistik, Universitas Padjadjaran (2007–2014) dengan pemahaman mendalam mengenai kaidah jurnalistik, etika media, verifikasi informasi, dan teknik penulisan profesional. Berfokus pada pengembangan konten yang mengutamakan akurasi, relevansi, dan nilai informasi bagi pembaca. Memastikan artikel disusun melalui proses riset, verifikasi sumber, dan pengolahan data cermat guna menjamin kualitas informasi yang disajikan. Berbagai topik yang menjadi perhatian meliputi pemerintahan, ekonomi, pendidikan, teknologi, budaya, hiburan (musik & film), gaya hidup, motorsports, hingga isu-isu sosial yang berkembang di masyarakat.
Show More
Follow Me

Berita Terkait

Lifestyle
Rumah Cerebral Palsy Dorong Pemerintah Perkuat Dukungan bagi Anak Penyandang CP
Iis R. Soelaeman mendorong dukungan pemerintah bagi anak dengan cerebral palsy melalui akses terapi, kesehatan, pendidikan inklusif, dan fasilitas aksesibel.
Ananda Dimas Prasetya - Senin, 26 Oktober 2026
Rumah Cerebral Palsy Dorong Pemerintah Perkuat Dukungan bagi Anak Penyandang CP
Lifestyle
Mendampingi Anak dengan CP, Rumah Cerebral Palsy Tekankan Pentingnya Support System
World Cerebral Palsy Day 2026 jadi momentum untuk memperkuat dukungan bagi anak dengan CP. Tekankan potensi anak dan pentingnya support system bagi keluarga.
Ananda Dimas Prasetya - Senin, 26 Oktober 2026
Mendampingi Anak dengan CP, Rumah Cerebral Palsy Tekankan Pentingnya Support System
Lifestyle
Karya Raya 2026, ketika Karya Bertumbuh, Anak Ikut Bertumbuh
Dengan membawa tema Garden of Kindness: Where Creativity Grows on You, Karya Raya menegaskan pertumbuhan bukan hanya tentang banyaknya karya yang dihasilkan.
Dwi Astarini - Kamis, 24 September 2026
Karya Raya 2026, ketika Karya Bertumbuh, Anak Ikut Bertumbuh
Lifestyle
8 Cara Keluarga Cegah Anak Terpapar Pemahaman Kekerasan dan Radikalisme
Regulasi penggunaan sosial media pada anak di Indonesia belum seketat negara maju lainnya.
Dwi Astarini - Senin, 07 September 2026
8 Cara Keluarga Cegah Anak Terpapar Pemahaman Kekerasan dan Radikalisme
Indonesia
Menteri PPPA Soroti Pola Asuh di Era Digital, Anak Lebih Nyaman Curhat ke Teman
Survei Forum Anak di Jawa Tengah terhadap lebih dari 20 ribu anak menunjukkan 80 persen lebih nyaman curhat kepada teman dibanding orang tua.
Ananda Dimas Prasetya - Senin, 24 Agustus 2026
Menteri PPPA Soroti Pola Asuh di Era Digital, Anak Lebih Nyaman Curhat ke Teman
Lifestyle
AIMI Ingatkan Risiko Mitos Menyusui yang tidak Berbasis Bukti
Masyarakat diharapkan lebih kritis dalam menerima informasi, terutama yang disampaikan key opinion leader (KOL) atau figur publik.
Dwi Astarini - Jumat, 31 Juli 2026
AIMI Ingatkan Risiko Mitos Menyusui yang tidak Berbasis Bukti
Indonesia
DPR Nilai Penggunaan Gawai Anak sudah Lampaui Batas, Minta Sekolah Punya Aturan Jelas
Penggunaan perangkat digital yang berlebihan dapat mengurangi interaksi sosial hingga memengaruhi kesehatan mental peserta didik.
Dwi Astarini - Rabu, 29 Juli 2026
DPR Nilai Penggunaan Gawai Anak sudah Lampaui Batas, Minta Sekolah Punya Aturan Jelas
Indonesia
Seorang Pelajar di Palmerah Jakarta Dibacok Orang Tidak Dikenal, Korban Alami Tiga Jahitan di Kepala
Pelaku pembacokan itu, diketahui menggunakan jaket serta masker. Salah satu terduga pelaku juga nampak mengenakan celana sekolah.
Alwan Ridha Ramdani - Selasa, 28 Juli 2026
Seorang Pelajar di Palmerah Jakarta Dibacok Orang Tidak Dikenal, Korban Alami Tiga Jahitan di Kepala
Lifestyle
Cara Batasi Waktu Bermain Roblox Anak: Panduan Parental Control dan Blokir Jaringan
Langkah sistematis ini memastikan batas waktu bermain berjalan otomatis tanpa perlu penyitaan perangkat secara fisik
Angga Yudha Pratama - Selasa, 28 Juli 2026
Cara Batasi Waktu Bermain Roblox Anak: Panduan Parental Control dan Blokir Jaringan
Fun
S-26 Exceptional Journey Hadir di Jakarta, Ajak Orang Tua Pahami Perkembangan Otak Anak
S-26 Exceptional Journey: Journey Inside The Brain menghadirkan pengalaman edukatif imersif yang mengajak orang tua memahami perkembangan anak.
Ananda Dimas Prasetya - Sabtu, 25 Juli 2026
S-26 Exceptional Journey Hadir di Jakarta, Ajak Orang Tua Pahami Perkembangan Otak Anak
Bagikan