Mendampingi Anak dengan CP, Rumah Cerebral Palsy Tekankan Pentingnya Support System

Ananda Dimas PrasetyaAnanda Dimas Prasetya - 1 jam, 4 menit lalu
Mendampingi Anak dengan CP, Rumah Cerebral Palsy Tekankan Pentingnya Support System

Co-Founder Rumah Cerebral Palsy, Iis R. Soelaeman, saat membuka acara World Cerebral Palsy Day 2026. (Foto: MerahPutih.com/Tika)

Ukuran text:
14
Dengarkan Berita:

MerahPutih.com - Peringatan World Cerebral Palsy Day 2026 menjadi momentum untuk memperkuat dukungan bagi anak dengan cerebral palsy (CP) dan keluarga mereka. Penerimaan, penghargaan terhadap potensi anak, serta dukungan dari lingkungan sekitar menjadi bagian penting dalam perjalanan keluarga mendampingi anak dengan CP.

Co-Founder Rumah Cerebral Palsy, Iis R. Soelaeman, menegaskan bahwa peringatan ini bukan sekadar seremoni, melainkan kesempatan untuk meningkatkan pemahaman masyarakat tentang kebutuhan anak dengan cerebral palsy.

“Dengan tema Unique and Umited atau Perbedaan tapi Bersatu, bagi saya pribadi hari ini bukan sekadar sebuah pernyataan, tetapi hari ini adalah tentang penerimaan, harapan dan perjuangan yang kita jalani bersama,” kata Iis saat membuka acara World Cerebral Palsy Day 2026, Minggu (25/10).

Menurut Iis, keluarga membutuhkan dukungan yang berkelanjutan untuk memahami kebutuhan anak, menghadapi tantangan pengasuhan, dan mempersiapkan masa depan mereka.

Pengalaman Mendampingi Anak dengan Cerebral Palsy

Iis berbagi pengalaman mendampingi putrinya, Rana, yang hidup dengan cerebral palsy dan akan berusia 29 tahun pada bulan depan.

Pengalaman selama hampir tiga dekade membuat Iis memahami bahwa setiap keluarga memiliki tantangan tersendiri. Orang tua perlu mempelajari kebutuhan anak, mengambil keputusan penting, serta menghadapi berbagai kekhawatiran mengenai masa depan.

Salah satu persoalan yang kerap membebani pikiran orang tua adalah keberlanjutan perawatan anak ketika mereka tidak lagi mampu mendampingi atau meninggal dunia lebih dahulu.

Orang tua perlu mempelajari kebutuhan anak, mengambil keputusan penting, serta menghadapi kekhawatiran tentang masa depan mereka. Salah satu hal yang kerap menjadi beban pikiran orang tua adalah siapa yang akan merawat anak ketika mereka sudah tidak mampu mendampingi atau meninggal dunia lebih dahulu,

Co-Founder Rumah Cerebral Palsy, Iis R. Soelaeman.

Ia mengakui, kekhawatiran tersebut terkadang membuat orang tua merasa sedih dan lelah. Tantangan itu dapat semakin berat ketika keluarga juga harus menghadapi masalah kesehatan, operasi, dan berbagai kendala lain dalam mendampingi anak.

Baca juga:

Penyandang Cerebral Palsy Dapat Bantuan Dana Pendidikan dari Bank DKI

Anak dengan CP Bukan Sekadar Diagnosis

Iis menekankan bahwa anak dengan cerebral palsy tidak seharusnya hanya dipandang berdasarkan diagnosis atau keterbatasan yang mereka miliki.

Menurutnya, setiap anak tetap mempunyai potensi, emosi, keinginan, dan hak untuk menentukan pilihan dalam hidup. Karena itu, keluarga perlu memberikan ruang bagi anak untuk berkembang sesuai dengan kemampuan masing-masing.

Anak-anak ini tidak butuh dikasihani, tetapi mereka butuh kita percaya pada potensi mereka. Mereka butuh kita percaya pada kemampuan mereka dan kita menghargai setiap pencapaian yang mereka ambil, sekecil apa pun,

Co-Founder Rumah Cerebral Palsy, Iis R. Soelaeman.

Ia juga mengingatkan orang tua agar tidak membandingkan perkembangan anak dengan anak lainnya. Setiap anak memiliki proses dan tahapan perkembangan yang berbeda sehingga pencapaian mereka perlu dihargai sesuai dengan kemampuan masing-masing.

Bagi Iis, menghargai anak tidak berhenti pada penerimaan di lingkungan keluarga. Hal itu juga berarti memperjuangkan hak anak untuk memperoleh akses kesehatan, pendidikan, dan berbagai kebutuhan lain yang menunjang kehidupan mereka.

Baca juga:

Sepatu Khusus untuk Anak Penyandang Down Syndrome dan Cerebral Palsy

Rumah Cerebral Palsy Jadi Ruang Berbagi dan Belajar

Semangat untuk saling mendukung dan memperjuangkan hak anak mendorong lahirnya Rumah Cerebral Palsy sekitar 14 tahun lalu.

Komunitas ini menjadi ruang bagi keluarga untuk berbagi pengalaman, saling menguatkan, serta memahami kebutuhan anak dengan cerebral palsy. Keanggotaannya tersebar di sejumlah wilayah, termasuk Tangerang, Jakarta, dan Bekasi.

Melalui komunitas tersebut, orang tua dapat bertukar informasi mengenai pengasuhan, perkembangan anak, hingga tantangan yang mereka hadapi sehari-hari. Dukungan dari sesama keluarga juga membantu orang tua menyadari bahwa mereka tidak harus menghadapi seluruh persoalan seorang diri.

Iis menilai, komunitas memiliki peran penting karena setiap keluarga membutuhkan ruang yang aman untuk belajar dan menyampaikan kesulitan tanpa merasa dihakimi.

Keberadaan Rumah Cerebral Palsy juga menjadi alternatif dukungan bagi keluarga yang membutuhkan ruang untuk saling memahami dan berbagi pengalaman dalam mendampingi anak.

Baca juga:

Cerebral Palsy dapat Diobati?

Pentingnya Support System bagi Keluarga

Dalam kesempatan tersebut, Iis mengajak orang tua untuk lebih terbuka ketika membutuhkan bantuan. Menurutnya, memendam kekhawatiran seorang diri justru dapat membuat perjalanan pengasuhan terasa semakin berat.

Ia mengingatkan bahwa dukungan tidak hanya dapat berasal dari keluarga, tetapi juga dari berbagai pihak di luar rumah, seperti tenaga kesehatan, lembaga pendidikan, dan masyarakat.

Karena itu, keterbukaan mengenai kebutuhan keluarga menjadi langkah penting agar lingkungan sekitar dapat memahami kondisi mereka dan memberikan dukungan yang sesuai.

Melalui World Cerebral Palsy Day 2026, Iis berharap semakin banyak orang memahami bahwa anak dengan cerebral palsy dan keluarganya membutuhkan dukungan nyata, bukan sekadar rasa iba.

“Setiap orang tua yang hadir hari ini percaya bahwa kita tidak sendirian. Ada banyak support system di luar sana yang siap membantu kita. Mari kita mulai jujur ketika kita butuh bantuan, jangan dipendam sendiri. Biarkan masyarakat paham keberadaan kita, keberadaan keluarga kita, dan keberadaan anak-anak kita,” tuturnya. (Tka)

#Cerebral Palsy #Parenting #Anak
Google
Tambahkan Merahputih.com Sebagai Sumber Utama di Google untuk Dapatkan Berita Eksklusif.
Tambahkan Sekarang
Bagikan

Berita Terkait

Lifestyle
Mendampingi Anak dengan CP, Rumah Cerebral Palsy Tekankan Pentingnya Support System
World Cerebral Palsy Day 2026 jadi momentum untuk memperkuat dukungan bagi anak dengan CP. Tekankan potensi anak dan pentingnya support system bagi keluarga.
Ananda Dimas Prasetya - 1 jam, 4 menit lalu
Mendampingi Anak dengan CP, Rumah Cerebral Palsy Tekankan Pentingnya Support System
Dunia
Profil RJ Mitte 'Breaking Bad', Pejuang Hak Disabilitas Penyandang Cerebral Palsy Berpulang di Usia 34 Tahun
Aktor Breaking Bad RJ Mitte meninggal dunia di Texas usia 34 tahun. Simak profil, perjalanan karier, dan pengakuan rekan selebriti atas kepergiannya!
Wisnu Cipto - Selasa, 13 Oktober 2026
Profil RJ Mitte 'Breaking Bad', Pejuang Hak Disabilitas Penyandang Cerebral Palsy Berpulang di Usia 34 Tahun
Lifestyle
Karya Raya 2026, ketika Karya Bertumbuh, Anak Ikut Bertumbuh
Dengan membawa tema Garden of Kindness: Where Creativity Grows on You, Karya Raya menegaskan pertumbuhan bukan hanya tentang banyaknya karya yang dihasilkan.
Dwi Astarini - Kamis, 24 September 2026
Karya Raya 2026, ketika Karya Bertumbuh, Anak Ikut Bertumbuh
Indonesia
Ibu di Solo 2 Kali Jual Anak Rp 15 Juta dan 6 Juta Buat Bayar Hutang dan Penuhi Kebutuhan Sehari-hari
Sebelumnya tersangka juga berniat menjual anak pertamanya R p15 juta. Tetapi batal dan saat ini bayi telah berusia sekitar satu tahun
Alwan Ridha Ramdani - Kamis, 24 September 2026
Ibu di Solo 2 Kali Jual Anak Rp 15 Juta dan 6 Juta Buat Bayar Hutang dan Penuhi Kebutuhan Sehari-hari
Lifestyle
8 Cara Keluarga Cegah Anak Terpapar Pemahaman Kekerasan dan Radikalisme
Regulasi penggunaan sosial media pada anak di Indonesia belum seketat negara maju lainnya.
Dwi Astarini - Senin, 07 September 2026
8 Cara Keluarga Cegah Anak Terpapar Pemahaman Kekerasan dan Radikalisme
Indonesia
620 Anak Terhubung Terorisme, BNPT Soroti Bahaya Paparan Radikalisme di Media Sosial
BNPT mengungkap 620 anak usia 11-18 tahun terpapar kekerasan dan radikalisme. 6 anak di Jakarta diarahkan menjalani rehabilitasi.
Ananda Dimas Prasetya - Kamis, 03 September 2026
620 Anak Terhubung Terorisme, BNPT Soroti Bahaya Paparan Radikalisme di Media Sosial
Lainnya
Jangan Dianggap Sakit Perut Biasa, Ini Ciri-Ciri Gejala Usus Buntu Anak!
Usus buntu bisa mengakibatkan kematian. Jangan anggap semua sakit perut anak sebagai keluhan biasa.
Wisnu Cipto - Selasa, 01 September 2026
Jangan Dianggap Sakit Perut Biasa, Ini Ciri-Ciri Gejala Usus Buntu Anak!
Berita Foto
Jaring Bibit Padel Muda Lewat Rosiade Padel Tournament Youth Series 2026
Sejumlah anak mengikuti pertandingan padel dalam ajang Rosiade Padel Tournament Youth Series 2026 di Tangerang, Banten, Sabtu (29/8/2026).
Didik Setiawan - Sabtu, 29 Agustus 2026
Jaring Bibit Padel Muda Lewat Rosiade Padel Tournament Youth Series 2026
Indonesia
Menteri PPPA Soroti Pola Asuh di Era Digital, Anak Lebih Nyaman Curhat ke Teman
Survei Forum Anak di Jawa Tengah terhadap lebih dari 20 ribu anak menunjukkan 80 persen lebih nyaman curhat kepada teman dibanding orang tua.
Ananda Dimas Prasetya - Senin, 24 Agustus 2026
Menteri PPPA Soroti Pola Asuh di Era Digital, Anak Lebih Nyaman Curhat ke Teman
Foto Essay
Peluh dan Semangat Anak Menteng Berlatih Tinju Melawan Keterbatasan
Gio dan Hamzah berlatih tinju dengan alat seadanya di Kawasan Menteng, Jakarta Pusat, Sabtu (15/8/2026).
Didik Setiawan - Rabu, 19 Agustus 2026
Peluh dan Semangat Anak Menteng Berlatih Tinju Melawan Keterbatasan
Bagikan