Berita

Indonesiaku

Hiburan & Gaya Hidup

Olahraga

Visual

Berita Tradisi Indonesia

Tradisi Sejak Kerajaan Demak, Keraton Solo Bunyikan Gamelan Sekaten Kyai Guntur Madu dan Guntur Sari

Dwi Astarini - Kamis, 20 Agustus 2026

MERAHPUTIH.COM - KERATON Kasunanan Surakarta Hadinigrat mengeluarkan dan membunyikan dua gamelan sekaten, Kyai Guntur Madu dan Kyai Guntur Sari di halaman Masjid Agung Keraton Solo. Dua gamelan sekaten tersebut dibunyikan sebagai tanda dimulainya acara adat memperingati Maulid Nabi Muhammad SAW atau Grebeg Mulud Keraton Surakarta.

Ketua Lembaga Dewan Adat (LDA) GRAy Koes Moertiyah atau Gusti Moeng memimpin keluarnya Gamelan Kyai Guntur Madu dan Kyai Guntur Sari.

Gamelan dikeluarkan melalui Kori Kamandungan menuju Sitihinggil melewati alun-alun utara dan masuk ke Masjid Agung.

"Ada dua perangkat, Guntur Madu dan Guntur Sari yang dibunyikan untuk acara adat sekaten,” kata Gusti Moeng, Rabu (19/8)

Baca juga:

Lembaga Dewan Adat Buka Keraton Kasunan Surakarta untuk Wisataw


Gusti Moeng yang juga menjabat sebagai Pengageng Sasana Wilapa Paku Buwono XIV Mangkubumi mengatakan gamelan-gamelan tersebut dikeluarkan dalam rangka sekaten atau menyambut kelahiran Nabi Muhammad. Gamelan Kyai Guntur Madu dan Kyai Guntur Sari akan dibunyikan mulai hari ini hingga puncak Maulid Nabi.

"Dalam rangka Sekaten. Nanti mulai ditabuhkan setiap hari. Waktu salat Jumat berhenti dan ditabuh lagi setela selesai salat Jumat,” ucap dia.

Dia mengatakan tradisi sekaten ini sudah ada sejak Kerajaan Demak. Untuk gamelan asli Keraton Demak saat ini ada di Keraton Cirebon. “Sejak Demak sudah ada itu. Nah, kalau gamelan yang Demak itu malah ada di Cirebon, di Kanoman Cirebon," kata dia.

Gusti Moeng menyebut Gamelan Kyai Guntur Sari akan ditempatkan di Bangsal Pagongan sisi utara dan Gamelan Kyai Guntur Madu di Bangsal Pagongan sisi selatan. Menurutnya, salah satu gamelan ada yang pecah.

"Lor (utara) Guntur Sari dan Kidul (selatan) Guntur Madu. Gamelan ada gong, bedug, kempyang, kondisi bagus, ada yang pecah saron tapi dibikin baru, tadi ada satu yang tertinggal pencu kempyang pecah sudah diganti," pungkasnya.(Ismail/Jawa Tengah)

Baca juga:

Keraton Surakarta Gelar Labuhan Ubo Rampe Adang Dal 1959, Bentuk Nyata Pelestarian Tradisi Leluhur



Baca Artikel Asli