Berita

Indonesiaku

Hiburan & Gaya Hidup

Olahraga

Visual

Berita Indonesia

Tim Peneliti Indonesia Berhasil Petakan Migrasi Hiu Paus, Jalurnya Lewat 13 Negara

Wisnu Cipto - Minggu, 03 Mei 2026

MerahPutih.com - Tim peneliti Indonesia lintas lembaga berhasil memetakan jalur migrasi hiu paus (Rhincodon typus) yang melintasi sedikitnya 13 negara dan wilayah laut lepas.

Studi ini dilakukan Konservasi Indonesia, Elasmobranch Institute Indonesia, Universitas Indonesia, Universitas Diponegoro, serta Conservation International dengan menganalisis data pelacakan satelit terhadap 70 individu hiu paus periode 2015–2025.

Baca juga:

Hiu Paus Memiliki Ribuan Gigi Kecil Sekitar Matanya

Habitat Kunci dan Jalur Migrasi Lintas 13 Negara

Focal Species Conservation Senior Manager Konservasi Indonesia, Iqbal Herwata, menegaskan riset ini mengubah cara pandang terhadap konservasi hiu paus.

“Kini kita tidak hanya tahu di mana hiu paus muncul, tetapi juga bagaimana mereka bergerak dan faktor apa yang mendorong pergerakan mereka. Pengelolaan tidak bisa hanya berbasis lokasi, melainkan harus melihat keseluruhan ekosistem laut yang saling terhubung,” katanya, dalam keterangan kepada media, dikutip Sabtu (2/5).

Hasil penelitian menunjukkan Teluk Cenderawasih dan Teluk Saleh berfungsi sebagai habitat kunci yang mendukung keberadaan hiu paus sepanjang tahun. Sementara itu, laut lepas berperan sebagai koridor migrasi sekaligus area mencari makan secara oportunistik.

Pergerakan hiu paus mencakup kawasan Indo-Pasifik, melintasi Australia, Christmas Island, Timor Leste, Kepulauan Gilbert, Guam, Indonesia, Kepulauan Marshall, Mikronesia, Nauru, Palau, Papua Nugini, Filipina, dan Kepulauan Solomon.

Baca juga:

Kabupaten Bone Bolango Akan Kelola Objek Wisata Hiu Paus

Kerja Sama Global Jaga Habitat Hiu Paus

Guru Besar Oseanografi Universitas Diponegoro, Anindya Wirasatriya, menambahkan hiu paus memanfaatkan dinamika laut layaknya jaringan jalan tol alami.

“Arus dan produktivitas perairan mengarahkan pergerakan mereka, sementara area tertentu berfungsi sebagai ‘rest area’ tempat mereka berhenti untuk mencari makan,” tuturnya, dilansir Antara.

Temuan menarik dari penelitian itu, sebagian besar jalur migrasi Hius Paus justru berada di luar kawasan perlindungan resmi.

Oleh karenanya, tim peneliti menekankan perlindungan habitat Hius Paus tidak bisa hanya fokus di satu lokasi, tetapi perlu kerja sama regional antarnegara di tingkat global.

"Perlindungan tidak bisa hanya fokus di satu lokasi, tetapi harus mencakup sistem laut yang saling terhubung," tandas ilmuwan maritim dari Indonesia itu. (*)

Baca Artikel Asli