Setnov Diganti, Elektabilitas Golkar Diyakini Naik
Jumat, 01 Desember 2017 -
MerahPutih.com - Politisi Partai Golkar Happy Bone Zulkarnain meyakini, elektabilitas partai berlambang pohon beringin itu akan kembali terangkat pasca pergantian Setya Novanto dari kursi Ketum Golkar.
Sejumlah pimpinan DPD I Partai Golkar mendesak segara digelar munaslub untuk menggantikan Setya Novanto pasca ditahan KPK. Beredar nama-nama kuat calon pengganti Novanto diantaranya Menteri Perindustrian Airlangga Hartanto.
Menanggapi hal itu, Happy pun optimis jika Airlangga Hartarto terpilih sebagai Ketua Umum Partai Golkar dalam Musyawarah Nasional Luar Biasa (Munaslub) partai tersebut.
Airlangga sendiri menjadi salah satu kandidat kuat Ketua Umum Golkar setelah Setya Novanto menjadi tahanan Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) atas kasus korupsi proyek e-KTP.
"Mungkin enggak setelah Airlangga terpilih akan naik lagi elektabilitas Gokar? Sangat mungkin," jelas Happy dalam diskusi bertajuk 'Munaslub: Golkar Masa Depan, Harapan dan Tantangan' yang digelar di bilangan Mampang, Jakarta Selatan, Jum'at (1/12).
Alasannya, menurut Happy, ini akan memunculkan semangat dan motor baru dalam partai berlambang pohon beringin itu. Sehingga performa yang dihasilkan pun turut mendongkrak elektabilitas partai.
Sebelumnya, lembaga survey Poltracking Indonesia merilis hasil surveinya pada Minggu (26/11) lalu. Survei tersebut menempatkan Golkar di posisi ketiga dengan tingkat elektabilitas sebesar 10,9%.
Sedangkan posisi pertama dan kedua ditempati oleh PDIP (23,4%) dan Partai Gerindra (13,6).
Hasil ini sangat ironis jika dibandingkan perolehan suara Partai Golkar pada pemilu 2014 lalu yang mencapai 14,75 %. Selain itu, partai ini juga konsisten dalam posisi dua besar selama empat kali pelaksanaan Pemilu era reformasi.
"Kita targetkan naik, kalau kita naik mungkin (elektabilitas) PDIP atau partai lain yang turun, kodisi naik turun ini yang kita harapkan bisa terjadi," jelas Happy.
Selain itu, Happy juga menyatakan rasa optimismenya bukan tanpa dasar. Ia menambahkan, partainya sudah terbiasa diterpa badai sejak Pemilu 1999 lalu.
Dengan pengalaman masa lalu, ia pun meyakini bahwa partainya dapat segera lolos dari prahara yang menimpa.
"Tahun 1999 itu Golkar di mana-mana dikejar, seperti partai terlarang. Pernah kita kumpul lalu disuruh buka baju, perempuan pun sama karena pakai baju kuning. Tapi apa yang terjadi, pada pemilu kita hanya beda tipis dengan PDIP," kisah Happy.
"Menjelang (Pemilu) 2004 juga begitu, Gus Dur merencanakan mau bubarin Golkar. Akbar Tanjung menghadapi dua tsunami luar biasa waktu itu, tapi apa yang terjadi? Kita menang pemilu 2004," tutupnya. (Fdi)