MerahPutih.com - Pendiri Front Pembela Islam (FPI) Rizieq Shihab menyerukan agar ulama dan dai anggota forum Ijtima Ulama mengampanyekan pasangan bakal capres cawapres Prabowo Subianto-Sandiaga Uno dalam ceramah agama mereka. Namun, tersangka kasus asusila itu berdalih ini merupakan bentuk politik identitas, bukan bagian dari Suku Ras dan Agama (SARA).
"Soal politik identitas, maka saya tegaskan di sini bahwa para habaib dan ulama yang istiqomah tidak akan pernah memainkan politik identitas SARA yang rasis dan fasis sangat bertentangan dengan syariat dan konstitusi," kata Rizieq melalui rekaman suara dalam acara Ijtima Ulama II di Hotel Grand Cempaka, Jakarta Pusat, Minggu (16/9).
Rizieq menggunakan taktik politik identitas mencontoh keberhasilan perjuangan di era kolonial. Jika merunut sejarah, lanjut dia, Indonesia bisa merdeka karena para para pejuang menggunakan politik identitas.
"Ingat, Indonesia merdeka dengan politik identitas , ingat NKRI juga lahir melalui politik identitas, ingat Pancasila pun disusun dengan politik identitas. Para Wali Songo, para Sultan Nusantara, juga Imam Bonjol, Diponegoro, Teuku Umar dan masih banyak lagi para pejuang Pahlawan yang melawan penjajah Belanda, Inggris, Portugis hingga Jepang, juga dengan politik identitas," papar Rizieq.
"Tatkala Bung Tomo meminta fatwa ulama dan menggerakkan santri dengan takbir melawan NICA di Surabaya juga merupakan politik identitas. Tatkala pak Dirman sang Ustad Madrasah Ibtidaiyah yang menjadi jenderal besar, Panglima Besar, masuk ke hutan melakukan perlawanan dengan cara gerilya untuk mempertahankan kemerdekaan Republik Indonesia pun melalui politik identitas," imbuh pria yang tinggal di Arab Saudi sejak ditetapkan polisi sebagai tersangka itu.
Gerakan politik identitas, lanjut Rizieq juga sudah digunakan para ulama untuk menumbangkan mantan Gubernur DKI Jakarta Basuki Tjahaja Purnama alias Ahok yang kala itu dituduh telah melakukan penodaan agama. Politik identitas itu, sambungnya, dipraktikkan untuk meloloskan lawan politik Ahok di Pilkada DKI Jakarta pada 2017 lalu.
"Bahkan saat pilkada DKI Jakarta tahun 2017 kemarin yang baru lalu, ulama dan umat Islam juga melakukan politik identitas untuk menjunjung tinggi ayat suci di atas ayat konstitusi," bebernya.
Namun, tokoh sentral di balik Aksi Bela Islam 212 ini menyangkal politik identitas bukan merupakan upaya untuk mendiskreditkan salah satu etnis tertentu atau kaum minoritas yang ada di Indonesia.
"Demikian politik identitas ulama, umat Islam bukan politik SARA bukan politik rasis bukan politik fasis melainkan politik umat kebangsaan untuk mencari ridho Allah SWT," kilah dia.
Sebelumnya, Rizieq memerintahkan anggota forum Ijtima Ulama menyusipkan isu kampanye memenangkan pasangan Prabowo Subianto-Sandiaga Uno dalam ceramah mereka, meskipun sudah ada aturan resmi dilarang berkampanye di tempat ibadah.
"Ayo para ulama dan para Dai jadikan pesantren dan majelis serta mimbar dakwah kita semua untuk memenangkan umatnya dan rakyat serta bangsa Indonesia," kata dia. (Pon)