Merahputih.com - Sembilan sensor tsunami di wilayah Maluku Utara dan Sulawesi Utara bekerja optimal guna memantau kondisi pascagempa magnitudo 7,6 yang mengguncang Kamis (2/4) pagi.
Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) memastikan seluruh perangkat deteksi dini tersebut mengirimkan data secara akurat untuk memitigasi risiko bencana di wilayah terdampak.
Baca juga:
BMKG Kerahkan Tim Pemetaan Makroseismik Cek Dampak Kerusakan Gempa Magnitudo 7,6
Kepala BMKG, Teuku Faisal Fathani, menjelaskan bahwa teknologi peringatan dini yang dikembangkan selama empat tahun terakhir menunjukkan performa luar biasa. Sistem ini berhasil memproses data dalam waktu singkat guna menjamin keselamatan publik di pesisir pantai.
"Sistem peringatan dini multi-bencana atau Multi-Hazard Early Warning System yang telah dikembangkan selama empat tahun terakhir terbukti bekerja secara efektif dalam situasi ini," ujar Teuku Faisal Fathani, Kamis (2/4).
Kecepatan Deteksi dan Peringatan Dini BMKG
Sistem peringatan dini tsunami tersebut beroperasi sesuai prosedur operasional standar sejak detik pertama gempa terjadi. BMKG menyebarkan informasi awal gempa dan potensi tsunami hanya dalam waktu kurang dari tiga menit setelah guncangan tektonik.
Peringatan dini kedua menyusul delapan menit kemudian untuk memperbarui status ancaman. Enam alat pengukur pasang surut (tide gauge) milik BMKG dan tiga unit milik Badan Informasi Geospasial (BIG) merekam pergerakan air laut dengan presisi tinggi. Berdasarkan data sensor, gelombang tsunami tercatat berada pada ketinggian 0,25 hingga 0,75 meter.
Baca juga:
Waspada Puluhan Gempa Susulan di Sesar Naik
Gempa dangkal pada kedalaman 33 kilometer ini memicu aktivitas seismik yang cukup intens. BMKG mencatat 93 kejadian gempa susulan hingga pukul 12.00 WIB dengan kekuatan magnitudo berkisar antara 5,5 hingga 6. Aktivitas ini diperkirakan terus berlangsung hingga dua pekan ke depan.
“Pemantauan akan terus dilakukan karena aktivitas gempa susulan masih cukup tinggi. Diharapkan dengan koordinasi yang baik, dampak korban jiwa dan kerusakan dapat ditekan seminimal mungkin,” tambah Teuku Faisal.