MerahPutih.com - Hari ini, Kedutaan besar dan konsulat (Kedubes) China di Jepang resmi mengaktifkan respons alarm darurat pasca gempa bumi bermagnitudo 7,1 mengguncang Pulau Kyushu, Prefektur Kumamoto, barat daya Jepang, yang terjadi dua hari lalu, Selasa (28/7).
"Kedutaan dan konsulat China di Jepang segera mengaktifkan respons darurat dan mengeluarkan peringatan konsuler yang menyarankan warga negara China untuk bersiap," kata Juru Bicara Kementerian Luar Negeri China Mao Ning, Kamis (30/7).
Baca juga:
Korban Gempa Jepang Bertambah Jadi 17 Orang, Mal Aeon Titik Terparah
Korban Tewas, Dampak, dan Potensi Gempa Susulan
Akibat gempa bumi itu dilaporkan memicu pemadam listrik massal, tidak beroperasi kereta cepat, hingga ambruknya bangunan mal Aeon Kumamoto. Warga Cina di Jepang diimbau untuk mewaspadai adanya gempa atau potensi tsunami susulan.
Bersiap menghadapi kemungkinan tsunami dan gempa susulan,
Jubir Kemenlu China Mao Ning
Saat jumpa pers di Beijing itu, Mao Ning menegaskan Kemenlu China dan misi diplomatik di Jepang terus memantau perkembangan dengan saksama.
"Kami siap membantu warga negara kami kapan pun dibutuhkan," tegas Jubir Kemenlu China itu.
Data terbaru Otoritas Jepang melaporkan hingga hari ini tercatat 17 orang tewas, ratusan terjebak reruntuhan, serta puluhan ribu warga mengungsi.
"Kami memantau dengan saksama dampak gempa bumi di Kumamoto. Kami berduka atas korban jiwa dan menyampaikan simpati kepada keluarga yang ditinggalkan dan para korban luka," tandas Mao Ning.
Baca juga:
Gempa M 7,1 Kumamoto Jepang Picu Peringatan Tsunami, Listrik 48 Ribu Rumah Padam
Jepang Bentuk Satgas Darurat Gempa
Pada Rabu (29/7) kemarin dilansir Antara, Pemerintah Jepang telah mendirikan satuan tugas darurat di bawah pusat penanganan krisis perdana menteri. Fokus utama adalah evakuasi korban, pencarian orang hilang, dan pemulihan infrastruktur vital.
"Pemerintah akan mengambil semua langkah yang diperlukan untuk segera mengevakuasi para korban," ungkap Perdana Menteri Jepang Sanae Takaichi. (*)

