Berita

Indonesiaku

Hiburan & Gaya Hidup

Olahraga

Visual

Berita Indonesia

Rupiah Amblas Dekati Rp18.000 Per Dolar AS, Investor Asing Kuras Pasar Saham Domestik

Angga Yudha Pratama - 2 jam, 59 menit lalu

Merahputih.com - Nilai tukar rupiah terhadap dolar AS dibuka melemah pada perdagangan Rabu pagi.

Mata uang Garuda merosot 37 poin atau 0,21 persen ke posisi Rp17.944 per dolar AS, bergeser dari penutupan sebelumnya pada level Rp17.907 per dolar AS. Pergerakan hari ini terbebani oleh sentimen internal dan ketidakpastian pasar global.

Baca juga:

IHSG Hari Ini Longsor ke Level 5.801 Bareng Indeks Saham LQ45, Rupiah Keok Dekati Rp18.000 Per Dolar AS

Investor Asing Kabur dari Pasar Saham

Kepala Ekonom Permata Bank, Josua Pardede menyebut aksi jual pelaku pasar modal memicu pelemahan mata uang lokal. Modal asing terus keluar dari pasar saham domestik dalam jumlah besar.

Investor asing mencatatkan net sell sebesar Rp1.044.340.800.000 (58,20 juta dolar AS), memicu penurunan Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) sebesar 3,05 persen ke level 5.643,

ujar Josua.

Josua memproyeksikan kurs rupiah hari ini bergerak fluktuatif pada kisaran Rp17.825 hingga Rp17.950 per dolar AS. Tekanan terhadap mata uang domestik ini bertepatan dengan rencana Badan Pusat Statistik (BPS) merilis data inflasi Juni 2026 dan neraca perdagangan Mei 2026.

Analis memperkirakan inflasi Indeks Harga Konsumen (IHK) naik menjadi 0,50 persen month on month (mom) atau 3,41 persen year on year (yoy). Kenaikan harga energi non-subsidi dan ongkos transportasi memicu lonjakan biaya input ke harga konsumen.

Sebaliknya, surplus neraca perdagangan Indonesia berpotensi melebar menjadi 1,13 miliar dolar AS dari capaian bulan sebelumnya senilai 0,09 miliar dolar AS. Pemulihan perdagangan luar negeri terjadi seiring normalisasi aktivitas impor pasca-Lebaran, walau tren tahunan menunjukkan penyempitan surplus secara berkala.

Sentimen Global dan Kebijakan Suku Bunga The Fed

Dari pasar internasional, pelaku ekonomi terus memantau dinamika politik Timur Tengah. Pasar menantikan hasil perundingan damai antara Amerika Serikat dan Iran di Doha, Qatar, guna meredakan konflik di Selat Hormuz.

Kelancaran lalu lintas kapal tanker minyak mulai memulihkan pasokan energi global sekaligus meredam spekulasi kenaikan suku bunga Bank Sentral AS (The Fed).

Baca juga:

Rupiah Melemah ke Rp 17.978 per Dolar AS pada Perdagangan 26 Juni 2026

Namun, seabgaimana dikutip Antara, bank sentral AS masih menunjukkan sikap hati-hati terhadap penurunan suku bunga acuan dalam waktu dekat. Ketatnya pasar tenaga kerja AS memicu kekhawatiran inflasi bertahan lama.

"Proyeksi hawkish dari FOMC (Federal Open Market Committee), ditopang ketahanan pasar tenaga kerja AS serta inflasi inti persisten, memperkuat ekspektasi bahwa suku bunga tetap berada pada level tinggi untuk jangka waktu lebih lama," kata Josua

Baca Artikel Asli