Berita

Indonesiaku

Hiburan & Gaya Hidup

Olahraga

Visual

Berita Indonesia

Puncak Musim Kemarau 2026: BMKG Prediksi El Nino Lebih Kering

Angga Yudha Pratama - Kamis, 11 Juni 2026

Merahputih.com - Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) merilis prakiraan resmi puncak musim kemarau di Indonesia. Diprakirakan, puncak musim kemarau akan bergulir pada Juli hingga September 2026.

Kondisi alam kali ini memerlukan kewaspadaan ekstra menyusul hadirnya potensi El Nino. Fenomena alam ini diprediksi bertahan hingga awal tahun 2027 dengan intensitas kategori moderat mencapai 98 persen serta kategori kuat sebesar 62 persen.

“BMKG memprediksi fenomena El Nino akan terus bertahan hingga awal tahun 2027, namun demikian dampaknya untuk wilayah Indonesia ketika bertemu periode Musim Kemarau hingga pertengahan bulan Oktober,”

Deputi Bidang Klimatologi BMKG, Ardhasena Sopaheluwakan.

Peta Sebaran Wilayah Terdampak

Ancaman kekeringan ekstrem bergerak secara bertahap menguasai wilayah daratan Indonesia dari bulan ke bulan. Kepala BMKG, Teuku Faisal Fathani, merinci pembagian wilayah terdampak berdasarkan Zona Musim (ZOM):

Strategi Penyelamatan Multisektor

Menyikapi ancaman musim kering lebih panjang dibanding rata-rata normal, BMKG mengeluarkan rekomendasi strategis demi menjaga stabilitas nasional. Sektor pangan mendapat imbauan melakukan penyesuaian jadwal tanam serta memilih varietas tanaman tahan kekeringan berumur pendek. Sektor sumber daya air wajib merevitalisasi waduk sekaligus memperbaiki jaringan distribusi air bersih.

Sektor energi harus memastikan kapasitas air bendungan demi operasional Pembangkit Listrik Tenaga Air (PLTA). Sementara itu, pemerintah daerah memikul tanggung jawab menyiapkan mekanisme respons cepat guna mengantisipasi penurunan kualitas udara penyebab Infeksi Saluran Pernapasan Akut (ISPA). Guna menekan risiko kebakaran hutan dan lahan (karhutla), pelaksanaan Operasi Modifikasi Cuaca (OMC) siap digelar secara situasional.

“Pelaksanaan OMC dilakukan secara situasional dengan menyesuaikan dinamika atmosfer dalam skala jam hingga 10 hari,” tegas Plt. Deputi Bidang Meteorologi, Andri Ramdhani, mengakhiri penjelasan mengenai langkah taktis penanggulangan bencana iklim.

Baca Artikel Asli