MerahPutih.com - Amerika Serikat (AS) dan Iran resmi menandatangani nota kesepahaman (MoU) perjanjian damai. Kesepakatan bersejarah ini ditandatangani oleh Presiden AS Donald Trump dan Presiden Iran Masoud Pezeshkian untuk mengakhiri konflik bersenjata.
Kesepakatan ini ditandatangani oleh Presiden AS Donald Trump dan Presiden Iran Masoud Pezeshkian untuk mengakhiri konflik bersenjata.
Penandatanganan nota kesepahaman (MoU) kesepakatan damai antara Amerika Serikat (AS) dan Iran diyakini berpotensi memberikan dampak positif bagi perekonomian Indonesia.
Anggota Komisi I DPR RI, Nurul Arifin menilai, stabilitas kawasan akan berpengaruh langsung terhadap kelancaran perdagangan global, harga energi, hingga penguatan nilai tukar rupiah. Indonesia jelas akan mendapatkan dampak positif.
“Aktivitas impor dan ekspor yang menjadi salah satu fondasi ekonomi nasional dapat kembali berjalan lebih lancar,” kata Nurul Arifin kepada wartawan di Jakarta dikutip Jumat (19/6).
Ia menilai, kesepakatan damai yang telah ditandatangani AS dan Iran akan membuka peluang terciptanya stabilitas ekonomi global setelah berbulan-bulan konflik di kawasan Teluk memicu ketidakpastian pasar internasional.
Adapun salah satu dampak yang paling signifikan adalah kemungkinan dibukanya kembali Selat Hormuz secara normal sebagai jalur pelayaran strategis dunia.
Sementara kelancaran distribusi energi melalui Selat Hormuz akan membantu menekan gejolak harga minyak dunia yang selama ini menjadi salah satu faktor pemicu ketidakstabilan ekonomi global.
“Dengan ditandatanganinya MoU ini, paling tidak Selat Hormuz dapat dibuka kembali. Ini tentu positif bagi iklim politik dan ekonomi global karena distribusi energi dunia menjadi lebih lancar,” ungkapnya.
Nurul juga mengingatkan bahwa kesepakatan yang ditandatangani tersebut memiliki masa berlaku 60 hari.
Sehingga diperlukan pembahasan lanjutan terkait sejumlah isu strategis, termasuk program nuklir Iran dan pencabutan sanksi ekonomi yang selama ini diberlakukan Amerika Serikat.
Dia berharap semua pihak dapat mengedepankan kebijaksanaan dan kedewasaan politik agar proses perdamaian ini tidak berhenti pada MoU semata.
“Namun berkembang menjadi kesepakatan yang lebih permanen demi stabilitas dunia,” ujar Nurul yang juga mantan artis senior ini.