Berita

Indonesiaku

Hiburan & Gaya Hidup

Olahraga

Visual

Berita Indonesia

Pemerintah Kena 'Semprot' DPR Usai Impor Ribuan Kendaran dari India Saat Penjualan Mobil Domestik Anjlok 7 Persen

Angga Yudha Pratama - Selasa, 24 Februari 2026

Merahputih.com - Anggota Komisi VI DPR RI Darmadi Durianto mempertanyakan urgensi kebijakan impor 105 ribu unit kendaraan asal India senilai Rp24,66 triliun oleh BUMN PT Agrinas Pangan Nusantara di tengah kondisi industri otomotif nasional yang sedang lesu. Langkah impor besar-besaran tersebut dinilai kontradiktif dengan kebutuhan penguatan manufaktur dalam negeri yang saat ini mengalami penurunan penjualan signifikan.

“Di saat industri otomotif kita sedang lesu, kenapa justru ada impor dalam jumlah besar?,” ujar Darmadi dalam keterangannya, Selasa (24/2).

Baca juga:

IIMS 2026 Jadikan Pameran Otomotif Wadah UMKM Lokal Unjuk Gigi Bareng Brand Raksasa Dunia

Ancaman Bagi utilisasi Pabrik Lokal

Berdasarkan data yang ada, pengadaan kendaraan tersebut melibatkan 35 ribu unit dari Mahindra & Mahindra serta 70 ribu unit dari Tata Motors untuk mendukung program Koperasi Desa Merah Putih.

Darmadi menilai, di tengah penurunan penjualan mobil domestik yang mencapai 7 persen, pemerintah seharusnya menggunakan belanja publik sebagai instrumen untuk memberikan stimulus bagi pabrik-pabrik di Indonesia.

“Industri kita sedang butuh order. Kalau ada pesanan besar seperti ini, seharusnya bisa dimanfaatkan untuk menjaga utilisasi pabrik dan lapangan kerja,” tegas legislator dari Fraksi PDI-Perjuangan tersebut.

Menurutnya, kapasitas produksi nasional masih mumpuni untuk memenuhi kebutuhan kendaraan niaga, sehingga prioritas seharusnya diberikan kepada produk buatan anak negeri.

Baca juga:

Kemenperin Berharap IIMS Percepat Pemulihan dan Perkuat Fondasi Industri Otomotif

Efek Domino Bagi Ekonomi Nasional

Darmadi juga menyoroti hilangnya potensi multiplier effect atau efek ganda jika anggaran triliunan rupiah tersebut justru mengalir ke luar negeri. Ia menekankan bahwa produksi di dalam negeri tidak hanya tentang perakitan, tetapi juga menghidupkan rantai pasok dari industri komponen hingga sektor UMKM.

“Kalau diproduksi di dalam negeri, efek gandanya jelas. Tenaga kerja terserap, rantai pasok bergerak, industri komponen hidup,” katanya.

Ia menutup pernyataannya dengan mengingatkan pemerintah agar tidak kehilangan momentum dalam memperkuat struktur industri nasional. Menurutnya, kemandirian ekonomi hanya bisa dicapai dengan memaksimalkan potensi produksi dalam negeri, bukan dengan bergantung pada produk impor.

Baca Artikel Asli