Berita

Indonesiaku

Hiburan & Gaya Hidup

Olahraga

Visual

Berita Indonesia

Pemerintah Harus Mulai Perdalam Edukasi Soal Limbah Makanan

Zulfikar Sy - Minggu, 06 Oktober 2019

MerahPutih.com - Pendiri Indonesian Energy and Environmental Institute (IE2I) Satya Hangga Yudha Widya Putra menyatakan bahwa masyarakat perlu mendapatkan edukasi lebih lanjut akan dampak limbah organik terhadap isu perubahan iklim yang akan berdampak pada kehidupan ke depannya.

"Sebenarnya sudah dilakukan oleh pemerintah edukasi akan limbah, tapi limbah makanan perlu diedukasi lebih lanjut di tingkat SD, SMP, SMA karena ini hal yang cukup sederhana. Sebenarnya isu ini sudah disentuh oleh sekolah tapi tidak terlalu dalam," kata Hangga ketika ditemui dalam diskusi perihal pemborosan makanan di Jakarta Selatan, seperti dikutip Antara.

Baca Juga:

Air PDAM Solo Tercemar Limbah Miras Ciu, Produksi Air Bersih Dihentikan

Upaya pemerintah, termasuk Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan (KLHK) yang berwenang akan masalah limbah, sudah cukup bagus sampai sejauh ini, kata Ketua Bidang Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Rumah Millennials itu.

Salah satu pendiri IE2I Satya Hangga Yudha (kedua kiri) dalam diskusi di Jakarta Selatan, Jumat (4/10). (ANTARA/Prisca Triferna)
Salah satu pendiri IE2I Satya Hangga Yudha (kedua kiri) dalam diskusi di Jakarta Selatan, Jumat (4/10). (ANTARA/Prisca Triferna)


Diperlukan pemahaman lebih lanjut tentang limbah, baik organik dan anorganik, serta dampaknya terhadap lingkungan hidup dan perubahan iklim yang menjadi perhatian banyak negara saat ini.

Kurangnya edukasi mendalam akan limbah mungkin menjadi salah satu alasan masih banyak orang belum mengetahui dampaknya akan perubahan iklim.

Padahal, kata Hangga, gas metana yang dihasilkan oleh sisa makanan yang bercampur di tempat pembuangan akhir sangat berdampak terhadap pemanasan global yang ikut menyumbang perubahan iklim.

Baca Juga:

Limbah Jeroan Hewan Kurban Cemari Sungai di Jakarta Timur

"Di Indonesia sendiri, kesadaran akan limbah organik berpengaruh terhadap perubahan iklim sendiri masih belum terlalu besar, ujarnya.

Sebagai negara kedua yang paling banyak membuang makanan, sekitar 300 kg per tahun, menurut data badan pangan dan pertanian FAO 2016-2017, Indonesia seharusnya sudah mulai mengambil langkah nyata untuk membuat masyarakat menghentikan kebiasaan pemborosan pangan.

 Pengunjung melihat produk unggulan yang dipamerkan saat Festival Hari Pangan Sedunia di Sport Center, Indramayu, Jawa Barat, Rabu (2/10/2019). ANTARA FOTO/Dedhez Anggara/hp
Pengunjung melihat produk unggulan yang dipamerkan saat Festival Hari Pangan Sedunia di Sport Center, Indramayu, Jawa Barat, Rabu (2/10/2019). ANTARA FOTO/Dedhez Anggara/hp


"Pemanasan global disebabkan oleh emisi gas rumah kaca yang disebabkan oleh berbagai sektor, tapi karena di Indonesia kenaikan itu disebabkan oleh sektor kehutanan, energi dan industri, maka lebih banyak fokus di bidang tersebut dibanding limbah," ujarnya.

Indonesia ikut meratifikasi Perjanjian Paris pada 2015 yang menegaskan komitmen pemerintah untuk mengurangi emisi demi menahan laju peningkatan temperatur global dan membatasi dampak perubahan iklim secara keseluruhan. (*)

Baca Juga:

Cegah Bahaya Limbah Produk Kosmetik Sejak Dini

Baca Artikel Asli