Merahputih.com - Proses naturalisasi pesepak bola Mitchell Lee Baker dan Luke Anthony Vickery mendapat lampu hijau dari DPR RI. Kendati demikian, restu terhadap alih kewarganegaraan ini membawa catatan kritis agar pembinaan atlet lokal tetap berjalan secara berkesinambungan.
Baca juga:
Erick Thohir Buka Lebar Pintu Naturalisasi Atlet Semua Cabor, Bukan Cuma Sepak Bola
Anggota Komisi X DPR RI Abdul Fikri Faqih menegaskan bahwa kebijakan tersebut tidak boleh menjadi jalan pintas demi prestasi sesaat. Penguatan kompetisi usia muda, pembatasan kuota pemain naturalisasi, serta pemerataan fasilitas latihan wajib menjadi fokus utama otoritas sepak bola tanah air.
“Prinsipnya, Fraksi PKS menyetujui naturalisasi ini. Namun, catatan yang berulang kali kami sampaikan jangan sampai berkesan sebagai sesuatu yang sudah menjadi keputusan yang harus diterima begitu saja,”
ujar Fikri dalam keterangan tertulis di Jakarta, Senin (22/6).
Menuntut Jam Terbang Bakat Lokal

Legislator daerah pemilihan Jawa Tengah IX tersebut menilai perbaikan kurikulum akademi sepak bola harus menyentuh seluruh wilayah, bukan sekadar berpusat di kota besar.
Guna merealisasikan hal itu, terdapat sejumlah rekomendasi penting bagi pemerintah dan Persatuan Sepak Bola Seluruh Indonesia (PSSI).
Regulasi ketat perlu diterapkan untuk mewajibkan klub Liga 1 dan Liga 2 memberikan menit bermain kepada pilar muda domestik. Aturan ini strategis demi menambah jam terbang sekaligus mendongkrak kualitas kompetisi nasional.
Batasan Kuota dan Pemerataan Fasilitas
Selain menit bermain, pembatasan jumlah pemain asing dan naturalisasi dalam satu klub menjadi poin krusial berikutnya. Langkah tersebut bertujuan menjaga keseimbangan ekosistem sepak bola agar talenta lokal tidak kehilangan panggung.
“Bukan berarti kita anti terhadap naturalisasi. Kita juga harus realistis. Namun, perlu ada aturan yang jelas mengenai batas maksimal jumlah pemain naturalisasi di dalam tim,” tegas Fikri.
Baca juga:
Naturalisasi Luke Vickery dan Mitchell Baker Bagian Upaya PSSI Capai Target 50 Besar Ranking FIFA
Pembangunan sarana olahraga standar internasional juga harus dipercepat ke berbagai daerah. Ketersediaan lapangan representatif serta pelatih bersertifikat diyakini mampu melahirkan generasi emas baru.
Fondasi kokoh dari akar rumput dinilai jauh lebih berharga untuk masa depan Tim Nasional Indonesia daripada terus bergantung pada kebijakan instan.