Mengenal Badai Sitokin, Penyebab Meninggalnya Raditya Oloan
Minggu, 09 Mei 2021 -
SUAMI aktris Joanna Alexandra, Raditya Oloan tutup usia pada Kamis (6/5) usai mengalami badai sitokin. Sebelumnya, Raditya sempat dirawat di RSDC Wisma Atlet Kemayoran karena terinfeksi COVID-19 dan sempat membaik. Tak lama berselang, kondisinya justru menurun setelah diketahui mengalami badai sitokin pasca COVID-19.
Lalu, seberapa bahaya badai sitokin bagi kesehatan?
Mengutip Alodokter, sitokin merupakan salah satu protein yang berperan dalam sistem kekebalan tubuh. Dalam kondisi normal, sitokin membantu sistem imun berkoordinasi dengan baik dalam melawan bakteri atau virus penyebab infeksi. Jika diproduksi secara berlebihan, sitokin justru dapat menyebabkan kerusakan di dalam tubuh.
Badai sitokin (cytokine storm) terjadi ketika tubuh melepaskan terlalu banyak sitokin ke dalam darah dalam jangka waktu yang sangat cepat. Kondisi ini membuat sel imun justru menyerang jaringan dan sel tubuh yang sehat, sehingga menyebabkan peradangan. Hal inilah yang membuat badai sitokin perlu diwaspadai, karena bisa sampai menyebabkan kematian.
Baca juga:
Pada pasien yang terpapar COVID-19, badai sitokin menyerang jaringan paru-paru dan pembuluh darah. Alveoli atau kantung udara kecil di paru-paru akan dipenuhi oleh cairan, sehingga tidak memungkinkan terjadinya pertukaran oksigen. Itulah kenapa sering terjadinya sesak napas.
Sebagian besar pasien COVID-19 yang mengalami badai sitokin mengalami demam dan membutuhkan alat bantu napas atau ventilator. Kondisi ini biasanya terjadi sekitar enam sampai tujuh hari setelah gejala COVID-19.
Selain demam dan sesak napas, gejala lainnya adalah kedinginan, kelelahan, mual dan muntah, sakit kepala, ruam kulit, batik, napas cepat, kejang, hingga penggumpalan darah.
Baca juga:
Mereka yang terkena badai sitokin perlu dirawat di unit perawatan intensif (ICU) dengan beberapa penanganan dokter, seperti pemasangan mesin ventilator, pemberian cairan infus, pemantauan kadar elektrolit, cuci darah, hingga pemberian obat anakinra untuk menghambat aktivitas sitokin. Badai sitokin pun dapat menyebabkan kerusakan organ yang bisa mengancam nyawa.
Agar terhindar dari kondisi serius ini, kamu disarankan untuk selalu mematuhi protokol kesehatan kapan saja dan di mana saja. (and)
Baca juga:
Penyintas Kanker Kehilangan Massa Otot, Kelelahan dan Turun Berat Badan