Kesehatan

Mengenal Badai Sitokin, Penyebab Meninggalnya Raditya Oloan

Andreas PranataltaAndreas Pranatalta - Minggu, 09 Mei 2021
Mengenal Badai Sitokin, Penyebab Meninggalnya Raditya Oloan

Raditya Oloan bersama sang anak. (Foto: Instagram/zeraiahmoria)

Ukuran text:
14
Dengarkan Berita:

SUAMI aktris Joanna Alexandra, Raditya Oloan tutup usia pada Kamis (6/5) usai mengalami badai sitokin. Sebelumnya, Raditya sempat dirawat di RSDC Wisma Atlet Kemayoran karena terinfeksi COVID-19 dan sempat membaik. Tak lama berselang, kondisinya justru menurun setelah diketahui mengalami badai sitokin pasca COVID-19.

Lalu, seberapa bahaya badai sitokin bagi kesehatan?

Mengutip Alodokter, sitokin merupakan salah satu protein yang berperan dalam sistem kekebalan tubuh. Dalam kondisi normal, sitokin membantu sistem imun berkoordinasi dengan baik dalam melawan bakteri atau virus penyebab infeksi. Jika diproduksi secara berlebihan, sitokin justru dapat menyebabkan kerusakan di dalam tubuh.

Badai sitokin (cytokine storm) terjadi ketika tubuh melepaskan terlalu banyak sitokin ke dalam darah dalam jangka waktu yang sangat cepat. Kondisi ini membuat sel imun justru menyerang jaringan dan sel tubuh yang sehat, sehingga menyebabkan peradangan. Hal inilah yang membuat badai sitokin perlu diwaspadai, karena bisa sampai menyebabkan kematian.

Baca juga:

Raditya Oloan Tutup Usia

Mengenal Badai Sitokin, Penyebab Raditya Oloan Meninggal Dunia
Salah satu gejalanya adalah batuk. (Foto: Unsplash/Annie Spratt)

Pada pasien yang terpapar COVID-19, badai sitokin menyerang jaringan paru-paru dan pembuluh darah. Alveoli atau kantung udara kecil di paru-paru akan dipenuhi oleh cairan, sehingga tidak memungkinkan terjadinya pertukaran oksigen. Itulah kenapa sering terjadinya sesak napas.

Sebagian besar pasien COVID-19 yang mengalami badai sitokin mengalami demam dan membutuhkan alat bantu napas atau ventilator. Kondisi ini biasanya terjadi sekitar enam sampai tujuh hari setelah gejala COVID-19.

Selain demam dan sesak napas, gejala lainnya adalah kedinginan, kelelahan, mual dan muntah, sakit kepala, ruam kulit, batik, napas cepat, kejang, hingga penggumpalan darah.

Baca juga:

Kenali Risiko dan Efektivitas Vaksin COVID-19 pada Lansia

Mengenal Badai Sitokin, Penyebab Raditya Oloan Meninggal Dunia
Tetap mematuhi protokol kesehatan. (Foto: Unsplash/engin akyurt)

Mereka yang terkena badai sitokin perlu dirawat di unit perawatan intensif (ICU) dengan beberapa penanganan dokter, seperti pemasangan mesin ventilator, pemberian cairan infus, pemantauan kadar elektrolit, cuci darah, hingga pemberian obat anakinra untuk menghambat aktivitas sitokin. Badai sitokin pun dapat menyebabkan kerusakan organ yang bisa mengancam nyawa.

Agar terhindar dari kondisi serius ini, kamu disarankan untuk selalu mematuhi protokol kesehatan kapan saja dan di mana saja. (and)

Baca juga:

Penyintas Kanker Kehilangan Massa Otot, Kelelahan dan Turun Berat Badan

#Kesehatan
Bagikan
Ditulis Oleh

Andreas Pranatalta

Stop rushing things and take a moment to appreciate how far you've come.

Berita Terkait

Berita Foto
Program Keluarga SIGAP Dorong Perubahan Perilaku Lewat Layanan Kesehatan Primer
Ketua Tim Bidang Penyusunan Rencana Prioritas Pemanfaatan Dana Desa, Sappe M. P. Sirait saat Program Keluarga Sigap di Jakarta, Kamis (15/1/2026).
Didik Setiawan - Kamis, 15 Januari 2026
Program Keluarga SIGAP Dorong Perubahan Perilaku Lewat Layanan Kesehatan Primer
Indonesia
Usai Banjir Bandang, Warga Aceh Tamiang Banyak Alami Gangguan Kesehatan
Ratusan pengungsi pascabanjir bandang di Aceh Tamiang mengalami berbagai penyakit seperti ISPA hingga diare. Tim Dokkes Polri turun beri layanan kesehatan.
Ananda Dimas Prasetya - Kamis, 15 Januari 2026
Usai Banjir Bandang, Warga Aceh Tamiang Banyak Alami Gangguan Kesehatan
Dunia
AS Kurangi Jumlah Vaksin Wajib untuk Anak-Anak, Timbulkan Kekhawatiran Peningkatan Risiko Penyakit
Perubahan ini terjadi setelah Presiden Donald Trump meminta Departemen Kesehatan dan Layanan Kemanusiaan AS (HHS) meninjau bagaimana negara-negara sejawat merekomendasikan vaksin.
Dwi Astarini - Selasa, 06 Januari 2026
  AS Kurangi Jumlah Vaksin Wajib untuk Anak-Anak, Timbulkan Kekhawatiran Peningkatan Risiko Penyakit
Indonesia
Gubernur Pramono Tegaskan belum Ditemukan Super Flu di Jakarta
Pemerintah DKI telah berkoordinasi dengan Menteri Kesehatan Budi Gunadi Sadikin ihwal Super Flu ini.
Dwi Astarini - Selasa, 06 Januari 2026
Gubernur Pramono Tegaskan belum Ditemukan Super Flu di Jakarta
Indonesia
DPR Minta Pemerintah Gerak Cepat Antisipasi Ancaman Super Flu, Dorong Kemenkes Terbitkan Vaksin Pencegah
Dikhawatirkan, penyakit ini berdampak pada beban layanan kesehatan.
Dwi Astarini - Kamis, 01 Januari 2026
DPR Minta Pemerintah Gerak Cepat Antisipasi Ancaman Super Flu, Dorong Kemenkes Terbitkan Vaksin Pencegah
Indonesia
Waspada Super Flu, 62 Kasus Terkonfirmasi di Indonesia Terbanyak di Jawa Timur
Subclade K telah terdeteksi di Indonesia sejak Agustus 2025 melalui sistem surveilans sentinel ILI-SARI di berbagai fasilitas pelayanan kesehatan.
Dwi Astarini - Kamis, 01 Januari 2026
Waspada Super Flu, 62 Kasus Terkonfirmasi di Indonesia Terbanyak di Jawa Timur
Indonesia
Super Flu Masuk ke Indonesia, Kemenkes Imbau Kenali Gejala dan Terapkan Protokol Kesehatan
Indonesia menjadi salah satu negara yang terpapar jenis virus ini.
Dwi Astarini - Kamis, 01 Januari 2026
Super Flu Masuk ke Indonesia, Kemenkes Imbau Kenali Gejala dan Terapkan Protokol Kesehatan
Lifestyle
Teknologi Bedah Robotik Memungkinkan Tindakan Presisi untuk Kenyamanan Pasien, kini Hadir di Siloam Hospitals Kebon Jeruk
Siloam Hospitals Kebon Jeruk memiliki dan mengoperasikan tiga sistem robotik, yakni Da Vinci Xi (urologi, ginekologi, bedah digestif, dan bedah umum), Biobot MonaLisa (khusus diagnostik kanker prostat presisi tinggi), dan ROSA (ortopedi total knee replacement).
Dwi Astarini - Jumat, 19 Desember 2025
Teknologi Bedah Robotik Memungkinkan Tindakan Presisi untuk Kenyamanan Pasien, kini Hadir di Siloam Hospitals Kebon Jeruk
Indonesia
SDM Dokter belum Terpenuhi, Kemenkes Tunda Serahkan RS Kardiologi Emirate ke Pemkot Solo
Pemkot segera mulai menyiapkan kebutuhan tenaga medis, mulai dari dokter hingga perawat.
Dwi Astarini - Senin, 24 November 2025
SDM Dokter belum Terpenuhi, Kemenkes Tunda Serahkan RS Kardiologi Emirate ke Pemkot Solo
Indonesia
Program Pemutihan BPJS Kesehatan Berlangsung di 2025, ini Cara Ikut dan Tahapannya
emerintah memberikan kesempatan bagi peserta untuk mendapatkan penghapusan tunggakan iuran sehingga mereka bisa kembali aktif menikmati layanan kesehatan.
Dwi Astarini - Rabu, 19 November 2025
Program Pemutihan BPJS Kesehatan Berlangsung di 2025, ini Cara Ikut dan Tahapannya
Bagikan