PEMDA DIY menggelar Kenduri Ageng dan open house di Bangsal Kepatihan Yogyakarta pada Jumat pagi (20/10). Kenduri ini digelar dalam rangka syukuran pelantikan Gubernur dan Wakil Gubernur DIY.
Lima jenis nasi Tumpeng disiapkan untuk masyarakat dalam perayaan ini. Yakni Tumpeng Sangga Buwana, Tumpeng Kendhit, Tumpeng Robyong, Tumpeng Urubing Damar dan Tumpeng Punar.
Tumpeng Sangga Buwana merupakan tumpeng yang diletakan pada selembar alas telur dadar berbentuk bulat. Tumpeng ini mengandung filosofi manusia wajib menyelaraskan segala kehidupan di alam semesta sehingga tidak terjadi kerusakan (jasmani dan rohani, lahir dan batin, fisik dan virtual).
"Tumpeng ini simbol dari derajat manusia adalah paling tinggi dalam kehidupan di alam semesta. Seorang raja memiliki derajat paling tinggi dari manusia biasa," jelas Amiarsi Harwani, Kepala Bidang Hubungan Masyarakat Dinas Komunikasi dan Informatika DIY.
Tumpeng kedua yakni Tumpeng Kendhit. Tumpeng ini terbuat dari nasi putih yang di tengahnya ditetesi dengan air kunyit melingkar mengelilingi tumpeng. Tumpeng ini merupakan simbol dari keberhasilan manusia dalam mengatasi semua masalah, halangan, rintangan, dan kesulitan.
Tumpeng ketiga adalah Tumpeng Robyong. Tumpeng ini merupakan simbol bahwa si pemangku hajat mampu mencapai keberhasilan karena didukung oleh keluarga, sanak saudara dan masyarakat.
Sedangkan Tumpeng Urubing Damar pada atasnya ditancapkan lidi berujung kapas yang dibasahi minyak dan api sehingga menyala kearah 4 penjuru mata angin. Terdapat telur dadar yang ditutupkan pada puncak tumpeng.
"Merupakan simbol dari sikap dan sifat seorang pemimpin yang mampu memberi berbagai cara untuk mengatasi permasalahan dan memberi pencerahan kepada masyarakat. Telur dadar merupakan simbol sang pemimpin adalah melindungi rakyatnya (sebagai pengayom)," beber Ami.
Lalu tumpeng Punar terbuat dari nasi kuning, merupakan simbol dari kebesaran tekad untuk mencapai kebahagiaan.
Keseluruhan Tumpeng dilengkapi dengan 7 macam lauk pauk seperti ayam, telur dan tempe
Ami menjelaskan prosesi jamuan makan dengan menyajikan tumpeng dengan tujuh lauk pauk merupakan simbol permohonan bantuan perlindungan kepada Yang Maha Kuasa (pitulungan). (*)
Berita ini merupakan laporan dari Teresa Ika, kontributor merahputih.com untuk wilayah Yogyakarta dan sekitarnya.