MerahPutih.com - Aktivitas Gunung Semeru yang memiliki ketinggian 3.676 meter di atas permukaan laut (mdpl) yang berada di perbatasan Kabupaten Lumajang dan Malang, Jawa Timur, pada status aktivitas vulkanik Level III (Siaga),
Gunung tertinggi di Jawa ini, masih didominasi aktivitas vulkanik berupa gempa letusan/erupsi selama enam jam terakhir pada Rabu (4/3).
"Pada pengamatan Rabu pukul 00.00-06.00 WIB terpantau Gunung Semeru mengalami 12 kali gempa letusan/erupsi dengan amplitudo 10-19 mm, dan lama gempa 58-99 detik," kata Petugas Pos Pengamatan Gunung Semeru, Sigit Rian Alfian dalam laporan tertulis yang diterima di Lumajang.
Selain gempa letusan, juga tercatat satu kali gempa guguran dengan amplitudo 2 mm dan lama gempa 40 detik, kemudian 13 kali gempa Hembusan dengan amplitudo 3-7 mm dan lama gempa 46-61 detik, serta satu kali gempa tektonik jauh dengan amplitudo 16 mm, S-P 14 detik dan lama gempa 39 detik.
Baca juga:
Siswi Tewas Terseret Lahar Dingin Semeru di Sungai Regoyo, Warga dan Motor Masih Nekat Terobos
"Untuk pengamatan secara visual, Gunung api tertutup Kabut 0-I hingga tertutup Kabut 0-II. Asap kawah tidak teramati. Cuaca berawan hingga mendung, angin lemah ke arah timur laut," tuturnya.
Berdasarkan data, jumlah letusan Gunung Semeru sejak 1 Januari hingga 3 Februari 2026 yang pernah tercatat sebanyak 419 kali dan jumlah tersebut tertinggi dibandingkan gunung lain yang statusnya siaga seperti Gunung Merapi yang belum terekam mengalami erupsi dan Gunung Ibu yang berstatus waspada tercatat jumlah letusannya sebanyak 358 kali dalam periode yang sama.
"Terjadi erupsi Gunung Semeru pada hari Rabu, 4 Maret 2026, pukul 08.40 WIB dengan visual letusan tidak teramati. Erupsi itu terekam di seismograf dengan amplitudo maksimum 22 mm dan durasi 147 detik," katanya.
Pusat Vulkanologi dan Mitigasi Bencana Geologi (PVMBG) memberikan sejumlah rekomendasi, yakni masyarakat tidak boleh melakukan aktivitas apapun di sektor tenggara di sepanjang Besuk Kobokan, sejauh 13 kilometer dari puncak (pusat erupsi).
Di luar jarak tersebut, masyarakat tidak boleh melakukan aktivitas pada jarak 500 meter dari tepi sungai (sempadan sungai) di sepanjang Besuk Kobokan karena berpotensi terlanda perluasan awan panas dan aliran lahar hingga jarak 17 kilometer dari puncak.
"Masyarakat juga dilarang beraktivitas dalam radius 5 kilometer dari kawah/puncak Gunung Semeru, karena rawan terhadap bahaya lontaran batu (pijar)," katanya.