Berita

Indonesiaku

Hiburan & Gaya Hidup

Olahraga

Visual

Berita Indonesia

Kemenkes Tingkatkan Kewaspadaan Hantavirus, Ini Langkah Pencegahannya

Ananda Dimas Prasetya - Kamis, 07 Mei 2026

MerahPutih.com - Kementerian Kesehatan Republik Indonesia terus meningkatkan kewaspadaan terhadap Hantavirus seiring meningkatnya perhatian global terhadap penyakit tersebut.

Meski jumlah kasus hantavirus di Indonesia masih tergolong rendah, pemerintah menilai pengawasan tetap perlu diperkuat karena virus ini dapat menyebabkan gangguan serius pada paru-paru maupun ginjal, bahkan berujung kematian apabila terlambat ditangani.

Melalui laporan 'Penyakit Infeksi Emerging dan Potensial KLB/Wabah' yang dirilis Januari 2026, Kemenkes mencatat adanya sejumlah kasus suspek dan konfirmasi hantavirus di beberapa wilayah Indonesia dalam beberapa tahun terakhir.

Sejumlah provinsi yang sempat tercatat memiliki kasus antara lain Daerah Istimewa Yogyakarta, Jawa Barat, DKI Jakarta, Sulawesi Utara, Nusa Tenggara Timur, Sumatera Barat, dan Banten.

Dalam menghadapi ancaman hantavirus, Kemenkes menerapkan sejumlah kebijakan pencegahan dan pengendalian.

Baca juga:

Mengenal Hantavirus, Penyakit Langka nan Mematikan yang Ditularkan Tikus

Salah satu langkah utama ialah memperkuat sistem surveilans penyakit melalui Sistem Kewaspadaan Dini dan Respon (SKDR) serta pemantauan informasi kesehatan global.

Kebijakan tersebut bertujuan mendeteksi potensi penyebaran kasus lebih cepat agar penanganan dapat dilakukan sejak dini.

Selain itu, pemerintah juga melakukan pemantauan terhadap pelaku perjalanan dari negara yang memiliki laporan kasus hantavirus maupun penyakit zoonosis lainnya.

Langkah tersebut menjadi bagian dari sistem karantina kesehatan nasional guna mencegah masuknya penyakit dari luar negeri.

Kemenkes juga memperkuat komunikasi risiko kepada masyarakat melalui edukasi Perilaku Hidup Bersih dan Sehat (PHBS).

Edukasi difokuskan pada pentingnya menjaga kebersihan lingkungan, mengendalikan populasi tikus, serta menghindari kontak langsung dengan urine, air liur, maupun kotoran hewan pengerat yang berpotensi menjadi sumber penularan hantavirus.

Baca juga:

Mengenal Patogen Zoonosis dan Kaitannya dengan Hantavirus yang Mewabah di MV Hondius

Di sisi teknis, pemerintah turut memperkuat deteksi dini melalui pengawasan penyakit infeksi emerging dan pemantauan terhadap hewan pembawa penyakit.

Pengendalian tikus dan celurut menjadi perhatian penting karena hewan tersebut merupakan reservoir utama hantavirus.

Pendekatan penanganan hantavirus di Indonesia juga mulai mengedepankan model One Health, yakni strategi kolaboratif yang mengintegrasikan sektor kesehatan manusia, hewan, dan lingkungan dalam menangani penyakit zoonosis.

Meski hingga kini belum ditemukan lonjakan besar kasus hantavirus di Indonesia, Kemenkes menilai kewaspadaan tetap penting karena penyakit ini memiliki tingkat fatalitas cukup tinggi.

Selain itu, gejala awal hantavirus yang menyerupai flu biasa membuat penyakit ini berisiko terlambat dikenali.

Karena itu, masyarakat diminta segera memeriksakan diri apabila mengalami demam, nyeri otot, sakit kepala, atau gangguan pernapasan setelah berada di lingkungan yang berisiko terpapar tikus.

Pemerintah berharap kombinasi antara pengawasan ketat, edukasi publik, serta pengendalian lingkungan dapat mencegah hantavirus berkembang menjadi ancaman kesehatan yang lebih besar di Indonesia. (Far)

Baca Artikel Asli