MerahPutih Nasional - Pencopotan calon anggota Paskibraka 2016 Gloria Natapraja Hamel karena status kewarganegaraannya membuat Sosiolog UI Imam B. Prasodjo geram. Jerih payah, kerja keras, dan perjuangan Gloria untuk sampai pada tahap ini menguap begitu saja.
Siswi SMA Islam Dian Didaktika di Depok, Jawa Barat itu terpilih melalui seleksi yang ketat bersama pelajar SMA dari daerah lain. Selanjutnya, mereka digembleng di Bumi Perkemahan, Cibubur.
Tapi, apa lacur seluruh kerja keras Gloria sirna ketika status kewarganegaraannya terungkap. Dia pun dicopot dari calon anggota Paskibraka jelang detik-detik peringatan HUT Kemerdekaan RI ke-71 di Istana Kepresidenan.
Hal itu membuat Imam merasa "trenyuh" karena negara telah membunuh semangat membara Gloria yang bangga menjadi Indonesia. Berikut ini tulisan lengkap Imam B. Prasodjo yang merahputih.com kutip dari akun Facebook-nya:
DOAKU UNTUK GLORIA NATAPRAJA DI HARI KEMERDEKAAN KE-71
Ini bukan soal Gloria Natapraja tak dapat ikut mengibarkan bendera Merah Putih, atau tak dapat ikut berbaris di Istana Negara dengan disaksikan para pejabat dan petinggi negeri. Saya yakin Gloria akan dapat kesempatan lain yang jauh lebih bergengsi dan bermakna untuk mengaktualisasikan prestasi dan semangat keindonesiaannya.
Namun saya merasa "trenyuh" melihat kedunguan yang mengatas-namakan negara mencoba membunuh semangat membara seorang anak bangsa yang ingin mengekspresikan kebanggaan sebagai bagian Indonesia. Saya tak rela luapan kecintaan seorang anak pada Indonesia yang tengah tumbuh berkembang, justru dibonsai dan dikerdilkan dengan begitu telanjang, tepat menjelang peringatan hari kemerdekaan.
Saya terbayang, Gloria berlatih. Tahap demi tahap ia ikuti proses seleksi bersama teman-temannya, membangun kebersamaan, menumbuhkan keindonesiaan. Tapi dalam sekejap, gelora itu diputus dan dirampas oleh sebuah tafsir hukum kedunguan.
Bukankah peristiwa ini adalah sebuah pertunjukan arogansi perampasan hak yang begitu kasat mata digelar? Wahai Bung Karno dan Bung Hatta, Sang Pendiri Bangsa. Lihatlah apa yang terjadi pada anak muda pewarismu!
Melalui kata-kata, aku menolak sekerasnya perlakuan ini. Melalui tulisan ini aku nyatakan TIDAK pada kesewenangan yang membahayakan semangat generasi penerus.
Apa jadinya negeri ini bila perlakuan tak adil dan tak mendidik ini dibiarkan? Apa jadinya bila Gloria bukan anak yang kukuh dan berpandangan luas menyikapi perilaku bogus berbungkus aturan?
Syukurlah, dengan bukti surat yang tertulis dari Gloria ini, saya merasa yakin Gloria tak luluh menerima gempuran tangan-tangan kebodohan yang terkadang bertebaran memperlihatkan kecongkakan.
Kepada Gloria, doaku untukmu. Semoga api yang berkobar di dadamu tak akan pernah padam karena kau tak akan pernah lelah menyintai Indonesia di tengah banyaknya pembajak semangat proklamasi.
#iPras 2016
BACA JUGA: