Berita

Indonesiaku

Hiburan & Gaya Hidup

Olahraga

Visual

Berita Indonesia

Karya Mahasiswa ITS Ini Mampu Cegah Klaster COVID-19 di Lingkup Industri

Zulfikar Sy - Jumat, 02 Oktober 2020

MerahPutih.com - Guna menekan angka penyebaran COVID-19 di kawasan industri, tiga Mahasiswa Institut Teknologi Sepuluh Nopember Surabaya (ITS) yakni Eko Rian Fauzi, Mia Dwi Susanti dan Arinditya Berlinda yang tergabung tim Armies besut alat absensi khusus bernama Co-Saber berbasis global positioning system (GPS).

Co-Saber (Corona Smartband and Smart Detector) merupakan teknologi presensi pintar untuk pencegah penyebaran corona virus di industri kecil dan menengah.

Eko Rian Fauzi, Ketua Tim Armies mengatakan, kendati sejak Juni lalu pemerintah menerapkan masa adaptasi kebiasaan baru (new normal) guna memulihkan roda perekonomian di Indonesia, namun dampak kebijakan ini malah menambah klaster baru penyebaran COVID-19.

Baca Juga:

Anies dan Anak Buahnya Diminta 'Cross Check' Klaim Tempat Hiburan Jadi Klaster COVID-19

“Kami menilai metode presensi menggunakan finger print menjadi salah satu penyebab menyebarnya virus. Oleh karena itu, Co-Saber hadir sebagai solusi,” tutur Eko saat dikonfirmasi, Kamis (01/10).

Ia menjelaskan, Co-Saber terdiri dua perangkat yakni Smartband dan Smart Detector yang terkoneksi internet. Smartband didesain khusus menyerupai gelang yang akan dipakai para pekerja di industri.

"Alat ini berfungsi untuk melakukan pemantauan riwayat perjalanan pekerja, sehingga alat ini disertai dengan global positioning system (GPS),” terangnya.

Sedangkan Smart Detector, lanjut Eko, dipakai sebagai alat presensi nonkontak sebelum pekerja memasuki lokasi kerja. Untuk meminimalisir kontak fisik, disematkan fitur face detection untuk mengidentifikasi pekerja yang melakukan presensi.

“Pada perangkat ini juga ada sensor suhu berbasis sinar inframerah untuk mengukur suhu tubuh pekerja tanpa melakukan kontak fisik,” ungkap Eko.

Bentuk desain smart detector teknologi Co-Saber gagasan Tim Armies dari mahasiswa Departemen Teknik Instrumentasi ITS. (Foto: MP/Istimewa)
Bentuk desain smart detector teknologi Co-Saber gagasan Tim Armies dari mahasiswa Departemen Teknik Instrumentasi ITS. (Foto: MP/Istimewa)

Kinerja Co Saber

Cara kerja pertama Co Saber, sensor ultrasonik akan mengidentifikasi adanya seseorang di depan perangkat. Jika terdeteksi, kamera akan menangkap citra wajah pekerja tersebut.

“Hasil bidikan camera akan diproses menggunakan teknologi face detection untuk mengetahui identitas pekerja yang melakukan presensi,” tuturnya.

Selanjutnya, untuk riwayat perjalanan pekerja tersebut akan diambil dari cloud storage dan diidentifikasi secara otomatis apakah pekerja mengunjungi satu atau lebih dari lokasi pada daftar hitam COVID-19. Hasil identifikasi suhu dan lokasi yang dikunjungi diolah kembali dan ditampilkan oleh indikator.

Eko menuturkan, dosen Departemen Teknik Instrumentasi berperan penting pada inovasinya kali ini.

“Khususnya Bu Sefi Novendra sebagai dosen pembimbing kami, yang banyak memberikan saran dan masukan dalam mengembangkan Co-Saber ini,” tambahnya.

Baca Juga:

Sepekan Terakhir, Kasus Klaster Perkantoran di Jakarta Alami Penurunan

Menurut Eko, teknologi ini sudah ada pada 2014 silam, khususnya dalam penggunaan face detection sebagai presensi online.

"Bedanya dengan kajian ini, teknologi Co-Saber dilengkapi fitur pengukuran suhu tubuh dan identifikasi riwayat perjalanan, sehingga mampu menyesuaikan kondisi pandemi COVID-19 ," kata Eko.

Eko berharap, Co Saber mampu membantu usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM) yang masih jauh dari sentuhan teknologi dan terancam terhenti beroperasi karena pandemi.

“Kami juga berharap dengan pengaplikasian teknologi ini di dunia industri, pekerja bisa lebih disiplin dengan tidak mengunjungi tempat berisiko terjadi penularan virus,” tutup Eko.

Sebagai informasi, teknologi Co-Saber berhasil meraih juara pertama dalam kompetisi nasional yang diadakan oleh IT Telkom Purwokerto, beberapa waktu lalu. (Andika Eldon/Jawa Timur)

Baca Juga:

Pemda Diminta Siaga Hadapi Klaster COVID-19 Bencana Alam

Baca Artikel Asli