Jokowi: Jangan Jualan McDonald dan Starbucks, Tapi Wedang Ronde dan Telur Asin
Selasa, 17 Juli 2018 -
MerahPutih.com - Presiden Joko Widodo baru saja meresmikan pengoperasian jalan tol Solo-Ngawi seksi Kartasura-Sragen sepanjang 35.2 KM, di gerbang tol Ngemplak Kabupaten Boyolali, Jawa Tengah, Minggu (15/7) pagi. Presiden yang akran disapa Jokowi tersebut mengaku senang lantaran penggarapan ruas tol tersebut akhirnya rampung.
“Secara bertahap, tol Trans Jawa mualai akan tersambung dari Merak hingga Banyuwangi,” ujar Jokowi dalam pidatonya.
Menurut Jokowi, pembangunan infrastrukurt ini memang harus terus dilaksanakan karena dalam rangka kompetisi persaingan global. Jika tidak, tambah Jokowi, Indonesia akan ditinggal oleh negara negara lain.
Bahkan dalam catatannya, Indonesia sudah ditinggal oleh negara negara tetangga dalam stok infrastruktur dan dalam daya saing. Indonesia, sudah kalah dengan Singapura, Malaysia, Filipina, bahkan dengan Vietnam. “Jangan sampai kita juga kalah dengan Laos dengan Kamboja karena ketidakcepatan kita dalam membangun hal hal yang fundamental,” kata dia.
Tampak hadir dalam kesempatan itu Menteri Sekretaris Negara Pratikno, Menteri PUPR Basuki Hadimuljono, Menteri BUMN Rini Soemarno, dan Gubernur Jawa Tengah Ganjar Pranowo.
Selain soal percepatan pembangunan insfrastruktur, Jokowi juga menyinggung soal jualan produk asing di rest area tol. Dia perpesan agar rest area tol jangan menjual makanan dan minuman merek asing seperti Starbucks, McDonald, KFC dan lainnya.
“Harus mulai diganti sate, soto, tahu guling, gudeg. Saya sudah perintah ke Menteri BUMN, Menteri PU untuk diubah, kerja sama dengan pimpinan daerah sehingga yang namanya batik dapat dijual di rest area, telur asin dapat dijual di-rest area, makanannya yang tadi,” tegas Jokowi
“Kalau minuman, jangan Starbucks tapi wedang ronde begitu,” imbuhnya.
Jokowi optimistis para bupati dan wali kota melaksanakan harapannya tersebut. Ia menambahkan bahwa permintaannya itu belum perlu sampai harus ada instruksi tertulis, seperti Inpres (instruksi presiden).
Namun kalau perintah belum dilaksanakan, Jokowi tak menutup kemungkinan akan menggunakan Inpres. Menurutnya, permintaan ini bukan hanya sekadar urusan income, tapi keberpihakan pada brand-brand lokal.
“Sekarang setop untuk Starbucks dan sejenisnya. Ganti dengan produk-produk yang menjadi unggulan daerah,” tegasnya.
Terkait sewa yang mahal, Presiden mengatakan bahwa itu nanti bagiannya menteri, nanti bisa disubsidi dari kementerian. (*)