Berita

Indonesiaku

Hiburan & Gaya Hidup

Olahraga

Visual

Berita Dunia

Iran Tegas Tutup Selat Hormuz, ini Dampaknya bagi Pasokan Bahan Bakar Global

Dwi Astarini - Selasa, 03 Maret 2026

MERAHPUTIH.COM — IRAN bersumpah akan menembak kapal mana pun yang mencoba melintas melalui Selat Hormuz, jalur pelayaran minyak tersibuk di dunia. Sikap tegas Iran ini membawa dampak meluas bagi pasokan bahan bakar global.

Biasanya, sekitar 20 persen minyak dan gas global melewati jalur pelayaran sempit di Teluk tersebut. Namun, Jenderal Sardar Jabbari dari Iran mengatakan bahwa Teheran kini tidak akan membiarkan setetes pun minyak keluar dari kawasan tersebut.

Ketidakpastian dan gangguan terhadap perdagangan internasional akibat respons Iran atas serangan AS dan Israel telah mendorong kenaikan harga minyak. Pemblokadean selat itu dapat semakin meningkatkan biaya barang dan jasa di seluruh dunia, serta menghantam beberapa ekonomi terbesar dunia, termasuk China, India, dan Jepang. Ketiganya merupakan importir utama minyak mentah yang melewati jalur perairan tersebut.



Arti Penting Selat Hormuz



Selat Hormuz merupakan salah satu jalur pelayaran terpenting di dunia, sekaligus titik penyempitan (choke point) transit minyak paling vital secara global. Selat ini dibatasi di sebelah utara oleh Iran dan di selatan oleh Oman serta Uni Emirat Arab (UEA). Koridor ini, yang lebarnya sekitar 50 km di pintu masuk dan keluarnya, serta sekitar 33 km pada titik tersempitnya, menghubungkan Teluk dengan Laut Arab.

Selat ini cukup dalam untuk dilalui kapal tanker minyak mentah terbesar di dunia dan digunakan produsen utama minyak dan gas di Timur Tengah serta para pelanggannya. Sekitar 3.000 kapal melintasi selat tersebut setiap bulannya.

Administrasi Informasi Energi AS (EIA), dikutip BBC, menyebut sekitar 20 juta barel minyak per hari melewati Selat Hormuz pada 2025. Jumlah itu setara dengan hampir USD 600 miliar nilai perdagangan energi per tahun. Minyak tersebut tidak hanya berasal dari Iran, tetapi juga dari negara-negara Teluk lainnya seperti Irak, Kuwait, Qatar, Arab Saudi, dan Uni Emirat Arab.

Baca juga:

Iran Bersumpah akan Tembaki Kapal yang Melintas Selat Hormuz, Pasokan Minyak Global Terancam





Negara Teluk dan Asia akan Terdampak





Para analis memperingatkan, semakin lama ancaman terhadap kapal yang melintas di selat itu berlangsung, semakin tinggi pula harga minyak, termasuk serta biaya pengirimannya. “Secara de facto, selat itu sudah tertutup karena tidak ada yang berani melintas. Kapal bisa saja diserang dan tidak ada asuransi untuk itu. Jika minyak dan gas yang berasal dari selat itu terhenti, hal itu akan berdampak signifikan terhadap pasar,” kata Arne Lohmann Rasmussen, kepala analis di Global Risk Management, penyedia wawasan pasar energi, dikutip CBS News.

Ia menyebut, meskipun tidak ada blokade fisik, ancaman dari pihak Iran, ditambah serangan drone dan rudal, membuat kapal tanker tidak melintasi selat tersebut.

Patokan global minyak mentah Brent sempat menyentuh USD 82 per barel pada Senin (2/1), setelah sedikitnya tiga kapal diserang di dekat Selat Hormuz pada akhir pekan. Hal itu membuat sekitar 150 kapal tanker terdampar.

Berdasarkan data dari London Stock Exchange Group, biaya menyewa kapal tanker super untuk mengirim minyak dari Timur Tengah ke China hampir dua kali lipat jika dibandingkan dengan pekan lalu, mencapai rekor tertinggi lebih dari USD 400 ribu.

Penutupan jalur pelayaran vital tersebut juga akan merugikan negara-negara Teluk seperti Arab Saudi, yang perekonomiannya sangat bergantung pada ekspor energi. Sebagai perbandingan, Badan Energi Internasional menyebut Iran mengekspor sekitar 1,7 juta barel per hari. Iran mengekspor minyak senilai USD 67 pada tahun fiskal yang berakhir Maret 2025. Itu merupakan pendapatan minyak tertinggi dalam satu dekade terakhir.

Tak hanya bagi negara di kawasan itu, blokade Selat Hormuz juga akan sangat berdampak pada Asia. Pada 2022, sekitar 82 persen minyak mentah dan kondensat (hidrokarbon cair berdensitas rendah yang biasanya muncul bersama gas alam) yang keluar melalui Selat Hormuz ditujukan ke negara-negara Asia, menurut perkiraan EIA.

China sendiri diperkirakan membeli sekitar 90 persen minyak yang diekspor Iran ke pasar global. Karena China menggunakan minyak tersebut untuk memproduksi barang yang kemudian diekspor ke negara lain, kenaikan harga minyak juga dapat berarti kenaikan harga bagi konsumen di seluruh dunia.



Jalur Alternatif yang tak Efektif




Meski begitu, bukan tak ada cara lain untuk mengeluarkan minyak dari Iran. Ancaman penutupan Selat Hormuz yang terus berlangsung selama bertahun-tahun telah mendorong negara-negara pengekspor minyak di kawasan Teluk untuk mengembangkan rute ekspor alternatif.

EIA mengatakan Arab Saudi mengoperasikan jaringan pipa sepanjang 1.200 km yang mampu mengangkut hingga 5 juta barel minyak mentah per hari. Di masa lalu, negara itu juga pernah untuk sementara mengalihfungsikan pipa gas alam guna mengangkut minyak mentah.

Uni Emirat Arab telah menghubungkan ladang minyak di daratan dengan Pelabuhan Fujairah di Teluk Oman melalui jaringan pipa yang memiliki kapasitas harian setidaknya 1,5 juta barel.

Minyak memang dapat dialihkan melalui infrastruktur alternatif tersebut untuk menghindari Selat Hormuz. Namun, seperti dilaporkan Reuters, langkah itu tetap akan menyebabkan penurunan pasokan antara 8 hingga 10 juta barel per hari.(dwi)

Baca juga:

Kemenkeu Mulai Lakukan Mitigasi Potensi Risiko Dampak Penutupan Selat Hormuz

Baca Artikel Asli