MERAHPUTIH.COM - ANGGOTA Komisi I DPR RI Syamsu Rizal atau yang akrab disapa Deng Ical merespons serangan habisan-habisan militer Amerika Serikat (AS) ke Iran. Dia mendesak pemerintah Indonesia mengambil peran aktif dalam mendorong penghentian serangan (AS) terhadap Iran.
Militer AS melancarkan serangan terhadap sejumlah target di Iran pada Rabu malam waktu Amerika atau Kamis (30/7) dini hari waktu Teheran. Washington menyebut serangan itu sebagai balasan atas serangan Iran terhadap pangkalan militer AS di Yordania.
"Indonesia harus konsisten menyuarakan penghentian serangan dan mendorong semua pihak menahan diri. Tidak ada persoalan yang dapat diselesaikan melalui perang berkepanjangan. Jalan dialog dan diplomasi harus menjadi pilihan utama," kata Deng Ical, Jumat (31/7).
Politikus asal Dapil Sulawesi Selatan I itu meminta pemerintah Indonesia memanfaatkan posisi strategisnya di berbagai forum internasional untuk menggalang dukungan bagi terciptanya gencatan senjata. Menurutnya, Indonesia memiliki amanat konstitusi untuk ikut melaksanakan ketertiban dunia yang berdasarkan kemerdekaan, perdamaian abadi, dan keadilan sosial.
Baca juga:
Iran Serang Pangkalan Udara Al Azraq Yordania, 3 Jet Tempur F-35 Milik AS Hancur
Deng Ical mendorong Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) bersama komunitas internasional segera memfasilitasi perundingan damai antara Amerika Serikat dan Iran agar konflik tidak semakin meluas. "Indonesia bersama PBB dan negara-negara sahabat harus mengajak Amerika Serikat dan Iran duduk bersama di meja perundingan. Gencatan senjata harus segera diwujudkan agar tidak semakin banyak korban berjatuhan," ujarnya.
Menurut anggota Komisi I DPR RI yang membidangi urusan luar negeri dan pertahanan tersebut, perang yang terus berlangsung tidak hanya berdampak pada negara-negara yang berkonflik, tetapi juga membawa konsekuensi besar bagi masyarakat dunia. "Rakyat sipil selalu menjadi pihak yang paling menderita. Selain korban jiwa, konflik ini juga akan memicu krisis kemanusiaan, mengganggu stabilitas kawasan, serta meningkatkan ketidakpastian global," tegasnya.
Deng Ical mengingatkan konflik terbuka antara AS dan Iran berpotensi memperburuk situasi geopolitik internasional. Dampaknya dapat menjalar ke sektor ekonomi global melalui terganggunya rantai pasok, meningkatnya harga energi, hingga tekanan terhadap perekonomian berbagai negara, termasuk Indonesia.
"Perang tidak boleh dibiarkan berlarut-larut. Dunia membutuhkan perdamaian, bukan eskalasi konflik. Semua pihak harus mengedepankan diplomasi demi menjaga stabilitas dan melindungi kehidupan masyarakat sipil," pungkasnya.(Pon)
Baca juga:
AS Siapkan Sanksi Baru Buat Rusia dan Iran, Bakal Kenakan Tarif Bea 500 Persen

