Inilah Formula 4+1 Indonesia untuk Rohingya

Selasa, 05 September 2017 - Thomas Kukuh

MerahPutih.com - Menteri Luar Negeri (Menlu) Retno Marsudi menggelar pertemuan dengan State Counsellor Daw Aung San Suu Kyi di Nay Pyi Taw, Myanmar, Senin (4/9). Dalam pertemuan tersebut, Retno menyampaikan usulan Indonesia atas tragedi Rohingya yang diberi nama Formula 4+1 untuk Rakhine State. Usulan tersebut langsung diserahkan kepada Suu Kyi.

"Saya hadir di Myanmar membawa amanah masyarakat Indonesia yang sangat khawatir terhadap krisis kemanusiaan di Rakhine State dan agar Indonesia membantu. Saya juga membawa suara dunia Internasional agar krisis kemanusiaan di Rakhine State dapat segera diselesaikan" kata Retno.

Nah, empat elemen dari formula tersebut rinciannya adalah mengembalikan stabilitas dan keamanan, menahan diri secara maksimal dan tidak menggunakan kekerasan, perlindungan kepada semua orang yang berada di Rakhine State tanpa memandang suku dan agama, dan pentingnya segera dibuka akses untuk bantuan kemanusiaan.

"Empat elemen pertama merupakan elemen utama yang harus segera dilakukan agar krisis kemanusian dan keamanan tidak semakin memburuk," ujarnya.

Lantas, apa satu elemen yang lainnya. Retno lantas menjelaskan, satu elemen lain itu adalah pentingnya agar rekomendasi Laporan Komisi Penasehat untuk Rakhine State yang dipimpin mantan Sekjen PBB Kofi Annan segera diimplementasikan.

Mengenai implementasi rekomendasi laporan Kofi Annan, pemerintah Myanmar membentuk komite implementasi dan Badan Penasehat untuk mengawasi implementasi rekomendasi tersebut.

Menlu RI dalam pertemuan juga menyampaikan betapa peduli dan berkomitmennya LSM Kemanusiaan Indonesia terhadap Myanmar. Dalam kaitan ini, Retno menyampaikan bahwa baru saja meluncurkan Aliansi Kemanusiaan Indonesia untuk Myanmar (AKIM) pada 31 Agustus lalu.

Aliansi terdiri dari 11 organisasi kemanusiaan, yang memprioritaskan bantuannya pada empat hal, yaitu pendidikan, kesehatan, livelihood (ekonomi) dan relief. Komitmen bantuan yang diberikan oleh Aliansi adalah sebesar 2 juta dollar AS. "Saya berharap Myanmar dapat melanjutkan pemberian akses kepada AKIM karena selama ini telah bersama Pemerintah Indonesia dalam melaksanakan beberapa program," tutur dia. (*)

Sumber: Antara

Bagikan

Baca Original Artikel
Bagikan