MERAHPUTIH.COM — EKOSISTEM terumbu karang dunia hampir semuanya menghadapi risiko tinggi mengalami keruntuhan dalam 50 tahun medndatang. Sebagian besar keruntuhan itu disebabkan pemanasan samudra dan gelombang panas. Demikian diungkap penilaian global yang dirilis pada Kamis (22/10).
Penilaian dari International Union for Conservation of Nature (IUCN), yang diumumkan di sela-sela konferensi keanekaragaman hayati PBB di Albania, menemukan 96 persen sistem terumbu karang air dangkal sudah berada dalam kondisi kritis dan dapat lenyap pada 2075.
Sebagian besar sistem terumbu karang terkenal di dunia semuanya berada dalam kondisi terancam kritis dengan tingkat ancaman tertinggi. Terumbu karang itu termasuk termasuk Great Barrier Reef di Australia, Segitiga Terumbu Karang (Coral Triangle) di Samudra Pasifik Barat dan Asia Tenggara, Sistem Terumbu Karang Penghalang Mesoamerika, serta terumbu karang Laut Merah.
“Risiko keruntuhan terumbu karang kian meningkat, tetapi ini harus menjadi pengingat untuk bertindak daripada menjadi alasan untuk berputus asa," kata Mishal Gudka, pemimipin ilmiah dari penilaian IUCN Red List of Coral Reef Ecosystems.
Baca juga:
Mangrove dan Terumbu Karang di Pulau Biawak Dirusak, KLH Dalami Dampak dan Langkah Perbaikan
Gudka menyebut terumbu karang telah menunjukkan kemampuan yang luar biasa untuk bangkit kembali dari peristiwa pemutihan (bleaching) yang merusak. “Kantung-kantung terumbu karang tangguh yang berhasil bertahan masih bisa ada di masa depan, jadi kita harus melakukan segala daya upaya untuk mendukung keberhasilan mereka,” jelasnya.
Terumbu Karang Vital bagi Lautan
Penilaian ini merupakan kabar buruk terbaru bagi terumbu karang, yang merupakan sumber penting bagi makanan laut dan pariwisata, serta sering berfungsi sebagai penyangga dari erosi pantai dan badai. Terumbu karang, yang acap dijuluki ‘hutan hujan di lautan’, memiliki beberapa keanekaragaman hayati terkaya di dunia. Mereka menopang seperempat spesies laut serta masyarakat pesisir dan dunia usaha.
Ketika terumbu karang runtuh, karang keras lenyap dan digantikan ganggang, puing-puing, dan spons. Akibatnya, terumbu karang tidak lagi dapat menopang ekosistem yang beragam, yang dapat mencakup segala hal mulai dari invertebrata kecil hingga ikan karang seperti kerapu.
"Terumbu karang merupakan salah satu tanda vital paling jelas dari kesehatan lautan," kata Direktur Jenderal IUCN Grethel Aguilar dalam sebuah pernyataan.
Penilaian tersebut, yang mencakup 127 wilayah ekologi (ecoregions) tropis dan subtropis serta meliputi 188.362 kilometer persegi terumbu karang secara global, menyebut perubahan iklim sebagai ancaman paling konsisten yang mendorong penurunan terumbu karang di seluruh dunia.
Perubahan Iklim Jadi Salah Satu Penyebab
Seminggu yang lalu, studi lain dalam jurnal Nature oleh IUCN menemukan hampir 44 persen spesies karang pembentuk terumbu menghadapi peningkatan risiko kepunahan akibat perubahan iklim. Setahun yang lalu, sebuah survei menemukan pemutihan karang yang berbahaya di dunia telah meluas hingga mencakup 84 persen terumbu karang di lautan. Itu merupakan paling intens dari jenisnya dalam sejarah yang tercatat.
Tahun 2024 merupakan masa terpanas di bumi yang pernah tercatat, dan sebagian besar dari panas tersebut masuk ke lautan. Suhu rata-rata permukaan laut tahunan di luar wilayah kutub mencapai rekor 20,87 derajat celsius.
Selain memerangi peningkatan emisi global, para ahli mengatakan upaya untuk mengurangi pencemaran, penangkapan ikan berlebihan (overfishing), dan pembangunan wilayah pesisir dapat membantu terumbu karang bertahan hidup.
"Kita tahu apa yang dibutuhkan: pengurangan emisi yang ambisius, upaya perlindungan dan pemulihan yang lebih kuat, serta investasi berkelanjutan pada ekosistem pesisir yang tangguh dan masyarakat yang bergantung padanya,” kata Aguilar.(dwi)
Baca juga: