Berita

Indonesiaku

Hiburan & Gaya Hidup

Olahraga

Visual

Berita Indonesia

IHSG Babak Belur Pagi Ini, Ambles 3,99 Persen Akibat Sentimen Suku Bunga AS

Angga Yudha Pratama - Senin, 08 Juni 2026

Merahputih.com - Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) membuka perdagangan Senin (8/6) dengan koreksi tajam 108,46 poin atau 1,94 persen menuju level 5.486,31. Tekanan jual masif terus berlanjut hingga pukul 09.15 WIB, memaksa indeks merosot hingga 222,29 poin alias 3,99 persen ke posisi 5.371,78.

“Kiwoom Research masih menyarankan untuk kembali perbanyak wait and see sebelum ambil posisi beli atau average down,”

Head of Research Kiwoom Sekuritas Liza Camelia Suryanata.

Badai Kenaikan Suku Bunga AS dan Ketegangan Global

Pasar global kini mengubah fokus dari harapan pemangkasan suku bunga menuju risiko pengetatan moneter tambahan oleh The Fed.

Data ketenagakerjaan Nonfarm Payrolls AS periode Mei 2026 melonjak 172.000 pekerjaan, melampaui prediksi pasar sebesar 85.000. Realisasi indikator ekonomi terlalu kuat ini memicu kekhawatiran inflasi bertahan lebih lama.

Baca juga:

DPR Soroti IHSG Anjlok dan Rupiah Tembus Rp 18.000 per Dolar AS, Investor Mulai Khawatir?

Kondisi eksternal semakin rumit akibat memanasnya geopolitik Timur Tengah serta manuver politik Asia Timur:

“Perkembangan terkait Selat Hormuz akan menjadi faktor penentu arah harga minyak, inflasi global, dan ekspektasi suku bunga,” tutur Liza menganalisis variabel utama pasar.

Ilustrasi

Langkah Penyelamatan Bank Indonesia dan Rapor Merah Bursa Dunia

Merespons guncangan hebat eksternal, sebagaimana dikutip Antara, Bank Indonesia bersama pemerintah merancang strategi pertahanan memperkuat nilai tukar Rupiah.

Baca juga:

Keluarga Glazer Pertimbangkan Jual Manchester United, Saham Langsung Melonjak Tajam!

Otoritas moneter fokus meningkatkan daya tarik aset keuangan domestik agar dana asing tidak keluar dari pasar keuangan Indonesia.

Berikut poin-poin penting penyelamatan ekonomi domestik serta situasi penutupan bursa dunia:

Gubernur bank sentral menyatakan pengelolaan likuiditas ketat ini harapannya mampu meredam volatilitas tinggi pasar modal nasional selama beberapa pekan ke depan.

Baca Artikel Asli