Berita

Indonesiaku

Hiburan & Gaya Hidup

Olahraga

Visual

Berita Indonesia

Hanura Usul Sistem Proporsional Setengah Terbuka untuk Pemilu 2029, Partai Diberi Peran Tentukan Caleg

Dwi Astarini - Rabu, 12 Agustus 2026

MERAHPUTIH.COM - PARTAI Hanura mengusulkan perubahan sistem pemilihan legislatif pada Pemilu 2029. Hanura ingin sistem proporsional terbuka tidak diterapkan secara penuh dan diganti dengan sistem kombinasi atau setengah terbuka. Wakil Ketua Umum Hanura Patrice Rio Capella mengatakan sistem tersebut diperlukan untuk meningkatkan kualitas anggota DPR dan DPRD. Menurutnya, sistem pemilu harus terus dievaluasi agar menghasilkan wakil rakyat yang lebih berkualitas.

"Pemilu itu seharusnya setiap masanya meningkatkan kualitas dari isi pemilu itu sendiri. Kita berharap Pemilu 2029 ini kualitas DPR, DPRD tingkat 1, tingkat 2 juga mulai meningkat," kata Rio dalam keterangannya, Rabu (12/8).

Rio menilai sistem proporsional terbuka saat ini membuat persaingan antarcaleg seperti 'pasar bebas'. Kondisi tersebut dinilai dapat menguntungkan caleg yang memiliki modal besar.

"Orang yang bagus, aktivis di partai mungkin bagus, hanya kalah pada modal atau kapital. Akibatnya, ia tersingkir dan dimenangi orang yang tidak mengikuti proses berpartai dan mengembangkan partainya sama sekali," ujarnya.

Hanura kemudian menawarkan sistem setengah terbuka. Dalam sistem ini, partai mendapat kewenangan menentukan caleg berdasarkan nomor urut, tetapi caleg tetap bisa mendapatkan kursi berdasarkan perolehan suara.

Baca juga:

Hanura Siap Hadapi Berapa Pun Ambang Batas Parlemen Pemilu 2029



Rio memberikan contoh apabila sebuah partai memperoleh satu kursi. Kursi tersebut akan diberikan kepada caleg nomor urut pertama. Namun, apabila partai memperoleh dua kursi, kursi pertama diberikan kepada caleg nomor urut pertama, sedangkan kursi kedua diberikan kepada caleg yang memperoleh suara terbanyak berikutnya.

"Kalau misalnya satu partai mendapatkan dua kursi, kursi pertama diserahkan kepada urutan nomor satu, kursi berikutnya ditentukan suara terbanyak," jelasnya.

Menurut Rio, skema tersebut akan mendorong kader untuk terlebih dahulu membesarkan partai sebelum maju sebagai caleg. Pada saat yang sama, mekanisme suara terbanyak tetap dipertahankan sebagai bentuk penghargaan terhadap perjuangan caleg.

"Dengan begitu, ada penghargaan dan membudayakan agar orang itu menjadi caleg dengan cara membesarkan partainya dulu. Bukan kemudian dia bisa pindah-pindah antarpartai politik hanya dengan mengandalkan uang yang banyak," katanya.

Rio mengatakan Hanura akan memperjuangkan usul tersebut bersama partai-partai nonparlemen. Dia menegaskan gagasan itu tidak berkaitan langsung dengan sikap Hanura mengenai parliamentary threshold.

Terkait dengan putusan Mahkamah Konstitusi yang mempertahankan sistem proporsional terbuka, Rio menilai perubahan tetap dapat dilakukan melalui revisi UU Pemilu oleh pembentuk undang-undang.

"Saya pikir tidak hanya Hanura yang untung. Tidak membuka secara seperti pasar bebas juga tidak menutup seperti zaman Orde Baru. Jadi kombinasi dengan dua sistem itu saya pikir bagus," pungkasnya.(Pon)

Baca Artikel Asli