Berita

Indonesiaku

Hiburan & Gaya Hidup

Olahraga

Visual

Hiburan & Gaya Hidup

Penting, Hal-Hal yang Perlu Diketahui saat Isolasi Mandiri

Raden Yusuf Nayamenggala - Minggu, 07 Februari 2021

BANYAK sejumlah kesalahan yang disadari dan tidak disadar saat survivor COVID-19 melakukan isolasi mandiri. Padahal, kesalahan tersebut bisa menjadi munculnya kluster keluarga dan transmisi di komunitas.

Hal tersebut dipaparkan Ketua Umum Perhimpunan Sarjana dan Profesional Kesehatan Masyarakat Indonesia (PERSAKMI) sekaligus epidemiolog Universitas Hasanuddin, Prof. Dr. Ridwan Amiruddin.

Baca Juga:

Pakar Ungkap Jenis Masker Terbaik untuk Mencegah Virus

Dr. Ridwan menuturkan, seiring bertambahnya kasus COVID-19 beberapa waktu terakhir ini, proporsi orang yang melakukan isolasi mandiri menjadi sekitar 35-40%.

"Ada sejumlah kebocoran memang diisolasi mandiri, hingga terbentuk kluster keluarga, transmisi di komunitas, serta pergerakan populasi di tempat-tempat umum sebenarnya menjadi pemicu kasus naik," tutur Dr. Ridwan, seperti yang dilansir dari laman Antara.

Isolasi mandiri sejatinya dilakukan dengan memisahkan pasien COVID-19 agar tidak menjadi sumber penularan. Selama isolasi mandiri, pasien perlu berada di dalam rumah atau ruangan selama 14 hari, tapi harus memeriksakan diri ke klinik atau rumah sakit, apabila gejala memburuk.

Selama isolasi mandiri, pasien perlu berada di dalam rumah atau ruangan selama 14 hari (Foto: pixabay/ornaw)

Namun, pada kenyataanya banyak pasien yang masih keliru tentang hal ini. Salah satunya tak berdiam di rumah atau ruangan selama 14 hari. Dia tetap berinteraksi sosial secara langsung dengan keluarga lain, sehingga bisa menjadi sumber penularan bagi keluarga maupun tetangganya.

Dr. Ridwan menjelaskan, bahwa semakin tinggi tingkat pertemuan, tingkat penularan semakin tinggi. Bila mobilitas penduduk naik satu persen, maka kasus COVID-19 bisa naik 8-15%.

Penyebab naiknya kasus COVID-19 tidak hanya soal pasien yang tidak disiplin, kurangnya pengawasan dari petugas puskesmas atau layanan medis juga menyebabkan kebocoran dalam pelaksanaan isolasi mandiri.

"Karena ketidakdisiplinan dalam melakukan isolasi mandiri maka terbentuk kluster keluarga, tetangga, kantor. Karena itu beberapa provinsi mendorong supaya isolasi mandiri dapat dikontrol oleh RT, RW atau dilaksanakan secara terpusat," jelas Dr. Ridwan

Baca Juga:

Persiapkan Ini Sebelum Divaksin COVID-19

Isolasi mandiri merujuk pada pedoman pencegahan dan pengendalian COVID-19 revisi kelima, yakni dilakukan mereka dengan kasus COVID-19 gejala ringan, orang tanpa gejala (OTG), kasus suspect hingga keluar hasil tes, dan kontak erat dari pasien positif.

Sebaiknya, sebelum mengisolasi mandiri, pasien menghubungi dinas kesehatan untuk menyampaikan bahwa akan melaksanakan isolasi mandiri. Kemudian, anggota keluarga segera mengungsikan mereka yang memiliki daya tahan tubuh rendah, seperti lansia, atau yang sedang dalam pengobatan penyakit kronis. Seperti diabetes, kanker, penyakit auto imun, dan kondisi pernapasan yang kurang baik.

Pasien yang menjalani isolasi mandiri harus rutin mencuci tangan dengan sabun dan berpikiran positif (Foto: pixabay/mylene2401)

Lalu, selama menjalani isolasi, sebaiknya kamu mengembangkan aktivitas yang memungkinkan berdiam di ruangan. Seperti membaca buku, atau kegiatan produktif lainnya.

Kemudian, harus rutin mencuci tangan dengan menggunakan air dan sabun, selalu berpikiran positif untuk menjaga imunitas, serta menghubungi psikolog bila dirasa perlu, untuk menjaga imunitas, mengontak nomor kontak layanan psikolog, bila dirasa perlu berbicara tentang kesehatan mental.

Selanjutnya, hal penting lain yang perlu diperhatikan, yakni harus memeriksakan kondisi status kesehatan setiap pagi. Bila terjadi perburukan, sesak napas, demam dan memahami risiko penularan saat berada di luar rumah.

Untuk ruangan selama isolasi mandiri, perlu diatur sesuai dengan pedoman. Seperti memiliki ventilasi baik, dan ruangan tidak dimasuki orang lain, termasuk anggota keluarga yang sehat.

Pisahkan kamar mandi dengan anggota keluarga lainnya (Foto: pixabay/jarmoluk)

Sementara untuk kamar mandi, disarankan pemisahan kamar mandi untuk orang yang melakukan isolasi mandiri. Namun, apabila tidak memungkinkan, kamar mandi dapat digunakan bergantian, asalkan dibersihkan dengan disinfektan rutin setelah dipakai.

Kemudian gunakan cairan kimia pembersih kamar mandi seperti yang mengandung accelerated hydrogen perixode (0,5 persen), Benzalkonium chloride (0,05 persen) dan Chloroxylenol (0,12 persen) bisa digunakan. Karena sisi lemah virus penyebab COVID-19.

Setelah itu, pasca melakukan isolasi mandiri, harus tetap harus menerapkan protokol kesahatan. (Ryn)

Baca Juga:

Deteksi Tanda-tanda COVID-19 dengan Jam Tangan Pintar

Baca Artikel Asli