Merahputih.com - Gunung Semeru kembali erupsi sejak Selasa, 15 September dini hari. Bahkan disertai suara gemuruh kuat dan terdengar hingga kawasan permukiman warga di lereng gunung.
Petugas Pos Pengamatan Gunung Semeru, Sigit Rian Alfian, mengatakan erupsi pertama terjadi pada pukul 00.10 WIB. Tinggi kolom abu tidak teramati, tetapi letusan terekam di seismogram dengan amplitudo maksimum 22 mm dan berlangsung sekitar 2 menit 25 detik.
Letusan Gunung Semeru pada Selasa dini hari disertai suara gemuruh kuat,
kata Sigit dalam laporan tertulis yang diterima di Lumajang, dikutip dari Antara.
Baca juga:
Gunung Semeru Erupsi 3 Kali Senin (14/9) Pagi, Letusan Sampai 1 Km
Semeru Erupsi Empat Kali, Kolom Abu Capai 1.000 Meter
Adapun erupsi kedua terjadi pukul 01.23 WIB dengan amplitudo maksimum 23 mm dan durasi 136 detik. Selanjutnya, letusan ketiga terjadi pada pukul 04.32 WIB.
Pada erupsi ketiga, kolom abu teramati mencapai sekitar 1.000 meter di atas puncak atau sekitar 4.676 meter di atas permukaan laut (mdpl). Kolom abu berwarna kelabu dengan intensitas tebal bergerak ke arah barat daya. Erupsi berlangsung selama 161 detik dengan amplitudo maksimum 23 mm.
Erupsi keempat terjadi pukul 05.27 WIB. Kolom letusan mencapai sekitar 800 meter di atas puncak, dengan abu berwarna kelabu dan intensitas tebal mengarah ke timur serta tenggara. Erupsi tersebut berlangsung 142 detik.
Warga Tetap Beraktivitas, Status Semeru Level III
Kepala Pelaksana BPBD Lumajang Isnugroho membenarkan suara gemuruh kuat yang menyertai erupsi.
Alhamdulillah tidak ada dampak akibat suara gemuruh tersebut dan pagi ini warga di lereng Gunung Semeru beraktivitas normal seperti biasanya,
ujar Isnugroho.
Gunung Semeru saat ini berstatus Level III atau Siaga dan masyarakat dilarang beraktivitas di sektor tenggara sepanjang Besuk Kobokan hingga 13 kilometer dari puncak atau pusat erupsi.
Baca juga:
Prakiraan Cuaca BMKG Selasa 15 September 2026: Hujan hingga Kabut Intai Sejumlah Kota di Indonesia
Warga juga diminta tidak beraktivitas dalam jarak 500 meter dari tepi sungai di sepanjang Besuk Kobokan karena berpotensi terdampak perluasan awan panas dan aliran lahar hingga 17 kilometer dari puncak.
Selain itu, aktivitas masyarakat dalam radius 5 kilometer dari kawah atau puncak Semeru juga dilarang karena kawasan tersebut rawan lontaran batu pijar.
Masyarakat diminta tetap waspada terhadap potensi awan panas, guguran lava, dan lahar di sepanjang aliran sungai yang berhulu di puncak Semeru, terutama Besuk Kobokan, Besuk Bang, Besuk Kembar, dan Besuk Sat. (*)