MERAHPUTIH.COM - ABU vulkanis Gunung Anak Krakatau tidak selalu bergerak menuju wilayah Lampung dan Banten. Perubahan arah dan kecepatan angin pada lapisan atmosfer berbeda dapat mendorong abu bergerak ke barat daya, melintasi Selat Sunda hingga berpotensi mengarah semakin jauh ke Samudra Hindia. Kondisi tersebut terpantau dalam analisis citra satelit Himawari-9 yang dilakukan Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) pada Rabu (9/9) siang.
Pada lapisan atmosfer dari permukaan hingga ketinggian sekitar 5.000 kaki atau 1,5 kilometer, abu vulkanis terpantau bergerak ke arah barat daya. Sebaran abu pada lapisan rendah tersebut mencakup sebagian wilayah Selat Sunda bagian barat, termasuk kawasan Pandeglang, Banten. Dengan pola angin tersebut, abu cenderung bergerak menjauh dari wilayah Lampung.
Namun, kondisi berbeda terjadi pada lapisan atmosfer yang lebih tinggi. Pada ketinggian sekitar 7.000 kaki atau 2,1 kilometer, abu masih terpantau bergerak ke arah barat laut dan mencakup sebagian wilayah Teluk Lampung.
Prakirawan BMKG Radin Inten Lampung, Yoyok Dewantoro, menjelaskan arah pergerakan abu vulkanis sangat bergantung pada kondisi angin di setiap lapisan atmosfer. “Untuk kondisi siang ini, berdasarkan analisis citra satelit, sebaran abu vulkanis lebih mengarah ke barat daya sehingga cenderung menjauh dari wilayah Lampung,” ujar Yoyok kepada wartawan, dikutip Kamis (10/9).
Baca juga:
Abu Vulkanis Juga Bahaya untuk Mata, Pakai Kacamata Pelindung Penting saat di Luar Ruang
Menurut Yoyok, arah sebaran abu dapat berubah karena pola angin tidak selalu sama pada setiap ketinggian. “Perubahan arah sebaran ini sangat bergantung pada pola dan kecepatan angin. Jadi masyarakat tetap perlu memperhatikan informasi terbaru karena arah sebaran abu dapat berubah sewaktu-waktu,” jelasnya.
Perbedaan arah angin tersebut membuat abu vulkanis dari satu gunung dapat memiliki jalur sebaran yang berbeda pada ketinggian tertentu. Dalam kondisi angin yang membawa massa udara ke arah barat daya, abu yang berada di lapisan atmosfer tersebut dapat terdorong melintasi Selat Sunda menuju wilayah Banten.
Jika pola angin berlanjut ke arah yang sama, jalur sebaran abu dapat bergerak semakin jauh ke perairan selatan dan berpotensi menuju Samudra Hindia. Itu berarti perubahan arah angin menjadi faktor penting dalam menentukan wilayah mana yang berpotensi dilintasi abu vulkanis.
Sebaran abu vulkanis yang melintas di suatu wilayah juga dapat memengaruhi kualitas udara dan jarak pandang, terutama apabila konsentrasi abu cukup tinggi. Karena itu, wilayah yang pada satu waktu tidak berada di jalur sebaran abu belum tentu sepenuhnya terbebas dari potensi terdampak. Perubahan pola angin dapat kembali menggeser jalur sebaran. BMKG mengingatkan masyarakat agar tidak hanya mengandalkan kondisi langit yang terlihat secara kasatmata.
Pemantauan menggunakan citra satelit dan analisis meteorologi diperlukan untuk mengetahui arah pergerakan abu secara lebih akurat.
“Jadi masyarakat tetap perlu memantau informasi terbaru dari BMKG dan PVMBG,” kata Yoyok.(knu)
Baca juga:
Pemprov DKI Terapkan PJJ Mulai 7 September Imbas Sebaran Abu Vulkanis Anak Krakatau