Berita

Indonesiaku

Hiburan & Gaya Hidup

Olahraga

Visual

Berita Indonesia

Dokter Reisa Sebut Dexamethasone Bukan Penangkal COVID-19

Andika Pratama - Sabtu, 20 Juni 2020

MerahPutih.com - Anggota Tim komunikasi Gugus Tugas COVID-19 Dokter Reisa Broto Asmoro mengungkapkan, dexamethasone harus digunakan secara hati-hati.

Meskipun harganya terbilang terjangkau, masyarakat diimbau tidak asal membeli dexamethasone. Menurut Reisa, obat ini memiliki efek samping.

Baca Juga

Update COVID-19 Jumat (19/6): 43.803 Positif, 17.349 Sembuh

"Meskipun harganya terjangkau selalu konsultasikan dulu sebelum pakai obat ini agak tak terjadi efek samping. Terutama bila memiliki alergi makanan obat dan bahan lain," ungkap Reisa di BNPB, Jakarta Timur, Jumat (19/6).

Ia menjelaskan, dosis dan dampak penggunaan obat ini mesti petunjuk dokter.

"Mohon hati-hati karena dosis dan lama penggunaan dexamethasone diberikan berdasarkan usia, kondisi, dan reaksi pasien,. Lalu, tak boleh penggunaanya dihentikan tiba-tiba," jelas Reisa yang merupakan mantan Putri Indonesia Pariwisata ini.

nggota Tim Komunikasi Publik Gugus Tugas COVID-19 Dokter Reisa Broto Asmoro dalam konferensi pers di Graha BNPB, Jakarta pada Jumat (19/6/2020) (ANTARA/Prisca Triferna)
Anggota Tim Komunikasi Publik Gugus Tugas COVID-19 Dokter Reisa Broto Asmoro dalam konferensi pers di Graha BNPB, Jakarta pada Jumat (19/6/2020) (ANTARA/Prisca Triferna)

WHO memang telah merilis obat anti-inflamasi golongan kortikosteroid, dexamethasone, sebagai obat untuk pasien COVID-19 berkategori berat. Ia mengingatkan, obat ini bukan untuk mencegah COVID-19.

"Ini penting, obat ini tak memiliki khasiat pencegahan. Ini bukan penangkal COVID, bukan vaksin. Ini kombinasi obat-obatan," kata Reisa.

Ia menjelaskan, dexamethasone bekerja dengan mengurangi peradangan dan menaikkan sistem kekebalan tubuh. Sama seperti obat kortikostroid lainnya.

"Desamethasone yang digunakan untuk jangka panjang tak boleh dihentikan tiba-tiba. Dokter yang turunkan dosis secara bertahap sebelum hentikan obat ini," tutup Reisa.

Dalam uji coba ini, Oxford University memberi dexamethasone kepada 2 ribu pasien virus corona, sementara 4 ribu pasien lain tidak diberi obat ini.

Baca Juga

Update Corona DKI Jumat (19/6): 9.525 Positif, 4.682 Sembuh

Hasilnya, dexamethasone berhasil mengurangi risiko kematian pasien yang dirawat menggunakan ventilator dari 40 menjadi 28 persen. Sementara risiko kematian pasien yang memakai alat bantu oksigen menurun dari 25 menjadi 20 persen.

Menurut para peneliti, jika obat ini dipakai untuk merawat pasien COVID-19 di Inggris sejak awal, lebih dari 5.000 jiwa bisa diselamatkan. (Knu)

Baca Artikel Asli