Cangkupan Imunisasi Tidak Merata, Wabah Campak Meningkat Pesat

Sabtu, 29 November 2025 - Alwan Ridha Ramdani

MerahPutih.com - Secara global kasus campak meningkat pesat. Diperkirakan perkirakan 11 juta infeksi pada 2024, hampir 800.000 lebih banyak dibanding sebelum pandemi pada 2019.

Wabah besar nyaris tiga kali lipat dibanding 2021. Wabah itu terjadi di 59 negara, angka tertinggi sejak pandemi COVID-19 yang mengganggu imunisasi.

Secara regional, kasus meningkat 86 persen di Timur Tengah, 47 persen di Eropa, dan 42 persen di Asia Tenggara dibanding 2019. Afrika justru turun 40 persen kasus dan 50 persen kematian.

Saat ini cakupan vaksinasi belum merata. Organisasi Kesehatan Dunia (WHO), dan UNICEF memperkirakan 84 persen anak mendapat dosis pertama vaksin campak pada 2024, tetapi hanya 76 persen menerima dosis kedua.

Baca juga:

Alasan Komisi X DPR Ngotot Pakai Metode Kodifikasi untuk Satukan Aturan Pendidikan Nasional, Omnibus Law Dicampakkan?

Orang yang terinfeksi tetap menghadapi risiko seumur hidup, termasuk kebutaan, pneumonia, dan ensefalitis yang dapat menyebabkan pembengkakan otak dan kerusakan permanen.

WHO memperingatkan pemotongan dana tajam untuk program campak dan rubella dapat memperlebar celah kekebalan dan memicu wabah baru pada 2026.

WHO menekankan bahwa meski kematian menurun, campak tetap sangat menular, dan upaya vaksinasi global harus dipercepat untuk mencegah kebangkitan penyakit ini.

Kematian akibat campak turun 88 persen sejak 2000, tetapi kasus meningkat, dengan tiga kali lebih banyak wabah pada 2024 dibanding 2019.

“Upaya imunisasi global menurunkan kematian akibat campak 88 persen antara 2000 dan 2024. Hampir 59 juta nyawa telah diselamatkan oleh vaksin campak sejak 2000,” kata WHO dalam pernyataannya.

Tercatat sekitar 95.000 orang meninggal akibat campak pada 2024, sebagian besar anak di bawah usia lima tahun.

“Setiap kematian akibat penyakit yang bisa dicegah tidak dapat diterima,” tulis WHO.

Bagikan

Baca Original Artikel
Bagikan