MerahPutih.com - Nilai tukar rupiah kembali tertekan pada penutupan perdagangan Selasa (28/7). Rupiah melemah 74 poin atau 0,41 persen ke level Rp18.083 per dolar AS, dibandingkan penutupan sebelumnya Rp 18.009. Sejak pembukaan pagi di kisaran Rp 18.070, rupiah gagal bangkit hingga akhir perdagangan.
Baca juga:
Pasar Waspada Sehari Setelah Bos BI Mundur, Rupiah Jeblok di Atas Rp18.070
Analis Bank Woori Saudara, Rully Nova, menilai pelemahan ini mencerminkan sikap hati-hati pelaku pasar terhadap arah kebijakan moneter Bank Indonesia (BI) di bawah kepemimpinan baru pasca mundurnya Perry Warjiyo.
Dipengaruhi faktor domestik, yakni sikap hati-hati pelaku pasar terhadap arah kebijakan BI di bawah Gubernur yang baru,
Analis Bank Woori Saudara, Rully Nova
Faktor Sentimen Global Menanti Kebijakan The Fed
Selain faktor transisi kepemimpinan BI, pelemahan rupiah juga dipengaruhi ekspektasi kebijakan Federal Reserve (The Fed). Kepada Antara, Analis pasar uang Ibrahim Assuaibi menyebut Fed diperkirakan mempertahankan suku bunga pada Rabu (29/7).
CME FedWatch menunjukkan probabilitas sekitar 62 persen untuk skenario suku bunga tetap. Namun, ketegangan geopolitik di Timur Tengah, termasuk lonjakan harga minyak hingga 20 persen akibat konflik AS–Iran di Selat Hormuz, menambah ketidakpastian pasar.
Baca juga:
Rupiah Terancam Melemah usai Perry Warjiyo Mundur, Ekonom Beberkan Penyebabnya
Meski demikian, Ibrahim melihat penunjukan Destry Damayanti sebagai pejabat sementara Gubernur BI sebetulnya dapat memberi harapan baru. Pasar menilai komitmen BI tetap terjaga dalam menjaga stabilitas nilai tukar, mengendalikan inflasi, dan mempertahankan sistem keuangan.
Penunjukan Destry memberi optimisme pasar akan komitmen bank sentral dalam menjaga stabilitas nilai tukar rupiah,
Analis pasar uang Ibrahim Assuaibi
Respons Lembaga Internasional terhadap Pergantian Bos BI
Semantara itu, Lembaga pemeringkat S&P Global Ratings menilai pengunduran diri Perry Warjiyo tidak berdampak langsung pada sovereign rating Indonesia. Namun, Sovereign Analyst Rain Yin menyebut dapat meningkatkan risiko terkait prospek kebijakan negara.
Hari ini, Bank Indonesia melalui Jakarta Interbank Spot Dollar Rate (JISDOR) mencatat rupiah melemah ke Rp18.088 per dolar AS, dari sebelumnya Rp 17.995. (*)