MerahPutih.com - Hilirisasi industri kelapa yang dilakukan PT Royal Agro Industri (RAI) memasuki babak baru. PT RAI akan meningkatkan jumlah produksinya dengan membeli alat produksi pengolahan kelapa dari Beyond, Tiongkok.
Dengan pembelian alat baru yang sangat canggih dan modern, perusahaan milik Jerry Hermawan Lo ini akan menambah jalur di pabriknya. Tentu tujuannya untuk meningkatkan kapasitas produksinya. Saat ini, PT RAI menaungi tiga pabrik pengolahan kelapa. Pertama, PT Dewa Agricoco Industri (DAI) di Halmahera, Maluku Utara. Kedua, PT Tri Mustika Cocomanaesa di Manado, Sulawesi Utara. Ketiga, PT Samuda Coco Indonesia di Sampit, Kalimantan Tengah.
"Karena permintaan hasil pengolahan kelapa di dunia terus meningkat, saat ini kami sedang membangun satu pabrik lagi di Riau, yakni PT Garuda Coco Industri," kata CEO PT RAI Johanna (Anna), kepada wartawan, Rabu (16/9).
Anna menerangkan, alat-alat yang dibeli dari Beyond, Tiongkok itu akan ditempatkan di pabrik Manado, Sampit, dan Riau. Karena pabrik Manado dan Sampit sudah berjalan, alat baru ini difungsikan untuk menambah jalur produksi. Untuk pabrik di Riau, alat ini akan disetel sejak awal produksi.
Baca juga:
JHL Foundation Dorong Regenerasi Petani Muda lewat Beasiswa Kelapa untuk 100 Mahasiswa UBB
"Tahun depan (2027), semua alat baru sudah bisa digunakan untuk produksi," tambah Anna.
Dengan alat baru ini, PT RAI akan bisa memproduksi olahan kelapa berupa desiccated coconut low fat dan desiccated coconut high fat. PT RAI juga memproduksi berbagai hasil olahan, seperti santan, arang, cocofiber, cocopeat, crude coconut oil, dan lainnya.
Lebih lanjut Anna menjelaskan, nantinya kapasitas pabrik di Riau mampu mengolah 1 juta butir kelapa per hari, sedangkan pabrik di Manado bisa mengolah 500 ribu butir kelapa per hari. Pabrik di Sampit mengolah 350 ribu butir per hari, sementara di Maluku mampu mengolah 250 ribu butir per hari.
"Artinya, PT RAI memiliki kapasitas untuk mengolah lebih dari 2 juta butir kelapa per hari," kata dia. Bagi PT RAI, pembelian alat produksi ini bukan sekadar penambahan kapasitas produksi. Proyek tersebut bertujuan menempatkan hilirisasi sebagai fondasi untuk mengubah posisi Indonesia dari pemasok bahan baku menjadi produsen produk olahan dengan nilai tambah lebih tinggi.
Owner PT RAI Jerry Hermawan Lo (JHL) sejak awal menempatkan hilirisasi sebagai alasan utama dirinya masuk ke industri kelapa. Pengusaha yang akrab disapa JHL itu sebelumnya menegaskan bahwa kelapa Indonesia seharusnya tidak berhenti sebagai komoditas mentah.
“Kalau dulu kelapa Indonesia diekspor dalam bentuk utuh (kelapa bulat) dengan harga murah, sekarang dengan pabrik ini, kami bisa olah dulu sebelum diekspor. Tentu saja olahan kelapa memiliki nilai ekonomi yang jauh lebih tinggi. Ini yang dinamakan hilirisasi kelapa," ucap pengusaha yang merintis bisnisnya dari nol itu. Sampai saat ini, PT RAI telah mengekspor berbagai hasil olahan kelapa ke lebih dari 33 negara, seperti Jerman, Spanyol, Turki, Tiongkok, Amerika, dan masih banyak lagi.
Menurut Jerry, pengolahan di dalam negeri memberikan nilai tambah yang lebih besar sekaligus membuka ruang penciptaan lapangan kerja dan memperkuat posisi petani dalam rantai industri. Kabar baiknya, kini PT RAI telah mempekerjakan ribuan tenaga kerja anak bangsa untuk bekerja di industri pengolahan kelapa. Jerry bahkan menyebut pendekatan perusahaannya adalah pengolah kelapa tanpa menyisakan limbah.
Bagi Jerry, arah PT RAI tersebut sejalan dengan prinsip yang selama ini dia bangun. Menurutnya, Indonesia tidak cukup hanya memiliki sumber daya alam, tetapi harus memiliki kemampuan mengolahnya menjadi produk bernilai tinggi.
“Tidak banyak negara yang punya perkebunan kelapa. Salah satu yang terbesar adalah Indonesia," ucapnya.
Besarnya kapasitas industri juga membuat keberlanjutan bahan baku menjadi persoalan penting. Karena itu, pengembangan industri kelapa PT RAI selama ini tidak hanya berkaitan dengan pembangunan pabrik, tetapi juga hubungan dengan petani.
Pada pengembangan sebelumnya, PT RAI sudah bekerja sama dengan ribuan petani kelapa dan mendorong peningkatan produktivitas melalui pendampingan serta pelatihan. Jerry juga pernah menginisiasi skema penyisihan Rp 10 dari setiap butir kelapa yang diolah untuk beasiswa kelapa yang mencetak 2.000 sarjana pertanian.
"Sekarang kami sudah memberikan beasiswa kepada 1.300 mahasiswa pertanian dari berbagai universitas ternama di Indonesia," kata Jerry. Beasiswa Kelapa itu telah diberikan pada mahasiswa Universitas Lampung (Unila), Universitas Sumatera Utara (USU), IPB University (Institut Pertanian Bogor), Universitas Hasanuddin (Unhas).
Lalu, Universitas Bangka Belitung (UBB), Universitas Sam Ratulangi (Unsrat), Universitas Nusa Cendana (Undana), Universitas Sultan Ageng Tirtayasa (Untirta). Universitas Riau (Unri), Universitas Nusa Nipa (Unipa) Nusa Tenggara Timur, Sekolah Tinggi Pertanian Kewirausahaan (STPK) Banau, Halmahera Utara, dan lainnya.
“Kami hadir dengan komitmen untuk menyejahterakan para petani kelapa dan putra-putri daerah. Selain itu, cita-cita kami adalah 'Mengembalikan Kejayaan Kelapa Nusantara di Mata Dunia',” kata Jerry. (*)