Merahputih.com - Persoalan regenerasi petani menjadi salah satu tantangan besar masa depan pertanian Indonesia. Di tengah semakin sedikitnya generasi muda tertarik terjun ke sektor pertanian, JHL Foundation mendorong lahirnya generasi muda berpendidikan yang mampu menjadikan pertanian sebagai sektor produktif dan memiliki masa depan.
Komitmen tersebut diwujudkan melalui program Beasiswa Kelapa JHL Foundation yang menyasar mahasiswa di berbagai perguruan tinggi di Indonesia.
Hingga September 2026, program tersebut telah menjangkau sekitar 1.350 mahasiswa. JHL Foundation menargetkan jumlah penerima beasiswa dapat mencapai 2.000 mahasiswa hingga akhir 2026.
Baca juga:
JHL Foundation Dorong Regenerasi Petani Muda lewat Beasiswa Kelapa untuk 100 Mahasiswa UBB
Program Beasiswa Kelapa tersebut mengusung moto “Mencerdaskan dan Mensejahterakan Anak Bangsa Melalui Pertanian.”
Di Kepulauan Bangka Belitung, JHL Foundation kembali memberikan bantuan sosial berupa Beasiswa Kelapa kepada lebih dari 100 mahasiswa Universitas Bangka Belitung (UBB), Pangkalpinang, Rabu (2/9/2026).
Pemberian beasiswa tersebut dihadiri Dewan Pembina JHL Foundation Jerry Hermawan Lo, Gubernur Kepulauan Bangka Belitung Hidayat Arsani, serta jajaran rektorat Universitas Bangka Belitung.

Jerry mengatakan, program beasiswa tidak hanya dimaksudkan sebagai bantuan pendidikan, tetapi juga bagian dari upaya membangun sumber daya manusia pertanian sekaligus menjawab persoalan regenerasi petani.
Menurutnya, struktur usia petani Indonesia saat ini menjadi tantangan serius bagi keberlanjutan sektor pertanian.
“Para petani kita saat ini mayoritas sudah berusia di atas 45 tahun. Sementara itu, tidak banyak anak muda yang mau menjadi petani. Bahkan, sekitar 80 persen petani kita tidak lulus SD,” kata Jerry.
Baca juga:
JHL Foundation Dorong Regenerasi Petani Lewat Beasiswa Kelapa untuk Mahasiswa UBB
Ia menilai persoalan tersebut harus dijawab dengan meningkatkan kualitas pendidikan dan menarik generasi muda agar kembali melihat pertanian sebagai profesi yang memiliki masa depan.
“Bagaimana mungkin pertanian Indonesia bisa maju kalau kualitas SDM-nya masih pas-pasan? Karena itu, regenerasi petani dan peningkatan pendidikan menjadi hal yang sangat penting untuk membangun pertanian Indonesia ke depan,” ujarnya.
Target 2.000 Mahasiswa
JHL Foundation menempatkan pendidikan sebagai salah satu pintu masuk untuk memperkuat regenerasi petani.
Dari target 2.000 mahasiswa penerima Beasiswa Kelapa hingga akhir 2026, sebanyak 1.350 mahasiswa telah menerima manfaat program tersebut hingga September 2026.
Artinya, masih terdapat sekitar 650 mahasiswa yang menjadi bagian dari target penerima hingga penghujung tahun.

Jumlah tersebut menunjukkan bahwa program Beasiswa Kelapa tidak hanya diarahkan untuk memberikan dukungan pendidikan, tetapi juga menjadi bagian dari investasi jangka panjang terhadap sumber daya manusia di sektor pertanian.
Moto “Mencerdaskan dan Mensejahterakan Anak Bangsa Melalui Pertanian” menjadi landasan program tersebut.
Melalui pendidikan, mahasiswa diharapkan tidak hanya memiliki pengetahuan akademis, tetapi juga mampu melihat sektor pertanian sebagai peluang ekonomi, bisnis, inovasi dan kewirausahaan.
Dorong Mahasiswa Terjun Langsung ke Lahan Pertanian
Selain beasiswa, Jerry juga mendorong adanya model pendidikan pertanian yang lebih dekat dengan praktik di lapangan.
Ia mengusulkan Universitas Bangka Belitung menjalin kerja sama dengan Pemerintah Provinsi Kepulauan Bangka Belitung melalui skema Kerja Sama Operasional (KSO) untuk pengelolaan lahan seluas sekitar 1.000 hektare selama 30 tahun.
Menurut Jerry, lahan tersebut dapat dimanfaatkan sebagai ruang pembelajaran sekaligus lahan produktif bagi mahasiswa.
“Ada satu hal lagi yang mungkin dapat dilakukan oleh Bapak Rektor dari pihak kampus, yakni mengajukan kerja sama dengan Bapak Gubernur dalam bentuk KSO untuk pengelolaan lahan seluas 1.000 hektare selama 30 tahun,” kata Jerry.

Melalui skema tersebut, mahasiswa dapat dibagi dalam kelompok-kelompok kerja dan mulai terlibat langsung dalam aktivitas pertanian sejak masih duduk di bangku kuliah.
Jerry mencontohkan, lahan dapat ditanami kelapa dengan jarak sekitar 10 meter. Ruang di antara tanaman kelapa kemudian dapat dimanfaatkan untuk menanam berbagai komoditas lain seperti jagung, sayuran, vanili dan tanaman pertanian berumur pendek.
Dengan pola tersebut, mahasiswa tidak perlu menunggu tanaman kelapa memasuki masa produksi untuk mendapatkan hasil.
Baca juga:
JHL Foundation Bantu Guru dan Nakes, Jaga Pelayanan Publik di Flores Tetap Berjalan Pascagempa
“Sambil menunggu tanaman kelapa memasuki masa panen, lahan di antara tanaman dapat dimanfaatkan untuk menghasilkan komoditas pertanian jangka pendek,” ujarnya.
Menurutnya, konsep tersebut dapat menjadi laboratorium pertanian terbuka bagi mahasiswa.
“Sejak masa perkuliahan, mereka sudah memiliki pengalaman langsung dalam mengelola lahan, menanam, memanen, hingga memahami aspek ekonomi dan kewirausahaan di sektor pertanian,” kata Jerry.
Petani Bukan Profesi Kelas Dua
Jerry juga menyoroti stigma terhadap profesi petani yang menurutnya menjadi salah satu penyebab rendahnya minat generasi muda terhadap sektor pertanian.
“Selama ini, petani masih sering identik dengan pekerjaan yang kotor, jorok, dan miskin. Pandangan seperti inilah yang kemudian membuat Fakultas Pertanian kurang diminati oleh generasi muda,” ujarnya.

Menurut dia, persepsi tersebut harus diubah. Pertanian modern membutuhkan sumber daya manusia yang memiliki kemampuan intelektual, memahami teknologi, mampu mengelola bisnis, sekaligus memiliki akses terhadap informasi.
“Karena itu, saya sengaja memberikan perhatian khusus untuk mendongkrak Fakultas Pertanian. Tujuannya agar petani-petani Indonesia di masa depan merupakan manusia-manusia dengan tingkat intelektualitas yang tinggi, memiliki pengetahuan dan mampu memanfaatkan teknologi,” tegasnya.
Jerry menekankan, keterbatasan pendidikan dan informasi tidak boleh menjadi alasan untuk menganggap petani memiliki kemampuan rendah.
“Petani itu bukan bodoh. Mereka hanya kekurangan informasi,” kata Jerry.
Baca juga:
Karena itu, akses terhadap pendidikan, pengetahuan, teknologi dan informasi dinilai menjadi kunci untuk meningkatkan produktivitas sekaligus kesejahteraan petani.
“Yang harus kita lakukan adalah memberikan akses terhadap pendidikan, pengetahuan, teknologi, dan informasi agar mereka mampu mengembangkan pertanian secara lebih modern dan produktif,” lanjutnya.
Mencerdaskan Sekaligus Mensejahterakan

Program Beasiswa Kelapa JHL Foundation pada akhirnya diarahkan untuk mempertemukan pendidikan dengan sektor pertanian.
Dengan target 2.000 mahasiswa penerima beasiswa hingga akhir 2026, program ini diharapkan dapat menjadi bagian dari upaya menciptakan generasi baru yang melihat pertanian bukan sekadar pekerjaan tradisional, tetapi sebagai sektor strategis yang membutuhkan inovasi, teknologi dan kemampuan kewirausahaan.
Baca juga:
Semangat tersebut terangkum dalam moto “Mencerdaskan dan Mensejahterakan Anak Bangsa Melalui Pertanian.”
Bagi JHL Foundation, mencetak generasi muda yang berpendidikan di bidang pertanian merupakan investasi jangka panjang untuk menjawab tantangan regenerasi petani sekaligus memperkuat ketahanan dan kesejahteraan sektor pertanian Indonesia.