MerahPutih.com - Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) tengah mengembangkan riset dengan pendekatan Nature-based Solutions (NbS) sebagai strategi mitigasi gelombang laut ekstrem dan tsunami di kawasan Bandar Udara Internasional Yogyakarta (YIA), Kulon Progo, Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY).
Bandara YIA memiliki tingkat risiko tinggi karena lokasinya di pesisir selatan Jawa yang berhadapan langsung dengan zona subduksi lempeng aktif.
“Bandara Internasional Yogyakarta merupakan salah satu infrastruktur strategis yang berpotensi terdampak gelombang ekstrem maupun tsunami akibat aktivitas tektonik,” kata Periset Pusat Riset Teknologi Hidrodinamika BRIN, Khusnul Setia Wardani, dalam keterangannya, dikutip Media, Selasa (10/2).
Baca juga:
Tahun Ini Bandara YIA Jadi Embarkasi Keberangkatan Jemaah Haji
Pendekatan Benteng Berlapis
Khusnul menjelaskan tanggul laut alami yang dikembangkan untuk menciptakan sistem perlindungan pantai yang efektif, berkelanjutan, dan selaras dengan ekosistem pesisir. Menurut dia, perlindungan kawasan YIA memerlukan pendekatan berlapis (multi-layer defense).
“Di zona laut, groin dibangun menjorok ke arah laut untuk mengendalikan arus sejajar pantai dan pergerakan sedimen sehingga mengurangi abrasi dan melemahkan energi gelombang. Sementara itu, pantai berpasir di darat berperan sebagai peredam alami awal energi gelombang ekstrem,” paparnya.
Oleh karenanya, lanjut dia, perlindungan bandara dapat diperkuat melalui pembangunan tanggul di belakang zona vegetasi sebagai struktur hibrida pelindung terakhir. Tanggul ini juga dapat dirancang multifungsi sebagai jalan untuk meningkatkan efisiensi ruang dan konektivitas wilayah.
Baca juga:
BRIN Pimpin Tim Riset Internasional Jadikan Pisang Liar Sumber Pangan Global
Tanggul Vegetasi dan Benteng Alami
BRIN merekomendasikan elemen alam seperti gumuk pasir, vegetasi pantai, sand nourishment, dan terumbu karang. Vegetasi pantai dinilai menjadi komponen penting dalam NbS.
Cemara udang (Casuarina equisetifolia L.) dan pandan laut (Pandanus tectorius) direkomendasikan sebagai sabuk hijau pesisir yang berfungsi memperlambat aliran air, menahan sedimen, serta meredam sisa energi gelombang tsunami.
“Melalui riset ini, penerapan NbS diharapkan dapat menjadi solusi mitigasi bencana pesisir yang melindungi infrastruktur bandara, memberi manfaat bagi masyarakat sekitar, serta menjaga keberlanjutan ekosistem pesisir,” tandas peneliti BRIN itu, dilansir Antara. (*)