Rencana Penutupan Prodi, BRIN Tegaskan Pentingnya Transformasi Kurikulum

Dwi AstariniDwi Astarini - Selasa, 28 April 2026
Rencana Penutupan Prodi, BRIN Tegaskan Pentingnya Transformasi Kurikulum

Rencana Penutupan Prodi, BRIN Tegaskan Pentingnya Transformasi Kurikulum.(foto: ANTARA)

Ukuran text:
14
Dengarkan Berita:

MERAHPUTIH.COM — KEMENTERIAN Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi (Kemdiktisaintek) mengungkap rencana menutup program studi (prodi) yang dilihat tidak sesuai dengan kebutuhan indsutri. Rencana itu mendapat tanggapan dari Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN), yang menyebut rencana itu harus disertai transformasi kurikulum.

“Keterampilan yang kita ajarkan hari ini kepada mahasiswa ketika mereka masuk kuliah, lima tahun kemudian yang masih relevan mungkin hanya sekitar 60 persen. Artinya, saat lulus, ilmunya sudah tidak relevan lagi. Jadi, kalau tidak ada transformasi kurikulum pendidikan tinggi, termasuk produk-produk pembelajaran yang relevan, mahasiswa akan sulit beradaptasi dengan lingkungan dan industri baru," kata Kepala BRIN Arif Satria, dikuti ANTARA, Selasa (28/4).

Arif mengatakan gagasan Mendiktisaintek Brian Yuliarto sebenarnya bagian dari upaya menyelamatkan pendidikan tinggi di Indonesia agar tidak tertinggal dari kecepatan perkembangan industri. Menurutnya, jika tidak bisa menyediakan sumber daya manusia yang andal, Indonesia bisa tertinggal.

Saat ini, kata Arif, universitas tengah mengembangkan sistem micro-credential, yakni bentuk pengakuan pembelajaran dalam skala kecil (modular) yang fokus pada keterampilan spesifik dan kebutuhan praktis industri dan biasanya dapat ditempuh dalam waktu singkat, mulai dari beberapa minggu hingga beberapa bulan.

Baca juga:

Komisi X Kritik Rencana Kemendiktisaintek, Lebih Tepat Transformasi Bukan Tutup Massal Prodi



"Sekarang yang berkembang yakni micro-credential. Ini penting agar mahasiswa tetap up to date terhadap perkembangan ilmu dan teori terkini yang relevan dengan kebutuhan industri, terutama perusahaan multinasional. Selama ini, pendidikan tinggi sering kali lambat merespons kebutuhan skill mereka, oleh karena itu, mereka membuat program sendiri berupa micro-credential," jelasnya.

Berbeda dengan gelar sarjana yang luas dan memakan waktu empat tahun, micro-credential lebih tajam dan cepat karena menargetkan skill tertentu yang langsung bisa digunakan di dunia kerja. Bagi banyak orang yang sudah bekerja, sertifikasi ini bahkan sering kali lebih bernilai ketimbang ijazah. “Ada banyak survei yang menunjukkan bagaimana respons mahasiswa dan industri terhadap kebutuhan micro-credential ini. Intinya, industri berkembang sangat cepat dan dunia pendidikan harus mampu beradaptasi dengan cepat serta memiliki fleksibilitas tinggi," ucap Arif.

Lebih daripada itu, hal yang paling penting menurut Arif yakni pendidikan tinggi harus membentuk mentalitas pembelajar agar kampus bisa mencetak generasi yang adaptif dalam menghadapi dunia dengan perubahan yang cepat dan tidak pasti.

"Kalau seseorang memiliki mentalitas pembelajar, dalam kondisi apa pun, dia akan terus belajar dan beradaptasi. Misalnya, seseorang belajar di politeknik dengan fasilitas mesin motor 3 tak. Ketika lulus, ternyata industri sudah tidak lagi memproduksi motor 3 tak. Kalau dia tidak punya mentalitas belajar, dia akan kesulitan beradaptasi," ujar Arif Satria.(*)

Baca juga:

Prodi Perguruan Tinggi Sepi Peminat Terancam Gulung Tikar, DPR RI Ingatkan Kampus Bukan Sekadar Pemasok Tenaga Kerja

#Pendidikan #BRIN #Kemendikti Saintek
Bagikan
Ditulis Oleh

Dwi Astarini

Editor, jurnalis, dan profesional komunikasi bilingual (Indonesia–Inggris) dengan pengalaman lebih dari 15 tahun di industri media, jurnalistik, dan pengembangan konten. Telah bekerja di berbagai media nasional dan proyek editorial, membantu menghasilkan, menyunting, serta mengelola konten yang informatif, akurat, dan relevan bagi publik. Lulusan Sastra Inggris Universitas Udayana yang kini berfokus pada penyuntingan berita dan feature, pengembangan narasi, serta memastikan setiap konten memenuhi standar jurnalistik yang tinggi. Perjalanan karier meliputi hampir satu dekade di Media Indonesia dan terlibat sebagai editor freelance untuk berbagai publikasi, termasuk proyek buku foto jurnalistik bersama Galeri Foto Jurnalistik ANTARA (GFJA).

Berita Terkait

Indonesia
Pemerintah Targetkan Revitalisasi 71.744 Sekolah dari TK hingga SMA
Hingga saat ini, pemerintah telah menyelesaikan sekitar 70 persen dari target awal revitalisasi 11.744 sekolah.
Dwi Astarini - Jumat, 12 Juni 2026
Pemerintah Targetkan Revitalisasi 71.744 Sekolah dari TK hingga SMA
Indonesia
KPK Ungkap 28 Persen Penerimaan Murid Baru Masih Diwarnai Pungli
KPK mengungkapkan bahwa penerimaan murid baru di sekolah masih diwarnai pungli. Temuan ini pun cukup miris.
Soffi Amira - Minggu, 07 Juni 2026
KPK Ungkap 28 Persen Penerimaan Murid Baru Masih Diwarnai Pungli
Indonesia
Daripada Wajibkan Belajar Bahasa Prancis, DPR Minta Prabowo Fokus Benahi Persoalan Pendidikan Tanah Air
Kebijakan tersebut masih perlu dikaji termasuk kajian terhadap perangkat guru yang akan mengajar.
Dwi Astarini - Selasa, 02 Juni 2026
Daripada Wajibkan Belajar Bahasa Prancis, DPR Minta Prabowo Fokus Benahi Persoalan Pendidikan Tanah Air
Indonesia
BRIN Minta Maaf Unggahan Garuda Pancasila tak Sesuai Aturan
BRIN menegaskan kejadian itu menjadi bahan evaluasi pihaknya, agar hal tersebut tidak terulang kembali di kemudian hari.
Dwi Astarini - Selasa, 02 Juni 2026
BRIN Minta Maaf Unggahan Garuda Pancasila tak Sesuai Aturan
Indonesia
Mendiktisaintek: 122 Prodi Ditutup pada 2026, Mayoritas Bertransformasi Sesuai Kebutuhan Industri
Mendiktisaintek menjelaskan penutupan 122 program studi pada 2026 dilakukan atas usulan kampus. Mayoritas bertransformasi menjadi lebih relevan dengan industri dan teknologi.
Ananda Dimas Prasetya - Selasa, 02 Juni 2026
Mendiktisaintek: 122 Prodi Ditutup pada 2026, Mayoritas Bertransformasi Sesuai Kebutuhan Industri
Indonesia
Perhimpunan Guru Sanggah Keinginan Presiden Prabowo Jadikan Bahasa Prancis jadi Mata Pelajaran di Seluruh Sekolah, Tenaga Pengajar belum Siap
Hal itu justru akan membuat para guru dan siswa terkaget-kaget sekaligus heran, serta akan merasa sangat terbebani.
Dwi Astarini - Sabtu, 30 Mei 2026
Perhimpunan Guru Sanggah Keinginan Presiden Prabowo Jadikan  Bahasa Prancis jadi Mata Pelajaran di Seluruh Sekolah, Tenaga Pengajar belum Siap
Indonesia
Literasi dan Numerasi Sejak Dini Kunci Hadapi Era Modern
Anak-anak yang dekat dengan buku dinilai akan lebih berani bermimpi, mampu berpikir kritis, serta memiliki rasa percaya diri dalam menghadapi tantangan zaman.
Dwi Astarini - Jumat, 29 Mei 2026
Literasi dan Numerasi Sejak Dini Kunci Hadapi Era Modern
Indonesia
Tahun Lalu Portugis, Prabowo Kini Instruksikan Semua Sekolah Belajar Bahasa Prancis
Presiden Prabowo Subianto menegaskan arah baru kebijakan pendidikan Indonesia dengan menginstruksikan agar bahasa Prancis dipelajari di seluruh jenjang sekolah.
Wisnu Cipto - Jumat, 29 Mei 2026
Tahun Lalu Portugis, Prabowo Kini Instruksikan Semua Sekolah Belajar Bahasa Prancis
Indonesia
Pemalsuan Riset di Forum Ilmiah Internasional Pelanggaran Berat, DPR Desak Kemdiktisaintek Usut Tuntas
Wakil Ketua Komisi X DPR RI, Lalu Hadrian Irfani juga meminta kasus ini dibawa ke ranah pidana jika ada bukti otentik pemalsuan dokumen atau penipuan materiil.
Frengky Aruan - Kamis, 28 Mei 2026
Pemalsuan Riset di Forum Ilmiah Internasional Pelanggaran Berat, DPR Desak Kemdiktisaintek Usut Tuntas
Indonesia
Nama RI Tercoreng di Dunia Akademik, DPR Desak Investigasi Dugaan Pemalsuan Riset WNI di Denmark
Komisi X DPR menyoroti dugaan pemalsuan riset WNI di konferensi ISPPD 2026 Denmark. Kronologi kasus menunjukkan sorotan publik sejak 21 Mei, DPR minta investigasi objektif.
Wisnu Cipto - Kamis, 28 Mei 2026
Nama RI Tercoreng di Dunia Akademik, DPR Desak Investigasi Dugaan Pemalsuan Riset WNI di Denmark
Bagikan